Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
100 views

Fenomena Doom Spending: Saat Belanja Jadi Pelarian dari Kecemasan Hidup

Oleh: Ummu Firly 

SAAT membuka gadget, kita sering tanpa sadar membuka aplikasi belanja. Awalnya hanya iseng sekedar untuk “melihat-lihat,” tak ada kebutuhan mendesak. Namun, setelah beberapa menit keranjang terisi, dan tombol checkout terasa begitu menggoda.

Aneh rasanya, bukan karena barangnya penting, tetapi karena ada perasaan lega yang muncul sesaat setelahnya. Seolah-olah, ada beban yang sedikit terangkat, meskipun kita sendiri tidak sepenuhnya tahu beban apa yang sedang kita rasakan.

Ternyata, dalam psikologi finansial dan perilaku konsumtif, fenomena itu populer dengan istilah  doom spending, yaitu fenomena yang merujuk pada kebiasaan berbelanja sebagai cara untuk meredakan stres, kecemasan, tekanan hidup dan kelelahan emosional. Di kalangan generasi muda, istilah ini semakin sering diperbincangkan, seiring dengan meningkatnya tekanan hidup di tengah ketidakpastian ekonomi dan derasnya arus informasi digital.

Laporan Kompas melalui kanal Klasika (2024) mencatat bahwa doom spending dipicu oleh kombinasi tekanan ekonomi, pengaruh media sosial, serta kemudahan akses belanja digital termasuk layanan ribawi Paylater. Bahkan, sebagian generasi muda mengaku kesulitan menabung secara konsisten, karena konsumsi sering kali menjadi pelarian dari tekanan yang mereka rasakan.

…Doom Spending adalah fenomena berbelanja sebagai cara untuk meredakan stres, kecemasan, dan tekanan hidup…

Dalam batas tertentu, kebiasaan ini bisa dipahami sebagai respons manusiawi. Ketika hidup terasa berat, orang akan mencari cara tercepat untuk merasa lebih baik. Dan di era digital hari ini, belanja menjadi salah satu jalan yang paling mudah diakses. Hanya dengan beberapa sentuhan jari, seseorang bisa mendapatkan sensasi “hadiah” untuk dirinya sendiri.

Namun, di balik rasa lega sesaat itu, ada pertanyaan yang jarang kita ajukan: apakah ini benar-benar membantu, atau justru menunda masalah yang lebih dalam?

Tidak sedikit yang kemudian menyadari bahwa kebiasaan ini justru membawa konsekuensi lain. Tagihan membengkak, tabungan menipis, dan rasa bersalah perlahan muncul. Alih-alih menyelesaikan tekanan, doom spending justru memperpanjang siklus kecemasan, mencari pelarian, merasa lega sesaat, lalu kembali tertekan karena dampaknya.

Fenomena ini tampaknya tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh dalam lingkungan yang begitu akrab dengan konsumsi. Kita hidup di tengah budaya yang secara halus mendorong kita untuk membeli, mencoba, dan memiliki lebih banyak. Iklan tidak lagi sekadar menawarkan produk, tetapi juga menjanjikan perasaan: bahagia, percaya diri, bahkan merasa “cukup”.

Di sisi lain, media sosial memperkuat dorongan tersebut. Kita terus-menerus melihat orang lain membagikan pengalaman, gaya hidup, dan pencapaian mereka. Tanpa disadari, muncul standar-standar baru yang sering kali tidak realistis. Dalam kondisi seperti ini, belanja bisa berubah fungsi: dari memenuhi kebutuhan, menjadi alat untuk mengejar perasaan agar tidak tertinggal.

Barangkali, yang kita hadapi bukan sekadar kebiasaan belanja yang berlebihan, tetapi tanda bahwa kita semakin sulit berdiam dengan diri sendiri tanpa distraksi. Ketika ruang untuk merasa, merenung, dan memproses emosi semakin sempit, maka pelarian instan menjadi pilihan yang tampak paling mudah, dan belanja adalah salah satu bentuknya yang paling “diterima”.

Padahal, jika direnungkan lebih jauh, kebutuhan manusia tidak hanya bersifat material. Ada kebutuhan akan ketenangan, makna, dan rasa cukup yang tidak bisa dipenuhi dengan barang. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka wajar jika seseorang terus mencari, meskipun tidak selalu tahu apa yang sebenarnya ia cari.

Dalam situasi seperti ini, yang terjadi bukan sekadar kekeliruan dalam mengelola keuangan, tetapi pergeseran cara kita memahami kebutuhan itu sendiri. Batas antara “butuh” dan “ingin” menjadi semakin kabur, karena keputusan tidak lagi sepenuhnya rasional, melainkan dipengaruhi oleh kondisi emosional yang tidak selalu disadari. Akibatnya, konsumsi perlahan berubah dari aktivitas memenuhi keperluan menjadi mekanisme untuk mengisi kekosongan. Dan ketika kekosongan itu tidak pernah benar-benar tersentuh, siklus mencari dan merasa kurang pun terus berulang tanpa henti.

… Islam mengajarkan keseimbangan dalam konsumsi, dengan menempatkan kebutuhan dan keinginan secara proporsional…

Dalam perspektif Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki dimensi ruhiyah, bukan sekadar fisik dan materi. Karena itu, ketenangan tidak semata-mata datang dari apa yang dimiliki, tetapi dari bagaimana hati menemukan makna dan keterhubungan yang lebih dalam. Al-Qur’an mengingatkan bahwa ketenangan hati tidak terletak pada banyaknya kepemilikan, melainkan pada kedekatan dengan nilai yang memberi arah hidup.

Di saat yang sama, Islam juga mengajarkan keseimbangan dalam konsumsi. Bukan melarang menikmati kehidupan, tetapi menempatkan kebutuhan dan keinginan secara proporsional. Prinsip ini menjadi penting, terutama di tengah arus konsumsi yang begitu kuat seperti hari ini.

Namun, mengubah kebiasaan tentu tidak bisa dilakukan secara instan. Doom spending bukan sekadar soal disiplin finansial, tetapi juga soal bagaimana seseorang mengelola emosi dan menemukan cara yang lebih sehat untuk menghadapi tekanan hidup. Di sinilah peran lingkungan menjadi penting. Keluarga, teman, dan komunitas yang menyediakan ruang aman untuk berbagi, bukan sekadar berlomba menunjukkan apa yang dimiliki.

Barangkali, langkah kecil yang bisa kita mulai adalah dengan lebih jujur pada diri sendiri. Ketika muncul keinginan untuk membeli sesuatu, kita bisa bertanya: apakah ini benar-benar kebutuhan, atau hanya cara untuk mengalihkan perasaan? Pertanyaan sederhana ini mungkin tidak selalu mudah dijawab, tetapi bisa menjadi awal untuk memahami diri dengan lebih baik. [voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Parenting lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Lima Tahun Mangkrak, Masjid di Pelosok ini Mengenaskan. Ayo Bantu.!!

Lima Tahun Mangkrak, Masjid di Pelosok ini Mengenaskan. Ayo Bantu.!!

Nasib masjid di Kampung Cilumbu ini sungguh mengenaskan. Lima tahun mangkrak, kini nyaris tak berbentuk masjid, dipenuhi rumput liar, berlumut, dan menghitam terpapar panas dan hujan....

Palestina Masih Berduka, Ayo Ulurkan Tangan Bantu Mereka

Palestina Masih Berduka, Ayo Ulurkan Tangan Bantu Mereka

Sahabat, Ulurtangan mari kirimkan dukungan terbaikmu untuk warga Palestina di Gaza demi menguatkan mereka menghadapi situasi mencekam ini. Mari dukung mereka dengan berdonasi dengan cara:...

Open Donasi Wakaf Pembangunan Rumah Qur'an & TK Islam Terpadu An Najjah di Jonggol

Open Donasi Wakaf Pembangunan Rumah Qur'an & TK Islam Terpadu An Najjah di Jonggol

Saat ini, Ulurtangan bersama Yayasan An Najjahtul Islam Jonggol sedang merintis pembangunan Rumah Qur’an dan Taman Kanak-kanak Islam Terpadu (TKIT) An Najjah dan Gedung Majelis Taklim di Jonggol,...

Ulurtangan Bersama PDUI Kota Bekasi Safari Wakaf Qur'an dan Tebar Sembako ke Pelosok Negeri

Ulurtangan Bersama PDUI Kota Bekasi Safari Wakaf Qur'an dan Tebar Sembako ke Pelosok Negeri

Mari bergabung dalam memperkuat jaringan kebaikan di pelosok negeri dengan Wakaf Al-Qur'an. Jangan ragu untuk menjadi bagian dari kebaikan ini. Abadikan harta dengan wakaf Al-Qur'an dan saksikan...

Bantu Naura, Balita Hebat Sembuh Dari Tumor Pembuluh Darah

Bantu Naura, Balita Hebat Sembuh Dari Tumor Pembuluh Darah

Hidup Naura Salsabila dipenuhi dengan rintangan yang sangat berat. Meskipun baru berusia sepuluh bulan, bayi yang imut ini harus menghadapi penyakit yang dahsyat, yaitu tumor pembuluh darah berukuran...

Latest News

MUI

Sedekah Al Quran

Sedekah Air untuk Pondok Pesantren

Must Read!
X