Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
6.314 views

New Normal Life, Covid19 Diperlakukan sebagaimana Istri?

 

Oleh: Diana Rahayu

Dunia belum beranjak membaik. Badannya masih nampak demam dan menggigil. Nafasnya sesak tersengal, berjuang untuk tetap hidup demi semua makhluk yang ada di dalamnya. Yah, sudah hampir satu kuartal dunia terinfeksi mikroorganisme parasit yang mematikan. Awal cerita invasi virus yang menyebar ke penjuru dunia, berasal hanya dari satu kota di salah satu wilayah dunia, pada akhir tahun lalu. Eating habit gila mereka yang suka mengkonsumsi semua spesies binatang liar dan menjijikkan, bahkan memakannya secara hidup-hidup inilah kemungkinan asal virus yang mendunia ini. Efeknya, alam mengirim balance of results, ketetapan atas keseimbangan dari hasil perbuatan manusia.

Ibarat “pasukan elit” Sang Maha Kuasa, mikroorganisme ini hanya dengan waktu sekedip mata mampu merontokan pertahanan manusia di seluruh penjuru dunia. Dia mampu menumbangkan  lebih 7,2 juta makhluk sempurna bernama manusia. Dan membunuh hampir setengah juta jiwa dari mereka. Tengok saja data dari Worldometers yang menyebutkan 7.215.514 kasus positif terinfeksi virus ini, dengan 409,073 orang meninggal dunia. (kompas.com 9/6/2020)

Tragisnya di Indonesia, invasi virus ini telah dengan sukses merangsek ke hampir seluruh propinsi di Indonesia. Strategi tempur virus ini sukses membuat penguasa negeri ini mati gaya. Bejibun aksi tangkisan untuk si virus tak mampu menghentikan ”invasi” nya. Hemmm, benar-benar pasukan super elit. Bagaimana tidak, dia mampu menumbangkan manusia dengan hitungan di atas 300-500 hingga 900 orang terinfeksi positif dan puluhan nyawa melayang tiap harinya. So, seberapa hebat “pasukan elit”Covid19 menginfeksi manusia, hingga tak mampu dilumpuhkan? Virus ini membuat para pemangku kebijakan mengibarkan bendera putih untuk berdamai dan menganggapnya like your wife, hingga pada ujung kepasrahan memberlakukan new normal life dalam waktu tak terbatas sampai vaksin.

Benarkah berdamai dengan Covid19 dengan new normal life, adalah pilihan normal untuk menyelesaikan pandemi? Pertama, perhatikan karakter virus ini. Oke secara sederhana kita bisa gambarkan bahwa karakter virus ini sebenarnya hampir mirip dengan virus flu. Hanya saja “dia” memunyai tingkat keunikan yang jauh lebih serius dari sekadar influenza. Saat dia masuk ke dalam sel tubuh kita lewat droplet yang terkontaminasi virus yang telah terhirup oleh kita, atau tersentuh tangan dan bagian tubuh kita, sehingga memungkinkannya berpindah masuk melalui selaput lendir mulut, hidung atau mata, saat itulah dia mulai membajak tubuh kita. 

Ya, dia membajak sistem imunitas kita. Virus ini mendirikan “pabrik virus” yang tak henti memuntahkan pasukan baru virus untuk menyerang lebih banyak sel. Di titik ini, terjadi kekacauan sistem kekebalan tubuh yang bereaksi secara berlebihan terhadap virus. Peradangan yang meluas di seluruh tubuh dan tak terkendalinya sistem kekebalan tubuh dalam menghadapi kerusakan sel akan mengantarkan pada kegagalan multi-organ yang bisa membunuh manusia.

Juru bicara WHO Carla Drysdale menyatakan bahwa Covid19  adalah penyakit baru. Para ahli membutuhkan lebih banyak data epidemiologis untuk menentukan apakah seseorang telah kebal setelah infeksi. Tak bisa dibandingkan dengan influenza, Covid19 adalah virus unik dengan karakteristik unik. Dr Nathalie MacDermott, dari King's College London pun tak mampu menelisik bagaimana canggihnya Covid19 memicu ketidakseimbangan respon kekebalan tubuh, mengacaukannya sekaligus membuat adanya banyak peradangan, dan menjadikannya sebagai mesin pembunuh yang tak terkendali pada tingkat kegagalan multi-organ.

So, ajakan hidup berdamai dengan Covid19 dengan new normal life sebagai opsi untuk menghadapi kemelut pandemi yang tak kunjung berhenti bukanlah opsi yang normal. Bagaimana mungkin hal ini bisa diterima akal yang normal? Rakyat diminta dancing and sleeping with deadly virus, sementara vaksin belum ditemukan, dalam jangka waktu yang tak bisa diprediksi lagi. Ditambah tiadanya keseriusan negara dalam mengerahkan para ilmuwan untuk menemukan vaksin virus tersebut, sungguh ini adalah upaya 'pembantaian' terhadap rakyat sendiri. Miris!

Wajar saja jika Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mempertanyakan tentang nihilnya kebijakan negara dalam mendukung anggaran kemenristek. Alih-alih menambah anggaran dan memberi perintah kepada Kemenristek dan Kemenkes bersama lembaga lainnya untuk berkoordinasi dan fokus melakukan riset penemuan vaksin Covid19, yang terjadi malah mereka memotong anggaran di Kemenristekdikti sebesar Rp 40 Triliun melalui Perpres 54/2020. Akibatnya jelas, keputusan ini akan memperkecil ruang realokasi internal Kemenristek untuk mendukung riset penemuan vaksin karena hanya tersisa anggaran Rp 2 Triliun saja.  

Kosongnya dukungan pemerintah dalam riset penemuan vaksin, ditumpangi pula lontaran diksi serba kontroversi para pejabat negara. Dilanjut dengan kebijakan bertabrakan antar menteri terkait relaksasi PSBB, dan endingnya ditutup dengan keputusan new normal di tengah miskinnya edukasi yang memadai dan bertanggungjawab terkait Covid19. Ini semua ibarat mengantarkan rakyat pada jurang kematian. Negara membiarkan rakyatnya berjuang sendiri di tengah hutan ganas tanpa peralatan, perbekalan dan perlindungan, terutama para nakes yang harus siaga di garda terdepan peperangan melawan Covid19 dengan minimnya alat tempur yang tersedia. Hal tersebut menunjukkan secara telanjang wujud lepas tangan penguasa terhadap rakyat.

Robeknya fungsi pelayan dan tujuan profit oriented secara ekonomi di setiap pelayanan bagi rakyat, adalah watak asli sistem Kapitalis. Tak aneh jika di balik seruan berdamai dengan covid19 dan kebijakan new normal tercium aroma penyelamatan aset para kapitalis yang tak siap melarat. Roda ekonomi harus terus berputar, hanya supaya kaum papa tetap mempunyai uang sebatas untuk bisa membeli produk para kapitalis. Dagangan dijaga agar tidak basi dan mereka tak merugi di tengah pandemi, meski harus menenggelamkan banyak nyawa manusia.

Lepasnya peran negara dalam menyelamatkan rakyat pada sistem kapitalis sungguh berbanding terbalik dengan sistem Islam. Penguasa sebagai junnah (perisai) rakyat, yang menjaga setiap nyawa rakyat dengan penjagaan terbaik, terwujud sempurna dalam sistem Islam semata karena keimanan kepada Allah swt. Negara akan bersungguh-sungguh menghilangkan bahaya dari rakyat dan menjauhkannya dari kesengsaraan, karena menyadari adanya pertanggungjawaban di hadapan Allah swt.

Bergegas dan fokus mengambil keputusan penyelamatan umat tanpa memandang untung rugi adalah karakter yang lekat pada penguasa mukmin. Mereka akan mengerahkan sumber daya yang ada untuk menemukan vaksin, melakukan tes pada seluruh rakyat di wilayah terjangkit dan memisahkan yang sehat dari yang sakit. Tak lupa, penyiapan kebutuhan medis baik dokter dan sarananya dengan maksimal juga terus dilakukan. Pemimpin juga memenuhi kebutuhan pokok rakyat di wilayah yang dikarantina untuk sehingga rakyat tenang tinggal di dalam rumah sebagai upaya menghentikan penyebaran penyakit ke wilayah lain.

Bukan itu saja, upaya mobilisasi bantuan dari wilayah lain yang mampu juga dilakukan serta keteladanan sempurna para pejabat yang mengambil sikap menyamakan kondisinya dengan rakyat yang sedang kesulitan. Itu semua adalah potret kepemimpinan terbaik yang tersaji dalam panggung sejarah kekhilafahan Islam. Nyatanya, new normal life yang mengantarkan kehidupan normal rakyat dalam kesejahteraan hakiki hanya mewujud dalam sistem terbaik dari Dzat Yang Mahabaik yaitu sistem Islam. Wallahu’alam. (rf/voa-islam.com)

Ilustrasi: Google

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Liberalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Aktivis Masjid Butuh Kaki Palsu dan Gerobak untuk Hidup Mandiri, Ayo Bantu..!!

Aktivis Masjid Butuh Kaki Palsu dan Gerobak untuk Hidup Mandiri, Ayo Bantu..!!

Bermodal kaki palsu Abu Rahman keliling Kota Solo menjajakan minuman 'es kapal' untuk menafkahi keluarga. Kini ia tak bisa bekerja lagi karena kaki palsunya jebol tak bisa diperbaiki.Ayo Bantu.!!...

Daerah Rawan Pemurtadan Garut ini Kesulitan Air. Ayo Wakaf Mata Air.!!

Daerah Rawan Pemurtadan Garut ini Kesulitan Air. Ayo Wakaf Mata Air.!!

Selain jadi target pemurtadan misionaris, warga kesulitan air bersih untuk wudhu, mandi, minum, memasak, dll. Diperlukan dana 11 juta rupiah untuk pipanisasi penghubung sumber mata air ke masjid,...

Pembangunan Terhenti, Mushalla di Pelosok Sambong ini Terbengkalai. Ayo Bantu.!!

Pembangunan Terhenti, Mushalla di Pelosok Sambong ini Terbengkalai. Ayo Bantu.!!

Kondisi Mushalla Khoirussalam Sambong ini semrawut karena pembangunan berhenti terkendala dana. Dibutuhkan dana 15 juta rupiah untuk menuntaskan mushalla hingga layak dan nyaman. ...

Ingin Jadi Guru dan Penghafal Al-Qur’an, Yatim Nurlia  Butuh Biaya Sekolah, Ayo Bantu!!

Ingin Jadi Guru dan Penghafal Al-Qur’an, Yatim Nurlia Butuh Biaya Sekolah, Ayo Bantu!!

Yatim berprestasi ini putus sekolah. Impian pendidikan pesantren untuk mewujudkan cita-cita menjadi penghafal Al-Qur’an dan guru agama Islam terkubur oleh kendala biaya....

Kisah Pilu Mbah Siti, Sang Ahli Ibadah Hidup di Bilik Reyot Bantaran Sungai. Ayo Bantu.!!

Kisah Pilu Mbah Siti, Sang Ahli Ibadah Hidup di Bilik Reyot Bantaran Sungai. Ayo Bantu.!!

Nenek renta ahli ibadah ini hidup seorang diri di bilik reyot Bengawan Solo. Bila hujan seisi rumah kebocoran air. Di malam hari, ia menggigil kedinginan diserang angin malam karena dindingnya...

Latest News
Suami Menyusu ke Istrinya, Ini Pandangan Syaikh Bin Bazz!

Suami Menyusu ke Istrinya, Ini Pandangan Syaikh Bin Bazz!

Jum'at, 22 Jan 2021 17:08

Anggota DPR Ingatkan Penanggungjawab Penanganan Covid-19 Ada Dipundak Presiden Jokowi

Anggota DPR Ingatkan Penanggungjawab Penanganan Covid-19 Ada Dipundak Presiden Jokowi

Jum'at, 22 Jan 2021 12:38

Banjir Kalsel Akibat Kerusakan Lingkungan, Netty: Pemerintah Jangan Lepas Tangan!

Banjir Kalsel Akibat Kerusakan Lingkungan, Netty: Pemerintah Jangan Lepas Tangan!

Jum'at, 22 Jan 2021 08:43

Perintah Halal dan Tayyib Tidak Hanya Untuk Makanan Saja

Perintah Halal dan Tayyib Tidak Hanya Untuk Makanan Saja

Kamis, 21 Jan 2021 23:55

Studi: Penggunaan Masker Bantu Cegah Penularan Covid-19

Studi: Penggunaan Masker Bantu Cegah Penularan Covid-19

Kamis, 21 Jan 2021 22:05

Benyamin Netanyahu Desak Presiden Amerika Joe Biden Perkuat Aliansi AS-Israel

Benyamin Netanyahu Desak Presiden Amerika Joe Biden Perkuat Aliansi AS-Israel

Kamis, 21 Jan 2021 21:51

Serangan Bom Jibaku Kembar Di Baghdad Irak Tewaskan 28 Orang

Serangan Bom Jibaku Kembar Di Baghdad Irak Tewaskan 28 Orang

Kamis, 21 Jan 2021 20:54

Pandemi Covid-19 Belum Mereda, MP Persis Usulkan Muktamar Diundur Lagi

Pandemi Covid-19 Belum Mereda, MP Persis Usulkan Muktamar Diundur Lagi

Kamis, 21 Jan 2021 19:00

Menggantungkan Harapan dan Nasib

Menggantungkan Harapan dan Nasib

Kamis, 21 Jan 2021 16:26

Perpres Berbahaya, Mau Dibawa ke mana Negara?

Perpres Berbahaya, Mau Dibawa ke mana Negara?

Kamis, 21 Jan 2021 16:20

Seorang Tentara AS Ditangkap Karena Diduga Membantu Rencana Serangan Islamic State

Seorang Tentara AS Ditangkap Karena Diduga Membantu Rencana Serangan Islamic State

Kamis, 21 Jan 2021 15:15

Apakah Shalat Jum’at Wajib Bagi Wanita?

Apakah Shalat Jum’at Wajib Bagi Wanita?

Kamis, 21 Jan 2021 14:03

Legislator Berharap Komjen Listyo Sigit Bawa Perubahan di Tubuh Polri

Legislator Berharap Komjen Listyo Sigit Bawa Perubahan di Tubuh Polri

Kamis, 21 Jan 2021 12:52

Jadi Presiden AS Ke-46, Joe Biden Janjikan 'Hari Baru' Untuk Amerika Serikat

Jadi Presiden AS Ke-46, Joe Biden Janjikan 'Hari Baru' Untuk Amerika Serikat

Kamis, 21 Jan 2021 12:42

Inilah Harapan Partai Gelora kepada Listyo Sigit sebagai Kapolri Baru

Inilah Harapan Partai Gelora kepada Listyo Sigit sebagai Kapolri Baru

Kamis, 21 Jan 2021 12:32

DKI Punya Sekda Baru, Fahira Idris: Bantu Gubernur Kuatkan Koordinasi dan Kolaborasi Hadapi Pandemi

DKI Punya Sekda Baru, Fahira Idris: Bantu Gubernur Kuatkan Koordinasi dan Kolaborasi Hadapi Pandemi

Kamis, 21 Jan 2021 12:14

Ketua MUI Bidang Fatwa Maudhuiyah Terima Doktor Honoris Causa dari UIN Semarang

Ketua MUI Bidang Fatwa Maudhuiyah Terima Doktor Honoris Causa dari UIN Semarang

Kamis, 21 Jan 2021 11:59

Wakil Ketua FPKS Pertanyakan Motif Presiden Terbitkan Perpres No. 7 Tahun 2021

Wakil Ketua FPKS Pertanyakan Motif Presiden Terbitkan Perpres No. 7 Tahun 2021

Kamis, 21 Jan 2021 11:46

Upaya Cordova Indonesia Bertahan di Tengah Pandemi

Upaya Cordova Indonesia Bertahan di Tengah Pandemi

Kamis, 21 Jan 2021 11:34

Nasdem Bantu Korban Bencana Sulbar

Nasdem Bantu Korban Bencana Sulbar

Kamis, 21 Jan 2021 11:29


MUI

Must Read!
X