Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
6.424 views

Drama MRT dan ''Undertable Transaction''

Tony Rosyid

(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

Terbongkar! Misteri MRT hari Sabtu, 13 Juli 2019 kini mulai bocor. Pertemuan Prabowo-Jokowi tak hanya membuat kecewa dan marah para pendukung 02, tapi juga membuat gusar koalis pendukung 01.

"Gawat, bisa kurang nih jatah kursi gue". Begitulah ilustrasi untuk menggambarkan jalan pikiran para pimpinan partai. Betapa kehadiran Prabowo seperti tamu tak diundang bagi koalisi istana. Sebab, deal Prabowo-Jokowi pasti akan mengurangi jatah kursi mereka.

Apalagi, acara pertemuan itu "menurut kabar yang beredar" tak melibatkan seluruh tim koalisi. Bahkan sebagian besar mereka gak dikasih tahu. Hanya ada Budi Gunawan (BG) dan orang PDIP yang menemani dua mantan capres ini bertemu. BG selama ini menjadi mediator dan komunikator yang aktif, efektif dan andal antara Prabowo-Jokowi.

Kabarnya, pertemuan Prabowo-Jokowi atas design BG dan PDIP. Tim lain, termasuk Luhut Binsar Panjaitan (LBP), Wiranto, Moeldoko dan ketua-ketua partai koalisi tak dilibatkan. Jika kabar ini benar, maka ketidakterlibatan sejumlah tokoh dan ketua-ketua partai pendukung Jokowi memunculkan kecurigaan bahwa telah ada dua faksi di dalam tubuh koalisi Jokowi. Faksi yang setuju rekonsiliasi, dan faksi yang tak setuju rekonsiliasi.

Pertemuan di MRT Lebak Bulus sepertinya merupakan inisiatif dan kerja dari faksi yang setuju adanya rekonsiliasi. Termasuk di dalamnya adalah BG dan PDIP. Selain ketua TKN, Erick Thohir, yang ikut hadir dalam pertemuan itu.

Yang tak setuju rekonsiliasi jelas argumennya. Tak ingin jatahnya berkurang. Sudah menang, ngapain ngajak rekonsiliasi? Ngapain juga bagi-bagi kursi? Apa untungnya rekonsiliasi dengan Prabowo?

Sementara, terhadap faksi yang mendukung rekonsiliasi, tentu jadi tanda tanya: apa agenda di balik ini semua?

Ada beberapa kemungkinan mengapa ada upaya begitu kuat, bahkan seolah-seolah sangat mendesak untuk dilakukan rekonsiliasi. Kemungkinan pertama, demi stabilitas. Pemerintah tak ingin diganggu. Stabilitas politik dibutuhkan untuk bekerja lebih aman dan nyaman kedepan.

Kemungkinan kedua, terkait dengan hubungan dan urusan luar negeri. Adanya penolakan rakyat (pendukung Prabowo) terhadap legalitas Jokowi sebagi presiden terpilih membuat pihak luar negeri takut berinvestasi. Tak ada jaminan keamanan bagi investasi mereka karena dibayangi situasi yang sewaktu-waktu bisa terjadi chaos. Ini juga tak kondusif buat pertumbuhan ekonomi Indonesia kedepan. Terutama untuk kebutuhan jangka pendek yaitu keperluan hutang luar negeri di saat APBN sedang defisit.

Kemungkinan ketiga, terkait kasus HAM. Pemilu masih menyisakan sekitar 700 petugas KPPS dan delapan (?) demonstran yang meninggal, dugaan adanya penganiayaan dan 30 orang hilang yang dilaporkan KOMNAS HAM. Jika Prabowo masuk dalam koalisi, ini boleh jadi akan bisa dinegosiasikan.

Kemungkinan keempat, terkait produk undang-undang di parlemen. Selama Jokowi presiden 2014-2019, parlemen berada dalam kendali. Undang-undang disesuaikan dengan agenda pemerintah. Tak begitu banyak hambatan. Jika partai koalisi Prabowo gabung, ini akan lebih aman.

Kemungkinan kelima, rencana jangka panjang yaitu agenda 2024. Siapa yang akan dicalonkan jadi presiden, dan partai-partai apa yang akan diajak berkoalisi untuk mengusungnya bisa disetting dari sekarang.

Hidden agenda selalu hadir di balik setiap manuver politik. Jangka pendek maupun jangka panjang. Apalagi ini melibatkan transaksi besar. "Beli mahal harus dapat barang berharga". Begitulah yang berlaku di pasar "pertukaran politik".  Yang pasti, pertemuan Prabowo-Jokowi telah membuat konstalasi baru terkait hubungan Prabowo dengan pendukungnya, dan Jokowi dengan mitra koalisinya.

Lalu, apa yang ditransaksikan kedua tokoh ini? Tentu, tak ada "makan sate senayan" tanpa agenda kenegaraan yang diobrolkan. Apa obrolannya? Soal ini harus cari bocoran di dapur belakang. Tak mungkin dibicarakan di "Meja Makan". Apalagi ada banyak media.

Pasca pertemuan di MRT, ada meja berikutnya yang agenda pembahasannya adalah negosiasi. Inilah panggung belakang. Publik menyebutnya "undertable transaction". Transaksi ini bocor hanya beberapa hari setelah pertemuan di MRT Lebak Bulus.

Kabarnya, Prabowo siap rekonsiliasi. Syaratnya: kue kekuasaan dibagi sesuai dengan perolehan suara di pilpres 2019 yaitu 45-55 persen. 45 persen untuk Prabowo, dan 55 persen untuk Jokowi. Satu hal lagi yang diminta Prabowo bahwa institusi keamanan seperti Kemenhan dan panglima TNI itu bagiannya Prabowo, mengingat Prabowo berasal dari TNI.

Bocoran inilah yang nampaknya membuat Amien Rais cs mulai melunak. "Cerdas kamu Wo! Masuk akal juga!" Begitulah kira-kira yang ada di pikiran Amien Rais cs. Bagaimana dengan PKS? Masih harus rapat dulu.

Sampai disini, Prabowo cukup cerdas. Pertama, manuver Prabowo ini berhasil membuat gusar kubu koalisi Jokowi. Kedua, memberi alasan rasional yang cukup kuat bagi Prabowo seandainya nantinya akan memilih oposisi. "Lu gak bisa penuhin tawaran gue, ya gue oposisi." Ah, sing bener? Kita lihat nanti.

Pertanyaan berikutnya muncul: pertama, apakah tawaran Prabowo ini harga mati? Artinya, apakah ketika Jokowi tak setuju dengan proposal ini, lalu Prabowo memilih oposisi? Atau Prabowo masih bisa bernego lagi? Sebab, tawaran yang diminta Prabowo hampir mustahil bisa dipenuhi. "Penuhi tawaran lu, gue digebukin temen-temen gue Wo". Kira-kira seperti itulah yang ada di benak Jokowi.

Pertanyaan kedua, apakah para pendukung bisa terima kembali Prabowo seandainya rekonsiliasi ini terjadi? Sebab, ini berarti Prabowo bisa dianggap berada dalam satu kubu dengan Jokowi untuk menghadapi para pendukung yang diidentifikasi sebagai pembangkang.

Pertanyaan ketiga, bagaimana nasib bangsa ini, terutama demokrasi kita, jika pemerintahan berjalan tanpa oposisi? DPR bisa jadi lembaga yang hanya bertugas menstempel keinginan pemerintah.

Pertanyaan-pertanyaan ini tak cukup ruang untuk dijawab dalam artikel pendek ini. Akan diberikan analisis dalam tulisan berikutnya. Tentu dengan data-data terbaru, mengingat dinamika politik yang begitu cepat perubahannya. Sabar bro! [PurWD/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Intelligent Leaks lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Rumah Dakwah Ustadz Sukarman Reyot Terancam Roboh, Ayo Bantu!

Rumah Dakwah Ustadz Sukarman Reyot Terancam Roboh, Ayo Bantu!

Sungguh prihatin kondisi rumah Ustadz Ahmad Sukarman ini. Rumah tinggal yang difungsikan sebagai markas pengajian ini sangat tidak layak, rapuh dan reyot terancam roboh....

Hidup Sebatang Kara, Muallaf  Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

Hidup Sebatang Kara, Muallaf Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

Hijrah menjadi Muslimah, mantan Kristen Pantekosta ini ditimpa banyak ujian mulai dari keluarga hingga kerasnya pekerjaan. Hidup sebatang kara, ia bekerja keras sebagai buruh pembuat batu bata. ...

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Sudah 4 tahun Pesantren Tahfiz Al-Qur’an ini mendidik para yatim dan kaum dhuafa tanpa memungut biaya. Mereka butuh masjid, anggaran dana 160 juta rupiah. Sisihkan harta, dapatkan istana di...

Aktivis Masjid Butuh Kaki Palsu dan Gerobak untuk Hidup Mandiri, Ayo Bantu..!!

Aktivis Masjid Butuh Kaki Palsu dan Gerobak untuk Hidup Mandiri, Ayo Bantu..!!

Bermodal kaki palsu Abu Rahman keliling Kota Solo menjajakan minuman 'es kapal' untuk menafkahi keluarga. Kini ia tak bisa bekerja lagi karena kaki palsunya jebol tak bisa diperbaiki.Ayo Bantu.!!...

Daerah Rawan Pemurtadan Garut ini Kesulitan Air. Ayo Wakaf Mata Air.!!

Daerah Rawan Pemurtadan Garut ini Kesulitan Air. Ayo Wakaf Mata Air.!!

Selain jadi target pemurtadan misionaris, warga kesulitan air bersih untuk wudhu, mandi, minum, memasak, dll. Diperlukan dana 11 juta rupiah untuk pipanisasi penghubung sumber mata air ke masjid,...

Latest News
5 Kiat Meraih Khusyu’ dalam Shalat

5 Kiat Meraih Khusyu’ dalam Shalat

Kamis, 28 Jan 2021 17:00

Depkeu AS: Islamic State Terus Andalkan 'Pusat Logistik' Di Turki

Depkeu AS: Islamic State Terus Andalkan 'Pusat Logistik' Di Turki

Kamis, 28 Jan 2021 12:45

Pemerintah Diminta Adil dan Tak Buka Ruang Politisir Isu Pemaksaan Siswi Berjilbab

Pemerintah Diminta Adil dan Tak Buka Ruang Politisir Isu Pemaksaan Siswi Berjilbab

Kamis, 28 Jan 2021 12:04

PB Pemuda Muslimin Indonesia Minta KPK Segera Periksa Puan dan Tangkap Herman Hery

PB Pemuda Muslimin Indonesia Minta KPK Segera Periksa Puan dan Tangkap Herman Hery

Kamis, 28 Jan 2021 09:19

PKS Desak PLN Tetap Jaga Stabilitas Operasional Meski Harga Batu Bara Naik

PKS Desak PLN Tetap Jaga Stabilitas Operasional Meski Harga Batu Bara Naik

Kamis, 28 Jan 2021 08:56

Partai Gelora Tolak PT 5 persen, Mahfuz: 4 persen Saja Tidak Mudah Mencapai

Partai Gelora Tolak PT 5 persen, Mahfuz: 4 persen Saja Tidak Mudah Mencapai

Kamis, 28 Jan 2021 08:32

Ketua Komisi VI DPRA Minta Pemerintah Aceh Serius Berlakukan Zakat Pengurang Pajak di Aceh

Ketua Komisi VI DPRA Minta Pemerintah Aceh Serius Berlakukan Zakat Pengurang Pajak di Aceh

Kamis, 28 Jan 2021 07:56

Gerakan Wakaf Nasional Itu Ambivalensi Rezim Jokowi?

Gerakan Wakaf Nasional Itu Ambivalensi Rezim Jokowi?

Kamis, 28 Jan 2021 07:20

Tembus 1 Juta Kasus, Fahira: Kecepatan Virus Bisa Diimbangi Penguatan 3T dan Pembatasan Mobilitas

Tembus 1 Juta Kasus, Fahira: Kecepatan Virus Bisa Diimbangi Penguatan 3T dan Pembatasan Mobilitas

Kamis, 28 Jan 2021 06:56

Rumah Dakwah Ustadz Sukarman Reyot Terancam Roboh, Ayo Bantu!

Rumah Dakwah Ustadz Sukarman Reyot Terancam Roboh, Ayo Bantu!

Kamis, 28 Jan 2021 04:06

Hidup Sebatang Kara, Muallaf  Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

Hidup Sebatang Kara, Muallaf Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

Kamis, 28 Jan 2021 04:02

Jubir Kesehatan UEA: Orang Perlu Divaksin COVID-19 Setiap Tahun

Jubir Kesehatan UEA: Orang Perlu Divaksin COVID-19 Setiap Tahun

Rabu, 27 Jan 2021 21:35

Jumlah Kasus Virus Corona di Seluruh Dunia Lampaui 100 Juta

Jumlah Kasus Virus Corona di Seluruh Dunia Lampaui 100 Juta

Rabu, 27 Jan 2021 20:35

Zalim kepada HTI atau Anti Islam?

Zalim kepada HTI atau Anti Islam?

Rabu, 27 Jan 2021 15:33

Jangan Berhenti Berbuat Baik Meski Lelah Menghampiri

Jangan Berhenti Berbuat Baik Meski Lelah Menghampiri

Rabu, 27 Jan 2021 15:24

Waspada Politik Belah Bambu di Balik Narasi Kontra Ekstremisme

Waspada Politik Belah Bambu di Balik Narasi Kontra Ekstremisme

Rabu, 27 Jan 2021 15:09

Polisi Israel Kembali Terlibat Bentrok dengan Yahudi Ultra-Ortodoks di Yerusalem

Polisi Israel Kembali Terlibat Bentrok dengan Yahudi Ultra-Ortodoks di Yerusalem

Rabu, 27 Jan 2021 15:00

Turki Hadapi Musuh Jihadis Misterius di Idlib

Turki Hadapi Musuh Jihadis Misterius di Idlib

Rabu, 27 Jan 2021 14:30

Taubat Politik Jusuf Kalla

Taubat Politik Jusuf Kalla

Rabu, 27 Jan 2021 12:10

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Rabu, 27 Jan 2021 11:53


MUI

Must Read!
X