Selasa, 19 Safar 1448 H / 4 Agutus 2026 11:28 wib
138 views
Kranji, Tanah Para Pejuang: Jejak Haji Rian hingga Haji Masturo dalam Revolusi Kemerdekaan
BEKASI (voa-islam.com) -Hari ini, Kranji dikenal sebagai salah satu kawasan paling sibuk di Kota Bekasi. Deretan pertokoan, permukiman, jalan raya yang padat, serta lalu lintas kereta api menjadi denyut kehidupan sehari-hari. Sulit membayangkan bahwa di balik hiruk-pikuk itu, tanah ini pernah menjadi salah satu garis depan pertempuran mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Lebih dari tujuh dekade lalu, setiap jengkal tanah Kranji dipenuhi aroma mesiu. Dentuman mortir, rentetan senapan, dan pekik "Merdeka atau Mati" menggema di tengah sawah, kebun, hingga bantaran Kali Bekasi. Bagi rakyat saat itu, kemerdekaan bukan sekadar cita-cita, melainkan harga diri yang harus dipertahankan, bahkan dengan taruhan nyawa.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, perjuangan bangsa Indonesia belum berakhir. Pasukan Sekutu yang datang bersama NICA berupaya mengembalikan kekuasaan kolonial Belanda. Bekasi, yang berada di jalur strategis penghubung Jakarta dan Jawa Barat, segera berubah menjadi medan perang. Kranji, Rawapasung, Cakung, Klender, hingga Kali Bekasi menjadi titik-titik pertahanan yang berkali-kali digempur pasukan Sekutu dan Belanda. Para pejuang dengan persenjataan yang sangat terbatas tetap menghadapi lawan yang didukung kendaraan lapis baja, artileri, bahkan serangan udara.
Di tengah situasi itulah rakyat Kranji berdiri di barisan terdepan. Mereka bukan tentara profesional, melainkan ulama, petani, pedagang, guru mengaji, dan tokoh masyarakat yang memilih mengangkat senjata demi mempertahankan Republik yang baru lahir.
Perjuangan mereka diabadikan dalam berbagai literatur sejarah. Husein Kamaly, dalam bukunya Sejarah Perjuangan Rakyat di Bekasi (1983), yang kemudian dikutip kembali oleh Endra Kusnawan dalam Sejarah Bekasi, mencatat sedikitnya lima tokoh penting yang menjadi penggerak perlawanan di Kranji.
Mereka adalah Haji Rian, Abdul Somad, Haji Mesir, Haji Masturo, dan Haji Riyan.
Sesungguhnya, pejuang asal Bekasi yang terlibat dalam Revolusi Kemerdekaan berjumlah ribuan. Namun, seperti banyak kisah perjuangan rakyat di berbagai daerah, tidak semuanya tercatat dalam dokumen sejarah. Nama-nama tersebut menjadi representasi dari ribuan warga Bekasi yang mempertaruhkan hidup demi mempertahankan kemerdekaan.
Haji Riyan dikenal sebagai salah satu tokoh kharismatik Kranji yang memiliki pengaruh besar di tengah masyarakat. Bersama para pejuang lainnya, ia menggalang kekuatan rakyat, mendukung perjuangan laskar-laskar Republik, bahkan menjadikan rumahnya sebagai salah satu pusat aktivitas perjuangan. Dari Kranji, semangat perlawanan terus menyala meski para pejuang harus berpindah-pindah markas dan menjalankan perang gerilya akibat tekanan pasukan Sekutu.
Semangat perjuangan itu juga diperkuat oleh kehadiran berbagai laskar rakyat, Tentara Keamanan Rakyat (TKR), Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI), Hizbullah, Sabilillah, dan kelompok-kelompok pemuda yang saling bahu-membahu mempertahankan Bekasi. Persenjataan mereka sering kali hanya berupa senapan rampasan, bambu runcing, golok, keris, hingga granat sederhana. Namun, keterbatasan itu tidak pernah memadamkan keberanian mereka menghadapi pasukan yang jauh lebih modern.
Besarnya arti Kranji dalam Revolusi Kemerdekaan bahkan tercermin dalam karya sastra Pramoedya Ananta Toer. Novel Krandji-Bekasi Djatoeh dan Di Tepi Kali Bekasi mengambil latar perjuangan di kawasan Bekasi dan Kranji pada masa revolusi, menjadi bukti bahwa wilayah ini meninggalkan jejak mendalam dalam sejarah maupun kesusastraan Indonesia.
Kini, perang telah lama usai. Jalan-jalan yang dahulu menjadi medan tempur telah berubah menjadi pusat aktivitas masyarakat. Namun, perubahan zaman tidak boleh menghapus ingatan tentang mereka yang pernah mempertaruhkan segalanya demi kemerdekaan.
Mengingat nama-nama pejuang bukan sekadar mengenang masa lalu. Itu adalah bentuk penghormatan kepada orang-orang yang memastikan Merah Putih tetap berkibar ketika republik ini masih berada di ambang kehancuran.
Sebab, Kranji bukan hanya nama sebuah kawasan di Kota Bekasi.
Kranji adalah tanah para pejuang. [PurWD/voa-islam.com]
* Sumber Gambar: Info Bekasi
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!