Selasa, 7 Muharram 1448 H / 23 Juni 2026 12:02 wib
116 views
Hikmah Teologis dan Historis di Balik Syariat Puasa Asyura
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulullah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.
Bulan Muharram bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Hijriah. Di dalamnya terdapat satu momentum yang memiliki kedudukan agung dalam tradisi peribadahan umat Islam, yaitu hari Asyura (tanggal 10 Muharram). Salah satu amalan utama yang disyariatkan pada hari tersebut adalah ibadah puasa.
Secara ilmiah dan normatif, syariat tidak pernah berdiri sendiri tanpa alasan (illah) dan hikmah di baliknya. Mengetahui esensi filsafat hukum (hikmatut tasyri’) dari puasa Asyura akan membawa seorang muslim pada tingkat penghayatan ibadah yang lebih tinggi, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga.
Kronologi Historis: Titik Balik Kemenangan Tauhid
Merujuk pada penjelasan kontemporer dari Al-Imam Ibn Baz dalam Majmu’ al-Fatawa, akar historis dari puasa Asyura bertumpu pada sebuah peristiwa kosmik yang besar di masa lalu. Beliau menegaskan:
لِأَنَّهُ يَوْمٌ نَجَّى اللهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوْمَهُ، وَأَهْلَكَ فِيهِ فِرْعَوْنَ وَقَوْمَهُ. فَيُسْتَحَبُّ لِكُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ صِيَامُ هَذَا اليَوْمِ شُكْراً للهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَهُوَ اليَوْمُ العَاشِرُ مِنَ المُحَرَّمِ
"Karena hari tersebut adalah hari di mana Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta membinasakan Firaun dan kaumnya. Maka dianjurkan (disunahkan) bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan untuk berpuasa pada hari ini sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Azza wa Jalla. Dan hari tersebut adalah hari kesepuluh dari bulan Muharram."
Secara tekstual, narasi ini bersandar pada hadis sahih saat Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam hijrah ke Madinah dan mendapati kaum Yahudi berpuasa. Ketika ditanya, mereka menjawab bahwa hari itu adalah hari baik saat Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, lalu Musa berpuasa sebagai bentuk syukur. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam kemudian bersabda, "Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian," lalu beliau berpuasa dan memerintahkan umat Islam untuk berpuasa (HR. Al-Bukhari & Muslim).
Dari kacamata sejarah Islam, Asyura adalah simbol kemenangan tauhid atas hegemoni thaghut (Firaun). Kehancuran Firaun di Laut Merah bukan sekadar drama masa lalu, melainkan penegasan bahwa kebatilan, sekuat apa pun strukturnya, pasti akan runtuh di hadapan kebenaran ilahiah.
Rekonstruksi Hikmah Puasa Asyura
Melalui analisis teks ulama dan dalil sahih, sedikitnya ada tiga hikmah fundamental mengapa puasa ini sangat dianjurkan (mustahab) bagi setiap muslim dan muslimah:
1. Refleksi Syukur yang Konkret (Shukran lillah)
Islam mengajarkan bahwa ekspresi syukur tertinggi atas sebuah nikmat keagamaan bukanlah perayaan yang euforik, melainkan peningkatan ikatan ubudiyah kepada Allah. Menyelamatkan Nabi Musa adalah nikmat besar bagi tegaknya estafet dakwah tauhid. Maka, puasa dipilih sebagai instrumen syukur karena ibadah ini memurnikan jiwa dan menekan hawa nafsu.
2. Manifestasi Kesatuan Dakwah Para Nabi (Unity of Prophethood)
Dengan berpuasa di hari di mana Nabi Musa diselamatkan, umat Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam menunjukkan klaim teologis bahwa seluruh nabi membawa risalah yang satu: Tauhid. Umat Islam menghormati dan merasa memiliki keterikatan spiritual yang kuat dengan perjuangan Nabi Musa ‘Alaihis Salam.
3. Energi Spiritual Syura bagi Semua Gender
Seperti yang ditekankan dalam kutipan teks, anjuran ini berlaku luas: "...Maka dianjurkan (disunahkan) bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan..."
Ini menunjukkan bahwa madrasah spiritual Muharram bersifat inklusif. Baik laki-laki maupun perempuan memiliki andil dan kebutuhan yang sama dalam menyerap energi spiritual dari peristiwa Asyura untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
## Infak Dakwah Media www.voa-islam.com melalui Bank Muamalat, No.Rek: 34.7000.6141 a/n: Badrul Tamam, konfirmasi (087781227881)
Kesimpulan
Puasa Asyura yang jatuh pada setiap tanggal 10 Muharram bukan sekadar ritual tahunan tanpa makna. Ia adalah refleksi historis terhadap pertolongan Allah, manifesto rasa syukur yang mendalam, sekaligus pengingat bagi setiap mukmin bahwa pertolongan Allah (nashrullah) selalu dekat bagi mereka yang konsisten di jalan kebenaran. Menghidupkan puasa ini berarti merawat ingatan kita akan kejayaan iman atas kezaliman. Wallahu a'lam. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!