Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
3.867 views

Pembakaran Bendera Tauhid, Persekusi HTI, dan Pilpres 2019

Tony Rosyid

(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

HTI diorbitkan jadi musuh bersama. Dicabut ijinnya oleh Kemenkumham dan distigmakan sebagai ormas terlarang, anti Pancasila dan mengancam NKRI. Oknum Banser dijadikan sebagai barisan terdepan untuk mempersekusinya.

Masalah utamanya bukan pada HTI dan Banser. HTI dicabut ijinnya, semua kantornya tutup, tak lagi ada gerakan dan semua identitasnya tak lagi muncul ke publik. Tahu diri. Begitu juga dengan Banser, tak ada masalah organisasional dengan HTI. Banser adalah aset umat dan bangsa. Kecuali sejumlah elit yang sengaja memanfaatkan kepolosan sebagian anggota Banser dan menjadikannya oknum. Tujuannya? Tak jauh-jauh dari agenda pilpres 2019.

Kenapa HTI dan Banser yang dibenturkan? Pertama, karena HTI dengan "mimpi khilafahnya" paling potensial dibenturkan dengan Pancasila dan NKRI. Di Indonesia, ide khilafah itu ahistoris. Dianggap melawan kesepakatan keberagamaan umat Islam secara umum. Maka, mudah distigmakan negatif. Kedua, HTI adalah ormas kecil. Sementara Ansor dengan Bansernya adalah bagian dari organisasi NU. Ormas terbesar di Indonesia. Jika perang opini, HTI pasti nyungsep. Dan NU-lah pemenangnya. Ini faktor mayoritas melawan minoritas. Ketiga, HTI diidentifikasi sebagai bagian dari pendukung oposisi. Dalam konteks ini adalah Paslon no 2. Jadi, memperburuk citra HTI akan berimbas pada buruknya citra Paslon no 2.

Point yang ketiga ini salah dan fatal. HTI menolak demokrasi. Tidak pernah ikut dalam pemilu. Bagi HTI, demokrasi itu haram. Mereka selama ini golput. Mengidentifikasi HTI bagian dari pendukung Paslon No 2, itu menggelikan. Opini menyesatkan. Bahasa agamanya "fitnah'. HTI tidak mendukung Paslon manapun. Itulah opini. Adu kuat isu di media.

HTI berhasil didesign jadi "target antara". Target utamanya adalah Paslon No 2. Dan Banser, oleh "pihak tertentu" dimanfaatkan untuk menjadi penahan arus gelombang massa oposisi, dengan isu HTI mengancam NKRI. Sejumlah oknum Banser marah, HTI dihajar.

Publik perlu tahu, umumnya ormas di Indonesia menolak paham khilafah ala HTI. Bagi sejumlah ormas, ide khilafah di Indonesia tak lebih dari "impian langit" yang sulit dibayangkan punya kesempatan berjejak di bumi Nusantara. Hanya saja, ormas-ormas itu bersikap lebih soft. Cenderung mengutamakan persaudaraan dan menghargai potensi dakwah yang dilakukan kader HTI.

Jika ingin proporsional, kita perlu buka kembali sejarah. Drama ini dimulai sejak kasus Ahok. Jokowi harus menghadapi gelombang oposisi umat Islam yang kecewa. Lalu, Jokowi merapat ke pimpinan PBNU dan Ansor. Ini bagian dari strategi untuk mengimbangi kekuatan massa oposisi. Bahkan mengambil Ma'ruf Amin sebagai cawapres adalah bagian dari langkah strategis ini. Dengan segala dinamika yang sangat  dramatis. Hubungan Jokowi-PBNU plus Ansor adalah hubungan simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan. Jokowi butuh massa Nahdliyyin (termasuk Ansor dan Banser) semata-mata sebagai penyeimbang gerakan massa umat Islam yang berada di kubu oposisi. PBNU dan Ansor, bagaimanapun akan sangat menguntungkan jika dekat dengan pemerintah.

Hubungan pimpinan PBNU dan Ansor dengan Jokowi adalah hubungan politis, bukan ideologis. Ungkapan Mahfudz MD, jika Jokowi tidak ambil Ma'ruf Amin, NU akan tarik dukungan. Ungkapan ini clear sekaligus menegaskan bahwa hubungan Pimpinan PBNU-Jokowi itu politis, bukan ideologis. Begitu juga dengan pimpinan Ansor. Karena hubungannya yang bersifat politis, maka ajakan ketum PBNU kepada Nahdliyyin untuk dukung Jokowi tak sepenuhnya berhasil. Bahkan mendapat teguran dan protes keras dari "dhurriyat" K.H. Hasyim Asy'ari dan K.H. Wahab Hasbullah, para pendiri NU. Karena dianggap merusak khittah, dan terlalu jauh menyeret NU dalam politik praktis.

Hubungan Jokowi PBNU dan Ansor itu ada pada level pemimpin, bukan NU, Ansor (dan Banser) secara organisatoris. Sebab, NU, Ansor dan Banser adalah ormas, bukan organ politik. Sesuai AD/ARTnya, NU dan semua underbownya punya khittah non partisan. Hal ini ditegaskan oleh para "dzurriyat" pendiri NU.

Menyoal kasus bendera, meski sangat disesalkan karena menyinggung "perasaan keberagamaan umat', tetap saja tak lepas dari komoditas politik. Banyak yang menduga itu bagian dari simbiosis mutualisme elit.

Dalam kasus ini telah terjadi adu jumlah massa dan benturan opini. Kemana gelombang opini bertiup, maka akan jadi pertimbangan utama untuk mengkalkulasi elektabilitas capres-cawapres. Kalau sinyalnya bagus, pembelaan terhadap pelaku pembakaran bendera diteruskan. Kalau tak menguntungkan, pembelaan dihentikan.

Nampaknya gelombang protes menguat, opini makin memburuk untuk pelaku dan para pendukungnya. Inilah yang dibaca oleh Jusuf Kalla (JK). Dalam konteks ini, JK netral atau punya agenda? Sebagai wapres atau  penasehat timses Jokowi? Allahu A'lam.

[Baca: Benci Kalimat Tauhid Batalkan Iman]

JK melihat situasinya mulai tidak kondusif. Lalu, langkah sigap dan cepat ia ambil. Kumpulkan semua pimpinan ormas, dan membuat pernyataan bersama. Diantara pernyataan itu adalah bahwa pimpinan Ansor dan PBNU menyesalkan peristiwa pembakaran itu. Oh ya?

Kok JK yang mewakili NU dan Ansor ya? Publik mulai mempertanyakan. Kenapa JK yang membacakan pernyataan itu. Kenapa bukan ketua PBNU atau ketua Muhammadiyah yang hadir di konferensi pers itu?

Tersisa keraguan publik: apakah betul pimpinan Ansor dan PBNU menyesalkan pembakaran bendera itu? Mengingat beberapa hari sebelumnya, pimpinan Ansor dan PBNU justru seolah memberi pembelaan, terkesan melindungi dan menjustifikasi kebenaran yang sedemikian tegas dan tegar terhadap pelaku. Apakah publik salah paham terhadap pernyataan ketua Ansor dan PBNU? Atau ketua Ansor dan ketua PBNU sudah berubah pendapatnya? Qaul qadim dinasakh qaul Jadid? Atau JK yang salah kutip? Masih perlu diklarifikasi.

Sikap cepat JK dianggap reaktif. Kemana JK pada saat para ulama dipersekusi? Kemana JK saat terjadinya ujaran kebencian di Surabaya yang bebas dari tuntutan hukum? Tidakkah itu semua berpotensi jadi pemicu konflik dan kegaduhan nasional? Kenapa baru sekarang JK muncul ketika terjadi gelombang protes? Kenapa pemerintah, termasuk JK tidak melakukan langkah-langkah pro-aktif?

Kita akan lihat, apakah reaksi cepat JK efektif, atau sudah terlambat? Apapun jawabannya, pembakaran bendera hanya salah satu dari sekian banyak letupan emosional yang remote controlnya terhubung dengan pilpres 2019. Tidak ada urusannya dengan HTI dan Banser. [PurWD/voa-islam.com]

Jakarta, 30/10/2018

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Opini Redaksi lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Farhan Syafero: Aktivis Dakwah Gugur Salah Tembak dalam Tragedi Berdarah Jakarta, Ayo Bantu.!!

Farhan Syafero: Aktivis Dakwah Gugur Salah Tembak dalam Tragedi Berdarah Jakarta, Ayo Bantu.!!

Aktivis dakwah ini gugur di bulan suci Ramadhan saat siaga menjaga markas FPI dan rumah Habib Rizieq. Jasadnya terkapar bersimbah darah dengan lubang peluru menembus dada hingga punggung....

Ditimpa Musibah Bertubi-tubi, Keluarga Muallaf Hidup Memprihatinkan, Ayo Bantu...!!!

Ditimpa Musibah Bertubi-tubi, Keluarga Muallaf Hidup Memprihatinkan, Ayo Bantu...!!!

Muallaf Evelyn harus berjuang keras menafkahi kelima anaknya, meski fisiknya rapuh mengidap kanker tiroid. Betapapun pahitnya hidup, ia tetap tegar mewujudkan mimpi anaknya yang hafal Al-Quran...

Dibulan Penuh Berkah IDC Kembali Santuni Yatim Dhuafa

Dibulan Penuh Berkah IDC Kembali Santuni Yatim Dhuafa

Dibulan yang penuh berkah ini Infaq Dakwah Center memberikan santunan kepada anak-anak yatim dhuafa. Kegiatan ini digelar bertepatan dengan acara buka bersama anak yatim dhuafa yang diadakan...

IDC Distribusikan Ratusan Kilogram Paket Tebar Kurma Ramadhan

IDC Distribusikan Ratusan Kilogram Paket Tebar Kurma Ramadhan

Alhamdulillah, Relawan IDC telah memulai distribusi Program Tebar Kurma Semarak Ramadhan 1440 H....

Menunggak 3 Tahun, Dua Santri Yatim ini Tidak Bisa Ikut Ujian, Ayo Bantu..!!

Menunggak 3 Tahun, Dua Santri Yatim ini Tidak Bisa Ikut Ujian, Ayo Bantu..!!

Bercita-cita ngin jadi Dai hafiz Quran, Gasyim & Julaibib tak bisa ikut Ujian Nasional karena menunggak biaya selama 3 tahun (Rp 32 juta). Sang ibu tidak bekerja krn uzur sakit-sakitan....

Latest News
Tiket Pesawat Mahal, Maskapai Asing Siap Mengawal

Tiket Pesawat Mahal, Maskapai Asing Siap Mengawal

Selasa, 18 Jun 2019 08:50

Ketika Hehamahua Sudah Teriak Moral, Dimana Tokoh Yang Lain?

Ketika Hehamahua Sudah Teriak Moral, Dimana Tokoh Yang Lain?

Selasa, 18 Jun 2019 08:16

Diisukan Dapat Tawaran Jabatan Menteri, Sandiaga: Jangan Hiraukan Rumor

Diisukan Dapat Tawaran Jabatan Menteri, Sandiaga: Jangan Hiraukan Rumor

Selasa, 18 Jun 2019 07:47

Suka Membaca Ramalan Zodiak di Majalah

Suka Membaca Ramalan Zodiak di Majalah

Selasa, 18 Jun 2019 07:36

Ketika Mursi Meninggal, Harapan Mesir untuk Kebebasan Mati Bersamanya

Ketika Mursi Meninggal, Harapan Mesir untuk Kebebasan Mati Bersamanya

Selasa, 18 Jun 2019 07:28

Dunia Bereaksi Terhadap Meninggalnya Muhammad Mursi

Dunia Bereaksi Terhadap Meninggalnya Muhammad Mursi

Selasa, 18 Jun 2019 07:15

Nasib Pembangunan Infrastruktur

Nasib Pembangunan Infrastruktur

Selasa, 18 Jun 2019 06:46

Ikhwan Sebut Wafatnya Mursi Sebagai Pembunuhan Terencana

Ikhwan Sebut Wafatnya Mursi Sebagai Pembunuhan Terencana

Selasa, 18 Jun 2019 06:39

Sebut Mursi Pahlawan Sejati, Jamat e Islami akan Gelar Shalat Ghaib di Seluruh Pakistan

Sebut Mursi Pahlawan Sejati, Jamat e Islami akan Gelar Shalat Ghaib di Seluruh Pakistan

Selasa, 18 Jun 2019 06:32

Para Petinggi Turki Ucapkan Bela Sungkawa atas Meninggalnya Mursi

Para Petinggi Turki Ucapkan Bela Sungkawa atas Meninggalnya Mursi

Selasa, 18 Jun 2019 06:24

Erdogan Sebut Mursi Meninggal Sebagai Syuhada

Erdogan Sebut Mursi Meninggal Sebagai Syuhada

Selasa, 18 Jun 2019 06:16

Mantan Presiden Mesir Muhammad Mursi Meninggal Dunia

Mantan Presiden Mesir Muhammad Mursi Meninggal Dunia

Selasa, 18 Jun 2019 06:05

Mudahnya Membeli Rokok Membuat Anak Jadi Perokok

Mudahnya Membeli Rokok Membuat Anak Jadi Perokok

Selasa, 18 Jun 2019 05:55

Busana Cermin Takwa

Busana Cermin Takwa

Senin, 17 Jun 2019 23:57

Sepenggal Kisah Keutamaan Ali bin Abi Thalib

Sepenggal Kisah Keutamaan Ali bin Abi Thalib

Senin, 17 Jun 2019 22:42

Warga Palestina di Gaza Terima Bantuan Keuangan Baru dari Qatar

Warga Palestina di Gaza Terima Bantuan Keuangan Baru dari Qatar

Senin, 17 Jun 2019 22:30

Bloger Pakistan Dibunuh karena Berbicara Menentang Proyek Ekspansionisme Syi'ah Iran

Bloger Pakistan Dibunuh karena Berbicara Menentang Proyek Ekspansionisme Syi'ah Iran

Senin, 17 Jun 2019 22:04

OBOR: Jebakan Cina Mendigdaya Perekonomian Dunia

OBOR: Jebakan Cina Mendigdaya Perekonomian Dunia

Senin, 17 Jun 2019 21:39

Prabowo dan Kiblat Bangsa

Prabowo dan Kiblat Bangsa

Senin, 17 Jun 2019 20:56

MK Bukan Final

MK Bukan Final

Senin, 17 Jun 2019 20:53


Gamis Syari Cantik Murah Terbaru

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X