Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
7.632 views

Ada Aroma Sekulerisasi Dibalik Wacana Penghapusan Pelajaran Agama

 

Oleh:

Ulfiatul Khomariah

Founder Ideo Media, Pemerhati Masalah Sosial dan Politik

 

PENDIDIKAN agama merupakan kebutuhan pokok yang harus diberikan kepada rakyat dari semua kalangan  (siswa, mahasiswa dan masyarakat lainnya). Menghapuskan ajaran agama dari kehidupan sekolah sama halnya melemparkan generasi ke lubang biawak. Dan apabila wacana penghapusan pelajaran agama benar-benar terealisasi, maka ini menjadi bukti berhasilnya sistem sekuler-kapitalisme dalam mencabik-cabik rezim di Indonesia.

Bagaimana tidak? Rakyat Indonesia kembali disakiti oleh wacana penghapusan pelajaran agama dari sekolah. Sebagaimana pernyataan Mr. Setyono Djuandi Darmono yang dikutip dari fajar.co.id dengan judul, “Sarankan Jokowi Hapus Pendidikan Agama, Darmono: Identitas Agama Picu Radikalisme” pada hari Kamis, 04 Juli 2019 di Jakarta menuai polemik ditengah masyarakat. Darmono menyebut, pendidikan Agama tidak perlu diajarkan di sekolah. Agama cukup diajarkan orangtua masing-masing atau lewat guru Agama di luar sekolah.

Tak hanya itu, Darmono juga menyatakan bahwa pelajaran agama bisa menjadikan siswa memiliki sikap intoleran terhadap yang lainnya. “Mengapa agama sering menjadi alat politik? Karena agama dimasukkan dalam kurikulum pendidikan. Di sekolah, siswa dibedakan ketika menerima mata pelajaran (mapel) agama. Akhirnya mereka merasa kalau mereka itu berbeda,” kata Darmono seusai acara bedah bukunya yang ke-6 berjudul Bringing Civiliaztions Together di Jakarta, Kamis (4/7/2019).

Sebenarnya jika kita telusuri, ide penghapusan pelajaran agama di sekolah bukanlah sebuah ide baru. Hal ini sudah lama digaungkan oleh Prof. Musdah Mulia, seorang politikus PDIP sekaligus Eksekutif Megawati Institute. Ia mengambil contoh Singapura yang sudah 22 tahun mengambil kebijakan menghapus pelajaran agama, namun justru signifikan membentuk penduduk yang tertib, disiplin dan toleran. Berbeda dengan Indonesia, katanya lebih lanjut, pemerintah mewajibkan pelajaran agama di sekolah, namun justru yang terjadi malah Indonesia dikenal dengan negara terkorup, bahkan tak luput juga di kementrian agama.

Maka perlu dicermati, ada hal yang bisa digarisbawahi dari pernyataan Darmono dan Musdah yang senada ini, yaitu relevansi tidak ada pelajaran agama dengan toleransi dan sikap yang baik pada siswa. Justru ketika diajarkan tentang agama, maka akan muncul sikap saling membenarkan agamanya yang akan berujung pada konflik dan sikap intoleransi pada diri siswa. Terdapat aroma yang sangat menyengat bahwa dunia pendidikan juga akan disekulerisasi. Padahal potret buram pendidikan sekuler semakin banyak terungkap. Mulai dari aspek guru, kurikulum, terlebih kepada output siswanya.

 

Sekulerisasi Biang Masalah

Jika kita melihat output siswa saat ini memang sungguh sangat menyayat hati. Tujuan pendidikan nasional dalam mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri nyatanya minim realisasinya. Yang terjadi justru siswa banyak yang terlibat dalam kasus kriminal, pergaulan bebas, narkoba, terjerat pornografi maupun pornoaksi dan banyak sekali kasus yang menimpa generasi saat ini. Meski memang tidak bisa dipungkiri, nyatanya masih ada segelintir siswa yang mampu menunjukkan prestasinya.

Maka perlu disadari bersama, bahwa sesungguhnya pendidikan saat ini sudah tidak mampu mencetak generasi yang berkualitas. Apa yang menjadi penyebabnya? Tentu saja penyebabnya bukan hanya lingkup sekolah saja, karena yang membentuk karakter anak adalah lingkungan tempat dia tinggal. Mulai dari rumah, sekolah, dan negara. Ketiga elemen ini sangat berperan penting dalam mencetak generasi muda yang berkualitas sehingga menjadi tonggak peradaban yang gemilang.

Namun sayangnya, ketiga elemen ini sudah terjangkiti virus sekulerisasi akut di segala bidang kehidupan. Mulai dari keluarga yang sudah tidak lagi mementingkan akidah atau nilai-nilai agama, hingga orangtua pun menjejali anak dengan kebebasan, konsumtivisme hingga generasi tumbuh menjadi anak yang manja bahkan hilang kemandirian. Begitu pula dengan sekolah, yang sudah memisahkan antara sekolah umum dengan agama, atau adanya sekolah di bawah Dinas Pendidikan dengan Sekolah di bawah Departemen Agama, ini sudah ada upaya sekulerisasi. Sehingga jam pelajaran agama di sekolah umum hanya seperti sebuah formalitas belaka. Siswa hanya cukup dikenalkan agama sebagai pengetahuan belaka tanpa ada nilai yang diserap dalam kehidupannya.

Outputnya adalah siswa yang tidak takut akan akhirat, tidak takut mati bahkan tidak takut kepada Allah SWT. Begitu pula dengan sekolah di bawah naungan Depag, materi keislaman memang banyak, namun mereka tidak mampu mempraktekkan nilai-nilai islam itu karena lingkungan sekitarnya sudah sekuler bahkan cenderung terbawa arus yang dianggap modernisasi padahal justru menyesatkan. Maka wajar justru yang sering terdengar bukan prestasi, tapi 'bencana' loss generation.

Apalagi jika kita berbicara tentang negara, sudah jelas Indonesia bukan negara yang berideologi agama, maka wajar kemudian banyak kebijakan yang tidak didasarkan kepada agama. Wajar pula banyak kebijakan yang justru membuat rakyat terkesan dibiarkan dalam kemaksiatannya. Misalnya pornografi yang semakin merajalela, tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang kurang tegas terhadap pelaku pornografi atau media media yang berbau porno tetap beredar. Akibatnya banyak generasi muda yang terjun bebas dalam pornoaksi. Begitupun dengan korupsi, tidak adanya kebijakan yang tegas dari pemerintah menjadikan para koruptor semakin beraksi. Naudzubillah.

Racun sekulerisasi, yang memisahkan agama dari kehidupan ini, justru yang menjadi biang kerok runtuhnya nilai ahlak pada generasi. Maka ketika ada wacana penghapusan pelajaran agama, bukankah ini upaya semakin mensekulerkan anak bangsa? Tanpa bekal iman, bagaimana anak didik bisa punya standar benar dan salah? Padahal Indonesia mempunyai tujuan pendidikan yang mulia, salah satunya yakni ingin mencetak generasi yang beriman dan bertakwa. Maka memisahkan sistem pendidikan dengan agama, bahkan penghapusan mapel agama, justru akan membahayakan negara karena fungsi pembentukan SDM yang bertakwa mustahil akan terwujud. Wallahu a’lam bish shawwwab.*

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Liberalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Perut Membesar Sakit Usus dan Sulit BAB, Ulwan Ghazi Harus Dioperasi. Ayo Bantu.!!

Perut Membesar Sakit Usus dan Sulit BAB, Ulwan Ghazi Harus Dioperasi. Ayo Bantu.!!

Terlahir dengan kelainan usus, Ulwan harus menghabiskan masa kanak-kanak dengan rintih tangis hingga 4 tahun. Butuh biaya operasi, sang ibu hanya penjual kerupuk....

Hidup Sebatang Kara, Nenek Mailah Tinggal di Kandang Domba. Ayo Bantu.!!

Hidup Sebatang Kara, Nenek Mailah Tinggal di Kandang Domba. Ayo Bantu.!!

Di usia 63 tahun saat tubuhnya renta sakit-sakitan, ia hidup sebatang kara. Memasuki musim hujan, rumahnya porak-poranda diterjang puting beliung. Ia terpaksa tinggal di kandang Domba tetangganya....

Terbentur Dana, Santri Hafiz Qur'an Terancam Batal Kuliah ke Luar Negeri. Ayo Bantu.!!

Terbentur Dana, Santri Hafiz Qur'an Terancam Batal Kuliah ke Luar Negeri. Ayo Bantu.!!

Hilmi Priyatama, santri juara penghafal Qur'an 30 juz ini lulus beasiswa di Universitas Internasional Afrika Sudan. Namun ia terancam batal berangkat karena terkendala biaya transport, pemberkasan...

Mushalla Annur Garut Sudah Rampung 60 Persen, Masih Dibutuhkan Dana 20 Juta Lagi, Ayo Bantu.!!

Mushalla Annur Garut Sudah Rampung 60 Persen, Masih Dibutuhkan Dana 20 Juta Lagi, Ayo Bantu.!!

Pembangunan mushalla sudah rampung 60 persen dari pondasi hingga kubah. Masih kekurangan dana 20 juta rupiah untuk finishing agar berfungsi sebagai pusat ibadah, pembinaan aqidah, markas dakwah...

Korsleting Listrik, Pesantren Nurul Hidayah Banten Ludes Terbakar, Ayo Bantu.!!!

Korsleting Listrik, Pesantren Nurul Hidayah Banten Ludes Terbakar, Ayo Bantu.!!!

Musibah kebakaran menghanguskan kamar santri, mushaf Al-Qur'an, kitab kuning, pakaian, alat tulis dsb. Diperlukan dana 25 juta rupiah untuk membangun asrama santri berupa rumah panggung dari...

Latest News
PKS Siap Jalankan Nasihat Muhammadiyah untuk Jadi Kekuatan Penyeimbang

PKS Siap Jalankan Nasihat Muhammadiyah untuk Jadi Kekuatan Penyeimbang

Jum'at, 06 Dec 2019 13:49

Majelis Taklim Wajib Terdaftar, Sohibul: Pemerintah Terjebak Masa Lalu

Majelis Taklim Wajib Terdaftar, Sohibul: Pemerintah Terjebak Masa Lalu

Jum'at, 06 Dec 2019 11:40

Persis: Sertifikasi Calon Pengantin Jangan Jadi Penghambat Pernikahan

Persis: Sertifikasi Calon Pengantin Jangan Jadi Penghambat Pernikahan

Jum'at, 06 Dec 2019 09:50

PP Muhammadiyah Pesankan Peran Check And Balances ke PKS

PP Muhammadiyah Pesankan Peran Check And Balances ke PKS

Jum'at, 06 Dec 2019 09:40

Negara Darurat Hukum

Negara Darurat Hukum

Jum'at, 06 Dec 2019 08:50

Saudi Akan Tawarkan Kewarganegaraan Kepada Para Ahli, Kreatif, dan Ulama, Anda Berminat?

Saudi Akan Tawarkan Kewarganegaraan Kepada Para Ahli, Kreatif, dan Ulama, Anda Berminat?

Kamis, 05 Dec 2019 21:35

Pentagon Bantah Mereka Akan Kirim 14.000 Pasukan ke Timur Tengah

Pentagon Bantah Mereka Akan Kirim 14.000 Pasukan ke Timur Tengah

Kamis, 05 Dec 2019 21:20

AS Akan Mulai Kembali Pembicaraan Damai dengan Taliban Setelah Lampu Hijau dari Trump

AS Akan Mulai Kembali Pembicaraan Damai dengan Taliban Setelah Lampu Hijau dari Trump

Kamis, 05 Dec 2019 20:40

Laporan: Wabah Bunuh Diri Menyapu Libanon di Tengah Krisis Ekonomi

Laporan: Wabah Bunuh Diri Menyapu Libanon di Tengah Krisis Ekonomi

Kamis, 05 Dec 2019 20:20

Libya Kumpulkan Bukti Ratusan Tentara Bayaran Rusia Bertempur Mendukung Haftar

Libya Kumpulkan Bukti Ratusan Tentara Bayaran Rusia Bertempur Mendukung Haftar

Kamis, 05 Dec 2019 19:58

Gubernur Indonesia

Gubernur Indonesia

Kamis, 05 Dec 2019 15:00

DSKS: Islam Mengharamkan Nonton Film Porno

DSKS: Islam Mengharamkan Nonton Film Porno

Kamis, 05 Dec 2019 07:09

Sebagai Pejabat Publik, Pernyataan Ganjar Pranowo Soal Film Porno Dinilai Kurang Etis

Sebagai Pejabat Publik, Pernyataan Ganjar Pranowo Soal Film Porno Dinilai Kurang Etis

Kamis, 05 Dec 2019 06:10

Serial Penistaan Agama di Alam Demokrasi

Serial Penistaan Agama di Alam Demokrasi

Kamis, 05 Dec 2019 05:30

UEA Tangkap Seorang Pengusaha Suriah Atas Permintaan dari Rezim Teroris Assad

UEA Tangkap Seorang Pengusaha Suriah Atas Permintaan dari Rezim Teroris Assad

Rabu, 04 Dec 2019 22:47

6 Muslim Malaysia Dipenjara Satu Bulan Karena Tinggalkan Shalat Jum'at Secara Sengaja

6 Muslim Malaysia Dipenjara Satu Bulan Karena Tinggalkan Shalat Jum'at Secara Sengaja

Rabu, 04 Dec 2019 22:24

Inilah 10 Tips Bunda Berbalita Sukses Hadiri Pengajian

Inilah 10 Tips Bunda Berbalita Sukses Hadiri Pengajian

Rabu, 04 Dec 2019 21:50

Atasi Stunting dengan Pelihara Seekor Ayam?

Atasi Stunting dengan Pelihara Seekor Ayam?

Rabu, 04 Dec 2019 21:34

Qadha’ Shalat di Waktu Shalat Lain

Qadha’ Shalat di Waktu Shalat Lain

Rabu, 04 Dec 2019 19:28

IHW: Negara Perlu Siapkan Anggaran Rp 56 Triliun untuk Biaya Subsidi Sertifikasi Halal

IHW: Negara Perlu Siapkan Anggaran Rp 56 Triliun untuk Biaya Subsidi Sertifikasi Halal

Rabu, 04 Dec 2019 19:10


Gamis Syari Cantik Murah Terbaru

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X