Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
5.118 views

Ritual Adat Batui dalam Timbangan Aqidah Islam (Bagian Satu)

Oleh:

Mukhlish AK, pemerhati budaya lokal

 

PADA Desember 2018 silam, dunia media sosial- terutama oleh nitizen yang berada di wilayah Kabupaten Banggai-diramaikan dengan perdebatan tentang ritual adat Batui. Hal ini dipicu dengan tersebarnya video di media sosial kegiatan ritual adat di Batui. Pada video itu, tampak sekelompok orang laki-laki dan perempuan yang sedang berdzikir yang diiringi dentuman musik gendang dan gong. Tampak pula sebagian orang yang kesurupan dengan memperagakan berbagai gaya yang berbeda.

Dari hasil konfirmasi langsung penulis pada beberapa tokoh dari Batui, acara tersebut bernama ritual mosawe yang sebelumnya diawali dengan ritual adat molabot tumpe.

Video tersebut mendapat tanggapan yang luar biasa dari masyarakat, terutama mereka yang berada di Kabupaten Banggai. Hemat penulis hal itu disebabkan setidaknya oleh dua hal yakni: pertama, sensifitas aktivis Islam terhadap hal-hal yang dianggap menyimpang dari aqidah Islam, sehingga harus diluruskan. Kedua, rasa trauma yang mendalam terhadap berbagai musibah, terutama gempa dan tsunami yang terjadi di Pasigala (Palu, Sigi dan Donggala). Masyarakat muslim menyakini bahwa musibah-musibah tersebut bukanlah terjadi secara kebetulan. Musibah tersebut sebagai peringatan atau azab dari Allah Swt. karena kemaksiatan manusia terlebih hal-hal yang berbau syirik.

Perdebatan pun terjadi, terutama di media sosial. Para aktivis Islam menyatakan bahwa mereka mengecam acara tahunan tersebut. Acara tersebut dianggap sangat kental dengan nuansa mistik bahkan syirik. Mereka pun menolak acara itu kembali diadakan bulan Desember 2018 ini. Acara tersebut dianggap sebagai acara yang dapat mengundang bencana. Apalagi, menjelang acara tersebut dilaksanakan gempa sempat terjadi beberapa kali dan cukup terasa di Wilayah Kabupaten Banggai.

Sebaliknya masyarakat Batui yang menjadi pegiat acara tersebut menyatakan bahwa acara itu adalah bentuk menjaga amanah dari leluhur yang diwujudkan dalam ritual adat ‘tumpe’ dan rasa syukur yang diwujudkan dalam bentuk ritual adat ‘mosawe’.

Bagaimana sesungguhnya tradisi ritual tumpe dan monsawe ini dalam timbangan aqidah dan syariah Islam? Penulis akan berusaha untuk menjawab masalah ini dengan tetap menjaga sikap ilmiah. Diawali memahami realitas (fakta) kedua ritual tersebut kemudian menghukuminya dengan dalil-dalil Alquran dan Hadits yang relevan.

Untuk memahami realitas ritual adat penulis mengambil sumber primer dengan melakukan interview langsung pada beberapa tokoh asli Batui yang memahami hal ini. Hanya untuk keperluan tertentu, penulis tidak menyebut namanya secara langsung. Sedangkan sebagai sumber skunder, penulis mengambil informasi dari video dan artikel tentang ritual adat Batui tersebut yang banyak tersebar diberbagai media online.

Menjadikan aqidah Islam sebagai timbangan dalam memahami masalah ritual adat Batui ini menjadi suatu keharusan. Hal itu setidaknya disebabkan oleh dua hal. Pertama, secara umum kaum muslimin memang wajib terikat pada rambu-rambu yang diajarkan oleh Allah Swt. dalam Alquran dan Hadits, sebagai konsekuensi logis dari ikrar syahadat mereka. Kedua, masyarakat Kabupaten Banggai umumnya dan Batui khususnya mayoritas beragama Islam, maka menjadikan keyakinan masyarakat mayoritas sebagai tolok ukur sangatlah relevan.

Adapun hukum adat, ia tidak boleh berdiri sendiri. Adat harus dibawah kontrol agama. Adanya semboyan “Adat bersendikan Syara’/kitabullah”, membuktikan bahwa para pendahulu kita telah berusaha memposisikan adat dalam bimbingan agama. Para ulama juga telah merumuskan bahwa salah satu sumber hukum Islam adalah adat atau ‘urf (walau dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat)[1], tentu dengan batasan adat yang tidak menyimpang dari syara’. Sehingga menjadikan hukum adat terlepas dari hukum agama adalah sikap yang tidak tepat.

Penelitian sederhana ini hanya ingin menunjukkan pada khalayak, mana diantara dua pendapat diatas yang berpijak pada nash-nash agama sehingga layak untuk dijadikan pegangan dan mana pendapat yang tidak berpijak pada nash-nash agama sehingga layak untuk ditinggalkan.

 

B. POKOK MASALAH

Makalah atau artikel akan membahas 2 pokok masalah yakni :

1. Bagaimana realitas pelaksanaan ritual adat Molabot Tumpe dan Mosawe?

2. Bagaimana pandangan Islam (aqidah dan syariah) terhadap pelaksanaan ritual adat Molabot Tumpe dan Mosawe?

C. PEMBAHASAN

1. Realitas Adat Molabot Tumpe dan Mosawe

a. Sejarah singkat munculnya Molabot Tumpe dan Mosawe

Menurut sumber hasil interview (sebut saja Bapak Amir[2]), yang hal ini juga dapat dibaca diberbagai media on line, adat tumpe dan mosawe ini ada sebagai bagian dari hasil interaksi sejarah antara Kerajaan Banggai, Kerajaan Batui dan Jawa. Dimana raja Banggai yang memiliki menantu anak raja Batui. Raja Banggai ini memiliki burung Maleo.

Terdapat beberapa versi tentang asal muasal burung maelo tersebut. Pertama, menurut Amir, burung tersebut adalah milik raja banggai. Suatu ketika burung maleo ini dibawa ke pulau Jawa. Namun di Pulau Jawa burung ini tidak bisa berkembang. Sang burung meleo pun akhirnya dibawa kembali ke Banggai.[3] Kedua, menurut Arifin Ahmad, burung tersebut memang berasal dan dibawa dari Pulau Jawa.[4] Ketiga, menurut Haji Jabar, burung itu dari Batui. Dahulu Raja Motindok dari Batui memberikan burung maleo sebagai hadiah pada Abu Kasim, cucunya di Banggai. Namun karena di Banggai tidak ada pasir, burung maleo tidak bisa bertelur, maka dikembalikan lagi ke Batui.[5] Pada hal ini sudah menimbulkan masalah, versi mana yang tepat?

Namun ketiga narasumber sepakat bahwa di Pulau Banggai sang burung maleo tidak dapat bereproduksi. Sang maleo dibawa ke Batui dengan suatu perjanjian, bahwa telur pertama dari sang maleo harus diantarkan ke Banggai, sebagai sang pemilik sesungguhnya dari sang burung. Karena dataran Batui memiliki pasir yang bagus, menjadikan sang meleo dapat kembang dengan baik.

Terjadilah adat mengantar telur pertama maleo dari masyarakat Batui ke Banggai. Menurut Baharuddin H. Shaleh tradisi tersebut sudah dimulai tahun 1621 M hingga hari ini.[6] Acara tersebut terus dilaksanakan hingga hari ini sebagai amanah (sumpah) dari leluhur mereka. Peristiwa inilah yang disebut sebagai ritual adat molabot tumpe. Setelah mengantar telor itu masyarakat Batui melakukan syukuran atas ditunaikan amanah itu, inilah yang disebut dengan ritual mosawe.

Sayangnya, menurut Amir, sejarah ini hanya berupa cerita dari mulut ke mulut dan tidak ada manuskrip sehingga sangat mungkin terjadi penambahan.

 

2. Gambaran Ritual Tumpe dan Mosawe

Ritual adat tumpe adalah ritual yang diadakan dalam mengantarkan telur pertama dari para burung maleo. Bagaimana menentukan telur itu sebagai telur pertama? Masyarakat Batui memahami dari warna cangkangnya. Biasa cangkang yang berbintik-bintik, itu adalah yang lebih duluan keluar. Sedangkan telur baru cangkangnya lebih bersih.[7]  

Sayangnya saat ini, burung maleo ini telah langka. Hal ini sebabkan hutan Bangkiriang, tempat burung maleo telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Untuk mendapatkan telur itu, masyarakat Batui tak jarang harus membelinya dari daerah Bungku, Morowali[8] maupun tempat-tempat lain.[9]

Prosesi molabot tumpe, akan diawali dengan pengumpulan telur burung maleo oleh perangkat adat Batui sebanyak 160 butir. Setelah itu telur dikumpulkan di rumah ketua adat, dilanjutkan dengan menyiapkan perahu dan pengantar telur maleo sebanyak 7 orang, terdiri 3 orang dari ketua-ketua adat dan 4 orang pendayung. Sebelum diberangkatkan ke Banggai, telur maleo akan dibungkus dengan daun komunong (sejenis Daun Palma).[10] Walau dalam berbagai video tampak bahwa  rombongan pengantar telur ini berjumlah cukup banyak.[11]

Bagi masyarakat Batui belum boleh memakan telur burung maleo selama telur tersebut belum dipersembahkan (diantar) ke Banggai. Konon bila ada masyarakat Batui yang melanggar ketentuan, biasanya akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya sakit. Dan bila itu terjadi dan kebetulan kulit telur maleo jatuh ke sungai atau ke laut, maka kulit tersebut akan hanyut sampai ke Banggai. Kejadian itu lazimnya akan mendatangkan hujan deras dan angin kencang.[12]

Bersambung...

 

Catatan kaki:

[1] Tentang masalah ini, bisa dibaca dalam berbagai Kitab Ushul Fiqh.

[2] Beliau adalah salah satu tokoh Batui yang tinggal di Luwuk.

[3] Hasil Interview penulis

[4] Lihat Video: Batui full Movie

[5] Lihat : https://foto.kompas.com/ photo/detail/ 2016/12/05/ 1480953089-a4a98df0-395/tumpe-ritual-menjaga-tradisi-di-batui.

[6]  Lihat video: Batui Full Movie

[7] lihat penjelasan dari seorang narator dalam video: Batui Full Movie

[8] lihat penjelasan dari seorang narator dalam video: Batui Full Movie

[9] Penulis sendiri ketika melakukan perjalanan menuju Palu mendapatkan informasi bahwa para pengumpul telur burung maleo di Sabo, Tojo Una-Una, biasa menjual telur-telur tersebut pada karyawan PT. DS LNG Batui. Hemat penulis, telur tersebut juga untuk kepentingan ritual adat tumpe.

[10]http://chesachyntia.student.umm.ac.id/2016/08/24/budaya-kota-luwuk-banggai-sulawesi-tengah.

[11] Lihat video di Youtobe yang berjudul: Melihat Rangkaian Upacara Adat Melabot Tumbe untuk Penjemputan telur Burung Maleo, News MNCTV.

[12]http://chesachyntia.student.umm.ac.id/

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Liberalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Santri TPQ Melepuh Terperosok Abu Panas, Tangannya Harus Diamputasi, Ayo Bantu..!!

Santri TPQ Melepuh Terperosok Abu Panas, Tangannya Harus Diamputasi, Ayo Bantu..!!

Sudah tiga puluh lima hari Khanza (5) meringkuk di atas tempat tidur. Tubuh santri Taman Al-Quran ini melepuh terluka bakar 40 persen. Tangan kirinya harus diamputasi karena hangus tak berbentuk....

Ayo Berbagi untuk Yatim, Jompo dan Lansia. Raih Peluang Surga dan Amalan Jihad.!!

Ayo Berbagi untuk Yatim, Jompo dan Lansia. Raih Peluang Surga dan Amalan Jihad.!!

IDC akan menggelar santunan yatim, jompo dan lansia bertepatan dengan peresmian Mushalla Al-Fatihah Tasikmalaya. Mari berjihad bersama Yatim dan dhuafa, peluang masuk surga bersama Nabi sedekat...

[Sakit Langka] Sekujur Kulit Luka Mengelupas, Ustadzah Maula Tak Bisa Berdakwah, Ayo Bantu.!!

[Sakit Langka] Sekujur Kulit Luka Mengelupas, Ustadzah Maula Tak Bisa Berdakwah, Ayo Bantu.!!

Pengasuh Madrasah Diniyah Tarbiyatut Tholabah Purbalingga ini diuji Allah dengan penyakit langka. Kulit di sekujur tubuhnya mengelupas, bersisik, luka bernanah, gatal dan nyeri cekot-cekot....

Pekan Ketiga IDC Serahkan Bantuan 29 Juta, Khaulah Bayi Prematur Masih Kristis. Ayo Bantu..!!

Pekan Ketiga IDC Serahkan Bantuan 29 Juta, Khaulah Bayi Prematur Masih Kristis. Ayo Bantu..!!

Di pekan ketiga IDC sudah serahkan donasi 29 juta rupiah untuk biaya perawatan Khaulah Kamilah. Bayi prematur anak ustadz aktivis dakwah ini masih dirawat intensif inkubator di rumah sakit Anna...

Lahir Prematur, Anak Ustadz Pesantren Kritis di Rumah Sakit. Ayo Bantu.!!!

Lahir Prematur, Anak Ustadz Pesantren Kritis di Rumah Sakit. Ayo Bantu.!!!

Sudah 6 hari Kamilah tergolek kritis di rumah sakit. Terlahir prematur nafasnya terganggu, paru-paru belum sempurna, dan infeksi darah. Ustadz Fadhil, sang ayah adalah guru pesantren dan aktivis...

Latest News
Soal RUU P-KS, AILA Indonesia Nilai Anggota Dewan Inkonsistensi

Soal RUU P-KS, AILA Indonesia Nilai Anggota Dewan Inkonsistensi

Jum'at, 20 Sep 2019 12:56

Santri TPQ Melepuh Terperosok Abu Panas, Tangannya Harus Diamputasi, Ayo Bantu..!!

Santri TPQ Melepuh Terperosok Abu Panas, Tangannya Harus Diamputasi, Ayo Bantu..!!

Jum'at, 20 Sep 2019 10:16

Dewan Pengawas KPK? Wow...Keren!

Dewan Pengawas KPK? Wow...Keren!

Kamis, 19 Sep 2019 23:53

India Klaim Sudah Mencabut 93% Pembatasan di Kashmir

India Klaim Sudah Mencabut 93% Pembatasan di Kashmir

Kamis, 19 Sep 2019 23:30

Dubes Saudi untuk London Sebut Pembunuhan Khashoggi Sebagai Noda

Dubes Saudi untuk London Sebut Pembunuhan Khashoggi Sebagai Noda

Kamis, 19 Sep 2019 22:03

Bom Bunuh Diri Tewaskan 20 Orang di Afghanistan

Bom Bunuh Diri Tewaskan 20 Orang di Afghanistan

Kamis, 19 Sep 2019 21:56

Laporan: Kabut Asap Akibat Kebakaran Hutan Indonesia Capai Provinsi Selatan Thailand

Laporan: Kabut Asap Akibat Kebakaran Hutan Indonesia Capai Provinsi Selatan Thailand

Kamis, 19 Sep 2019 21:05

Kerjakan Shalat Sunnah di Rumah agar Tak Jadi 'Kuburan'

Kerjakan Shalat Sunnah di Rumah agar Tak Jadi 'Kuburan'

Kamis, 19 Sep 2019 21:00

Israel Tahan 23 Warga Palestina dalam Serangan di Tepi Barat

Israel Tahan 23 Warga Palestina dalam Serangan di Tepi Barat

Kamis, 19 Sep 2019 20:47

Prancis: Klaim Syi'ah Houtsi Mereka Penyerang Fasilitas Minyak Saudi 'Tidak Terlalu Kredibel'

Prancis: Klaim Syi'ah Houtsi Mereka Penyerang Fasilitas Minyak Saudi 'Tidak Terlalu Kredibel'

Kamis, 19 Sep 2019 20:35

UEA Bergabung dengan Koalisi Pimpinan AS untuk Lindungi Jalur Laut Timur Tengah

UEA Bergabung dengan Koalisi Pimpinan AS untuk Lindungi Jalur Laut Timur Tengah

Kamis, 19 Sep 2019 20:00

Kandidat Presiden Tunisia Masih Tetap di Penjara

Kandidat Presiden Tunisia Masih Tetap di Penjara

Kamis, 19 Sep 2019 19:42

Menkeu Saudi Sebut Serangan Terhadap Ladang Minyak Aramco Tidak Memiliki Dampak Pada Ekonomi

Menkeu Saudi Sebut Serangan Terhadap Ladang Minyak Aramco Tidak Memiliki Dampak Pada Ekonomi

Kamis, 19 Sep 2019 19:15

Serangan Udara AS Tewaskan 30 Warga Sipil di Nangarhar Afghanistan

Serangan Udara AS Tewaskan 30 Warga Sipil di Nangarhar Afghanistan

Kamis, 19 Sep 2019 18:30

Menlu AS dan Pangeran Salman Diskusikan Serangan Terhadap Fasilitas Minyak Saudi

Menlu AS dan Pangeran Salman Diskusikan Serangan Terhadap Fasilitas Minyak Saudi

Kamis, 19 Sep 2019 18:24

120 Orang Tewas atau Terluka dalam Serangan Taliban di Markas Intelijen Afghanistan di Zabul

120 Orang Tewas atau Terluka dalam Serangan Taliban di Markas Intelijen Afghanistan di Zabul

Kamis, 19 Sep 2019 17:44

Nahrawi dan Moralitas Islam Nusantara

Nahrawi dan Moralitas Islam Nusantara

Kamis, 19 Sep 2019 10:57

Berdoa untuk Kebebasan Kivlan Zen

Berdoa untuk Kebebasan Kivlan Zen

Kamis, 19 Sep 2019 10:23

Islamophobia Dijadikan Komoditas Politik

Islamophobia Dijadikan Komoditas Politik

Kamis, 19 Sep 2019 09:23

Menyoal Film The Santri

Menyoal Film The Santri

Kamis, 19 Sep 2019 08:40


Gamis Syari Cantik Murah Terbaru

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X

Rabu, 18/09/2019 18:09

Kejanggalan Dewan Pengawas KPK