Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
5.473 views

Indonesia Terancam Radikalisme: Fakta Atau Mitos? (Bagian 2)

 

Oleh:

Imam Shamsi Ali

Presiden Nusantara Foundation

 

ADA satu realita yang tidak mungkin diingkari oleh siapapun. Bahwa pada semua bangsa ada dinamika sosial dan hiruk pikuk komunal yang terjadi dari masa ke masa. Dan tidak jarang dinamika sosial itu justeru berwajah yang buruk (ugly face).

Wajah buruk dari dinamika sosial yang terjadi itu yang biasa saya sebutkan sebagai “gesekan sosial” pada bangsa-bangsa dunia. Dan saya berani mengatakan bahwa tak satu pun bangsa di dunia ini yang terjaga (immune) darinya.

Amerika yang kita kenal di mana-mana membanggakan diri sebagai “the champion of democracy” ternyata sejarahnya penuh dengan titik kelam itu. Di masa lalu kita kenal gerakan kulit hitam untuk hak-hak sipil mereka. Atau yang lebih dikenal dengan “civil rights movement” di bawah komando oleh Martin Luther Junior Jr.

Bahkan dunia Barat yang dianggap paling getol mengkampanyekan HAM di berbagai belahan dunia kini berdarah-darah dengan prilaku kelompok “White Supremacy”.  Kelompok terroris Putih ini kini disejajarkan, bahkan dianggap lebih berbahaya dari ancaman Al-Qaidah bahkan ISIS.

Tapi adilkah jika kasus-kasus yang terjadi di Amerika dan di Barat secara umum itu dijadikan sebagai “trade mark” negara-negara itu? Itu tidak.

Sebagai seorang Muslim yang telah cukup lama tinggal di negara ini (US) saya berani mengatakan bahwa Amerika adalah bangsa yang toleran. Bangsa yang secara mendasar menghargai semua pemeluk agama-agama. Dan itu pula yang menjadikan Islam hingga kini menjadi agama dengan perkembangan tercepat.

Demikian sesungguhnya selayaknya kita dalam memandang Indonesia. Indonesia bukanlah bangsa yang sempurna dalam toleransi dan kerukunan. Baik itu toleransi dan kerukunan antar Umat beragama. Juga toleransi dan kerukunan dalam hubungan antar ras dan etnis di negara ini. Di sana-sini kasus-kasus gesekan sosial itu.

Akan tetapi dunia yang masih jujur akan mengakui bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam toleransi. Sejarah mencatat dengan baik bagaimana  masyarakat Muslim tidak sungkan-sungkan membantu tetangga-tetangga non Muslimnya. Demikian sebaliknya, teman-teman non Muslim membantu tentangga-tetangga Muslim mereka.

Karakter gotong royong adalah darah daging kebangsaan mereka. Dan karenanya walau gotong royong itu secara esensi adalah agama, tapi tidak diakui secara ekslusif oleh agama tertentu. Justeru karakter itu lebih dominan difahami sebagai karakter kebangsaan.

Itu pula sebabnya kenapa Umat Islam Indonesia yang sekitar 87% dari keseluruhan populasi negeri, merangkul dengan lapang dada teman-teman yang kebetulan beragama lain untuk bersama-sama membangun bangsa dan negara ini.

Bahkan jika kita jujur, akan diakui ada masa-masa tertentu dalam perjalanan bangsa ini di mana justeru teman-teman non Muslim memilki kelebihan-kelebihan sosial (social privileges) baik secara ekonomi maupun politik. Sesuatu yang kelompok minoritas di negara-negara lain belum tentu dapatkan.

Dalam menilai sebuah negara tentu tidak cukup dengan prilkau masyarakatnya. Karena jika itu menjadi batasan, maka hampir semua negara Barat Sekarang ini berada dalam intoleransi yang dalam. Diskriminasi dan tekanan kepada minoritas di negara-negara Eropa, ambillah sebagai contoh Belgia, sedang meninggi.

Sebuah negara sejatinya pertama kali dinilai dari dari dasar dan falsafah kehidupan publiknya. Dan Indonesia harus bangga dengan Pancasila dan UUD 45 yang sangat inklusif merangkul semua warganya.

Saya tidak perlu lagi ulangi semua fakta sejarah lapang dada pemimpin Umat di masa lalu. Saya juga tidak perlu sebut lagi semua contoh-contoh pengorbanan Umat Islam Indonesia sebagai penduduk terbesar di negeri ini. Saya istilahkan pengorbanan karena seringkali harus mengorbankan perasaan, bahkan kepentingan demi maslahah yang lebih besar untuk bangsa.

Lalu dari mana asal usul tuduhan radikalisme yang dianggap sebuah ancaman itu?

Saya melihat ada beberapa penyebab utama kenapa Indonesia dan Umat Islam Indonesia secara khusus berusaha untuk dilabel sebagai bangsa atau Umat radikal.

Pertama, adanya individu-individu yang memang cenderung keras, tanpa pertimbangan metode dan komunikasi yang bijak dalam memperjuangkan apa yang dianggap ideal untuk Umat. Tapi sekali lagi, dapatkah perlakuan individu-individu dan terbatas (limited) itu dilabel sebagai radikalisme sebuah bangsa atau Umat?

Kedua, diakui atau tidak, memang dari dulu ada kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu dari kalangan Umat ini. Tapi hal ini merupakan fenomena insidental yang umumnya terpicu oleh keadaan tertentu. Di masa Orba misalnya ada beberapa kasus yang terpicu oleh tekanan penguasa atas nama stabilitas.

Masalahnya kemudian gerakan-gerakan anti negara itu tidak saja dilakukan oleh Umat Islam. Di daerah-daerah tertentu yang kebetulan bukan mayoritas Muslim juga terjadi. Papua dan Timtim sebagai misal. Tapi agama mereka tidak perlu diseret ke dalam tindakan kekerasan itu. Lalu kenapa jika yang melakukan itu kebetulan beragama Islam, agama dan Umat secara keseluruhan harus dilibatkan?

Ketiga, agama dan politik memang selalu menjadi isu sensitif. Kerap kali terjadi ketika agama dilibatkan dalam politik terjadi degradasi nilai agama itu sendiri.

Tapi salahkah ketika pengikut agama menjadikan agamanya sebagai “nilai dan acuan” dalam aktifitas politiknya?

Harusnya tidak selalu salah. Di beberapa negara Barat ternyata juga menjadikan agama sebagai basis gerakan politiknya. Jerman sebagai misal, menjadikan Protenstan sebagai dasar politik dan menejemen publik negara.

Lalu kenapa ketika Islam dipakai oleh sebagian sebagai identitas politiknya semua tiba-tiba menjadi kritis dengan isitlah “politik identitas” (political identity). Kenapa harus “double standard” dalam menyikapinya?

Jadi isunya bukan agama. Isunya bagaimana menempatkan agama dalam pergerakan politik negara. Saya kira kembali kepada kesadaran, pemahaman dan kedewasaan pemeluk agama masing-masing.

Lalu adilkah ketika umat Islam menjadikan agamanya sebagai motivasi dan acuan politiknya dituduh radikal? Tidakkah harusnya semua orang diberikan kesempatan membuktikan hal itu dalam tatanan demokrasi yang disepakati? Biarlah sejarah yang membuktikan.

Keempat, saya mengakui bahwa Umat Islam Indonesia memang mulai sadar untuk melakukan “self empowerment”. Sedemikian lama Umat Islma Indonesia merasakan ketidak adilan, khususnya di bidang politik dan ekonomi. Lalu kenapa di saat mereka berjuang untuk ”self empowerment” itu  mereka dilabel radikal?

Dunia memang sering aneh dan terbalik. Terkadang perjuangan untuk keadilan dilabel pemberontakan, bahkan terorisme. Itu yang kita lihat di berbagai belahan dunia. Perjuangan Saudara-Saudara Palestina untuk kemerdekaan dibalik menjadi pemberontakan dan terorisme.

Saya khawatir ini juga di Indonesia. Usaha-usaha atau perjuangan Umat untuk membangun diri dianggap sikap intoleran. Umat hanya akan diapresiasi ketika merelakan diri menjadi korban-korban untuk kepentingan orang lain.

Kelima, saya juga melihat bahwa ada saja pihak-pihak yang berusaha mencari-cari kesalahan orang lain, bahkan dibuat-buat, sebagai bagian dari dendam politik. Saya curiga tuduhan radikal kepada umat ini juga karena ada dendam politik.

Semoga pandangan saya ini salah. Tapi sejak kesadaran politik umat terbangun, khususnya pasca 212, ada pihak-pihak yang gerah. Gerakan 212 dibangun sedemikian rupa dan sistimatis sebagai wajah radikalisme Umat Islam Indonesia.

Diakui atau tidak, gerakan 212 cukup signifikan berperan dalam pilkada DKI yang berhasil membawa Dr. Anies Baswedan ke kursi Gubernur Ibukota RI. Sejak dulu dibangun sebuah persepsi jika sang gubernur adalah pilihan kaum radikal. Dan Aroma resistensi itu terasa hingga sekarang.

Padahal terlepas dari dorongan politisnya, gerakan 212 adalah gebrakan fenomenal politik Umat Islam Indonesia dalam tatanan demokrasi yang dinamis. Seharusnya bukan ditakuti. Justeru diapresiasi sebagai bagian dari indikasi sehat partisipasi politik dan demokrasi umat Islam Indonesia yang solid.

Akhirnya saya ingin mengatakan tuduhan radikalisme kepada Umat Islam Indonesia adalah tuduhan yang salah alamat, tuduhan yang tidak jujur sekaligus tidak adil. Salah alamat karena tuduhan itu pada galibnya berdasarkan asumsi yang terbangun, khususnya di media massa.

Tidak jujur karena secara sistimatis menyembunyikan segmen terbesar Umat yang sangat toleran, bahkan “over tolerant”. Umat yang terjadang menerima dirugikan demi kemaslahatan bersama yang lebih besar. Demi NKRI terkadang umat ini mengurut dada atas kasus kekerasan yang menimpa saudara-saudaranya. Kasus pembunuhan di Papua misalnya.

Dan tidak adil karena tuduhan intoleransi itu didasarkan kepada kasus-kasus yang terjadi secara sporadis yang diakibatkan oleh faktor-faktor eksternal, termasuk ketidak adilan politik dan ekonomi. Bukan karena dorongan agama itu sendiri.

Karenanya saya ingatkan Saudara-Saudaraku sesama diaspora Indonesia di mana saja. Jangan memburuk-burukkan bangsa karena kasus-kasus. Semua bangsa di dunia punya kasus yang mencoreng wajahnya masing-masing.

Sebaliknya kita warga Indonesia di luar negeri, baik yang masih memegang paspor Indonesia maupun yang telah ganti paspor, tetap punya tanggung jawab untuk menjaga nama baik bangsa dan negara. Karena Indonesia adalah rumah besar kita bersama untuk dijaga dan dibesarkan.

Kita keluarga NKRI. Walau terkadang ada perbedaan-perbedaan di antara anggota kekuarga itu. Semoga!*

Tulisan sebelumnya: Indonesia Terancam Radikalisme: Fakta atau Mitos?

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Intelligent Leaks lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Ayo bantu dede bayi ini, kekurangan biaya persalinan cessar di Rumah Sakit Banjar sebesar 5 juta rupiah. Sang ayah adalah aktivis Islam, dikenal pendekar bela diri yang sedang terkendala ekonomi....

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Hijrah memeluk Islam, Rudy Chow tinggalkan bisnis peralatan sembahyang Vihara. Ia jadi pengangguran dan ekonominya ambruk....

IDC Tunaikan Beasiswa Muallaf Maria di Universitas Brawijaya Malang

IDC Tunaikan Beasiswa Muallaf Maria di Universitas Brawijaya Malang

Alhamdulillah, kini Maria muallaf mahasiswi Universitas Brawijaya bisa bernafas lega. Yayasan IDC menyalurkan amanah dari para donatur, sebesar Rp 66.648.300 untuk membantu beasiswa pendidikan...

Wakaf Speaker Mushalla Gunung Sri Tasikmalaya, Dapatkan Pahala yang Terus Mengalir

Wakaf Speaker Mushalla Gunung Sri Tasikmalaya, Dapatkan Pahala yang Terus Mengalir

Sudah 13 tahun mushalla ini menjadi sentral dakwah di kampung Gunung Sri, Tasikmalaya. Namun mushalla ini belum memiliki alat pengeras suara. Diperlukan dana 5 juta rupiah. Ayo Bantu....

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Sejak balita ia ditinggal wafat sang ayah, menyusul sang ibunda wafat dua tahun silam. Segala kesulitan, kesedihan dan keruwetan hidup, kini harus dipikul sendiri. ...

Latest News
Pakistan Batalkan Hukuman Mati Jihadis Pembunuh Wartawan AS Daniel Pearl

Pakistan Batalkan Hukuman Mati Jihadis Pembunuh Wartawan AS Daniel Pearl

Kamis, 02 Apr 2020 20:30

Menteri Kesehatan Israel Positif Terinfeksi COVID-19

Menteri Kesehatan Israel Positif Terinfeksi COVID-19

Kamis, 02 Apr 2020 20:00

Cegah Covid-19, SAR Ditpolairud Polda Aceh Semprot Disinfektan di SMA Negeri 15 Adidarma

Cegah Covid-19, SAR Ditpolairud Polda Aceh Semprot Disinfektan di SMA Negeri 15 Adidarma

Kamis, 02 Apr 2020 19:29

Pemerintah Afghanistan Adakan Pembicaraan Pertukaran Tahanan dengan Delegasi Taliban di Kabul

Pemerintah Afghanistan Adakan Pembicaraan Pertukaran Tahanan dengan Delegasi Taliban di Kabul

Kamis, 02 Apr 2020 18:51

Update 2 April 2020 Infografik Covid-19: 1790 Positif, 112 Sembuh, 170 Meninggal

Update 2 April 2020 Infografik Covid-19: 1790 Positif, 112 Sembuh, 170 Meninggal

Kamis, 02 Apr 2020 18:40

Interupsi Paripurna DPR, Mardani Minta Warteg, Ojol, Sopir, hingga Asongan Didahulukan Bantuan

Interupsi Paripurna DPR, Mardani Minta Warteg, Ojol, Sopir, hingga Asongan Didahulukan Bantuan

Kamis, 02 Apr 2020 18:08

Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung Gelar Ujian Komprehensif Daring

Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung Gelar Ujian Komprehensif Daring

Kamis, 02 Apr 2020 17:44

Pasukan Israel Curi Bantuan Makanan dan Medis untuk Warga Palestina Terdampak Wabah Virus Corona

Pasukan Israel Curi Bantuan Makanan dan Medis untuk Warga Palestina Terdampak Wabah Virus Corona

Kamis, 02 Apr 2020 16:35

Efek Wabah Corona, Jamaah Meunasah Lamduro Darussalam Bagikan Sembako Untuk Keluarga Miskin

Efek Wabah Corona, Jamaah Meunasah Lamduro Darussalam Bagikan Sembako Untuk Keluarga Miskin

Kamis, 02 Apr 2020 16:13

Kafir, Meninggalkan Shalat Jumat Tiga Kali karena Corona? Berikut Penjelasan KH Cholil Nafis

Kafir, Meninggalkan Shalat Jumat Tiga Kali karena Corona? Berikut Penjelasan KH Cholil Nafis

Kamis, 02 Apr 2020 14:57

Pasukan Rezim Assad dan Milisi Syi'ah Dukungan Iran Mulai Jarah Properti Warga Sipil di Idlib

Pasukan Rezim Assad dan Milisi Syi'ah Dukungan Iran Mulai Jarah Properti Warga Sipil di Idlib

Kamis, 02 Apr 2020 14:45

Jangan Paranoid!

Jangan Paranoid!

Kamis, 02 Apr 2020 13:53

35 Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah  Rawat 1084 Pasien Covid-19

35 Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Rawat 1084 Pasien Covid-19

Kamis, 02 Apr 2020 12:27

Politisi Golkar: Larangan Mudik Harus Sertakan Sanksi

Politisi Golkar: Larangan Mudik Harus Sertakan Sanksi

Kamis, 02 Apr 2020 08:30

Saleh Daulay: PSBB Belum Tentu Berjalan Efektif

Saleh Daulay: PSBB Belum Tentu Berjalan Efektif

Kamis, 02 Apr 2020 07:46

Nasir Djamil Apresiasi Pemulangan Tujuh TKA China di Aceh

Nasir Djamil Apresiasi Pemulangan Tujuh TKA China di Aceh

Kamis, 02 Apr 2020 06:55

Corona dan Status Darurat Kesehatan

Corona dan Status Darurat Kesehatan

Kamis, 02 Apr 2020 04:50

Angka Kematian Corona di DKI Tertinggi, DPRD Heran Pemerintah Pusat Tolak Karantina Wilayah

Angka Kematian Corona di DKI Tertinggi, DPRD Heran Pemerintah Pusat Tolak Karantina Wilayah

Kamis, 02 Apr 2020 01:21

Keimanan dan Kemanusiaan

Keimanan dan Kemanusiaan

Rabu, 01 Apr 2020 23:43

Gugur di Medan Juang

Gugur di Medan Juang

Rabu, 01 Apr 2020 22:48


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X