Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
5.949 views

Indonesia Terancam Radikalisme: Fakta atau Mitos?

Oleh:

Imam Shamsi Ali

 

“Saya ngeri sekali. Akhir-akhir ini Indonesia kok mengerikan. Saya tidak lagi mengenal Indonesia yang seperti dulu. Indonesia tidak lagi toleran. Kerukunan antar umat beragama bersobek-sobek. Indonesia berubah total dari bangsa yang moderat menjadi bangsa yang radikal. Kini Indonesia berada di ambang kahancurannya”. 

Demikian sekilas pernyataan seorang peserta diskusi di sebuah universitas di Jerman. Hadir di acara itu beberapa Professor, mahasiswa/mahasiswi jurusan studi Asean. Diskusi di moderatori oleh Ketua jurusan studi Asean. Beliau orang asli Jerman yang pernah menetap di Makassar beberapa tahun. 

Tema yang saya bawakan di acara diskusi umum itu adalah “posisi Islam dalam perpolitikan modern di Indonesia”. Tentu sebuah tema yang faktual dan sedang ramai diperbincangkan di mana-mana, termasuk di luar negeri. 

Sejujurnya saya mengakui bahwa tema itu cukup berat dan menantang. Berat karena memang bukan spesialisasi saya. Menantang karena saya pribadi tidak terlalu tertarik untuk membahas isu-isu politik. Walau saya cukup sadar politik. 

Tapi saya terima karena memang menjadi bagian dari misi perjalanan saya ke Eropa. Yaitu ingin menyampaikan salah satunya, bahwa di negara Indonesia agama (baca Islam) dan demokrasi saling bergandengan tangan. 

Sebagai negara Muslim terbesar dunia, Indonesia patut berbangga bahwa ketika Islam dituduh anti demokrasi, justeru Indonesia membuktikan sabaliknya dengan realita. Karena Indonesia sekaligus adalah demokrasi terbesar ketiga dunia. 

Saya memulai pemaparan saya sebagaimana biasanya dengan menyampaikan sejarah kehadiran Islam di bumi Nusantara. Bahwa tidak seperti pada beberapa negara lainnya, Islam hadir di Nusantara dengan cara damai. Bahkan melalui penetrasi prilaku sosial manusia dan kultur. 

Ini yang menjadikan praktek sosial Islam di Indonesia secara mendasar sangat damai. Tapi juga tidak mengeliminir budaya-budaya lokal yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar agama. 

Penjelasan saya ini sesungguhnya bukan sesuatu yang baru. Karena sejatinya memang secara sosial kemanusiaan ketika Islam hadir di sebuah tempat tidak mengganti budaya orang. Justeru hal-hal yang telah baik dikonfirmasi dan diafirmasi. 

Mungkin dalam bahasa Islam yang lebih populer, Islam hadir tidak untuk menghapus dan mengganti praktek budaya dan nilai sosial masyarakat setempat. Melainkan hadir untuk menyempurnakan (li itmaam). 

Itulah yang pernah digambarkan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya: “sesungguhnya aku diutus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak manusia”. 

Akhlak manusia itulah yang terpatri pada nilai sosial dan praktek budayanya. Prilaku sosial dan budaya manusia Nusantara terwakili dalam prilaku Keindonesiaan yang santun, sopan, ramah, gotong royong, tatakrama, mudah senyum, rendah hati, mudah bergaul, dan seterusnya. 

Presentasi saya sebenarnya berusaha menghindari isu-isu mutakhir yang cukup kontroversial sekaligus sensitif bagi sebagian orang. Saya menghindari membicarakan pilpres yang baru saja berlalu. Bahkan saya menghindari membicarakan isu “212” yang pernah dihebohkan beberapa waktu lalu. 

Namun demikian dalam sesi tanya tawab semua itu tidak lagi bisa dihindarkan. Beberapa peserta misalnya bahkan tidak setuju dan menganggap jika Islam dikatakan masuk ke bumi Nusantara secara damai itu sebuah mitos.

Ada pula yang menganggap gerakan 212 sebagai bentuk “intoleransi sekaligus arogansi” mayoritas atas minoritas. Bahkan dalam pemahamannya harusnya kata itu (mayoritas-minoritas) dihapus tatanan demokrasi ditiadakan. 

Tapi yang menarik perhatian saya, sekaligus menjadikan saya tertarik membahasnya kali ini adalah pemaparan pembuka (Opening statement) dari seorang Professor ahli Asean yang menyimpulkan bahwa Indonesia saat ini memang berada dalam ancaman radikalisme yang sangat berbahaya. 

Tidak tanggung-tanggung mengutip beberapa pernyataan dari beberapa orang yang berafiliasi ke organisasi-organisasi besar yang punya otoritas keislaman di Indonesia. Disebutkan antara lain Majelis Ulama Indonesia, Muhammadiyah dan juga Nahdhotul Ulama. 

Kesimpulan itu tentu bagi saya tidak saja sangat mengejutkan. Tapi juga sangat mengganggu dan meresahkan. Mengejutkan karena data-data yang dipakai adalah pernyataan oknum-oknum yang kebetulan berafiliasi dengan organisasi-organisasi nasional Islam. 

Mengganggu dan meresahkan karena saya yakin pendapat dan pernyataan oknum tidak logis, apalagi dalam pemaparan yang diakui “ilmiah” untuk dijadikan basis dalam menilai sebuah institusi. 

Lebih dari itu juga mengganggu dan meresahkan karena terjadi “penyempitan” makna radikalisme agama dengan “Islam” semata. Seolah di negara ini yang berpendapat atau berprilaku radikal hanya dari kalangan Umat Islam. 

Padahal kenyataannya, bahkan sejarah pun berkata demikian, bahwa pada semua komunitas ada “tetesan darah” pada tangannya. Bahkan ketika saya berkeliling di tujuh negara Eropa, ada dua kejadian kekerasan yang menimpa komunitas Muslim. Hanya saja kedua peristiwa ini hilang begitu saja dari permukaan bumi. 

Yang pertama adalah penusukan seorang muazzin di Inggris. Dan yang kedua adalah penembakan di sebuah kota kecil di Jerman bernama kota Hanau. Pada peristiwa itu ada 11 orang Islam yang terbunuh.  

Kedua hal itu nampaknya tidak terlalu penting bagi dunia dan berlalu begitu saja. Bandingkan misalnya jika hal itu, bahkan jika saja ada seorang Muslim yang karena dicurigai akan melakukan (belum melakukan) tindakan teror tertangkap di sebuah kota di Amerika. Anda bisa membayangkan bagaimana respon masyarakat luas dan media khususnya. 

Sejujurnya sejarah juga menjadi saksi atas “apa dan bagaimana” toleransi para pemeluk agama di masa lalu. Saya di sini tidak mengingkari adanya “kesalahan-kesalahan” yang pernah dilakukan oleh umat Islam masa lalu. Sekali lagi, semua Komunitas punya darah di tangannya yang perlu dibersihkan.  

Tapi kalau saja kita jujur dalam melihat sajarah, anda dapat membedakan siapa yang lebih toleran dan siapa yang lebih intoleran kepada umat lain. Mungkin contoh terkecil saja. Bandingkan rumah-rumah ibadah agama masing-masing, sebelum dan sesudah penaklukkan.  

Bumi Syam (Suriah, Jordan, Palestina) itu dulu menjadi bagian dari Kerajaan Romawi. Sementara beberapa negara Barat itu dulu menjadi bagian dari kekuasaan Islam. Bagaimana anda mendapatkan rumah-rumah ibadah masing-masing Umat sebelum dab sesudah pergantian kekuasaan?   

Di tanah Syam hingga saat ini anda masih akan menemukan gereja-gereja tua nan megah berdiri dan dijaga oleh penguasa Islam dari zaman dulu hingga kini. Satu hal yang mungkin mengejutkan banyak orang adalah fakta sejarah toleransi yang dilakukan oleh Umar, Khalifaf Rasyidah kedua. Beliaulah yang mengundang kembali warga Yahudi untuk kembali menetap di Jerusalem dan bebas menjalankan agamanya.  

Sebaliknya, di negara-negara Eropa termasuk Spanyol, masjid-masjid ketika terjadi pegantian kekuasaan, kalau tidak menjadi night club, dijadikan gereja-gereja. Hingga kini jika anda ke Seville Spanyol misalnya, ada beberapa gereja megah yang didalamnya masih ada tulisan-tulisan kaligrafi. Karena dulunya gereja-gereja itu memang masjid yang dijadikan gereja pasca kejatuhan kekuasaan Islam di Eropa. 

Itulah sebabnya saya cukup terganggu dan resah ketika label radicalisme cenderung dialamatkan hanya kepada Umat ini. Padahal semua pengikut agama punya titik-titik kelam dalam perjalanan  sejarahnya masing-masing. 

Kembali kepada isu awal,  benarkah Indonesia saat ini berada diambang ancaman radikalisme yang berbahay? Benarkah bahwa negeri ini berada di ambang kehancurannya, bagaikan Irak dan Suriah? Apakah itu sebuah asumsi, bahkan mitos atau fakta? (Bersambung..) 

Dallas, 1 Maret 2020 

Sumber: Nusantarafoundation.org

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Intelligent Leaks lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Ayo bantu dede bayi ini, kekurangan biaya persalinan cessar di Rumah Sakit Banjar sebesar 5 juta rupiah. Sang ayah adalah aktivis Islam, dikenal pendekar bela diri yang sedang terkendala ekonomi....

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Hijrah memeluk Islam, Rudy Chow tinggalkan bisnis peralatan sembahyang Vihara. Ia jadi pengangguran dan ekonominya ambruk....

IDC Tunaikan Beasiswa Muallaf Maria di Universitas Brawijaya Malang

IDC Tunaikan Beasiswa Muallaf Maria di Universitas Brawijaya Malang

Alhamdulillah, kini Maria muallaf mahasiswi Universitas Brawijaya bisa bernafas lega. Yayasan IDC menyalurkan amanah dari para donatur, sebesar Rp 66.648.300 untuk membantu beasiswa pendidikan...

Wakaf Speaker Mushalla Gunung Sri Tasikmalaya, Dapatkan Pahala yang Terus Mengalir

Wakaf Speaker Mushalla Gunung Sri Tasikmalaya, Dapatkan Pahala yang Terus Mengalir

Sudah 13 tahun mushalla ini menjadi sentral dakwah di kampung Gunung Sri, Tasikmalaya. Namun mushalla ini belum memiliki alat pengeras suara. Diperlukan dana 5 juta rupiah. Ayo Bantu....

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Sejak balita ia ditinggal wafat sang ayah, menyusul sang ibunda wafat dua tahun silam. Segala kesulitan, kesedihan dan keruwetan hidup, kini harus dipikul sendiri. ...

Latest News
Interupsi Paripurna DPR, Mardani Minta Warteg, Ojol, Sopir, hingga Asongan Didahulukan Bantuan

Interupsi Paripurna DPR, Mardani Minta Warteg, Ojol, Sopir, hingga Asongan Didahulukan Bantuan

Kamis, 02 Apr 2020 18:08

Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung Gelar Ujian Komprehensif Daring

Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung Gelar Ujian Komprehensif Daring

Kamis, 02 Apr 2020 17:44

Pasukan Israel Curi Bantuan Makanan dan Medis untuk Warga Palestina Terdampak Wabah Virus Corona

Pasukan Israel Curi Bantuan Makanan dan Medis untuk Warga Palestina Terdampak Wabah Virus Corona

Kamis, 02 Apr 2020 16:35

Efek Wabah Corona, Jamaah Meunasah Lamduro Darussalam Bagikan Sembako Untuk Keluarga Miskin

Efek Wabah Corona, Jamaah Meunasah Lamduro Darussalam Bagikan Sembako Untuk Keluarga Miskin

Kamis, 02 Apr 2020 16:13

Kafir, Meninggalkan Shalat Jumat Tiga Kali karena Corona? Berikut Penjelasan KH Cholil Nafis

Kafir, Meninggalkan Shalat Jumat Tiga Kali karena Corona? Berikut Penjelasan KH Cholil Nafis

Kamis, 02 Apr 2020 14:57

Pasukan Rezim Assad dan Milisi Syi'ah Dukungan Iran Mulai Jarah Properti Warga Sipil di Idlib

Pasukan Rezim Assad dan Milisi Syi'ah Dukungan Iran Mulai Jarah Properti Warga Sipil di Idlib

Kamis, 02 Apr 2020 14:45

Jangan Paranoid!

Jangan Paranoid!

Kamis, 02 Apr 2020 13:53

35 Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah  Rawat 1084 Pasien Covid-19

35 Rumah Sakit Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Rawat 1084 Pasien Covid-19

Kamis, 02 Apr 2020 12:27

Politisi Golkar: Larangan Mudik Harus Sertakan Sanksi

Politisi Golkar: Larangan Mudik Harus Sertakan Sanksi

Kamis, 02 Apr 2020 08:30

Saleh Daulay: PSBB Belum Tentu Berjalan Efektif

Saleh Daulay: PSBB Belum Tentu Berjalan Efektif

Kamis, 02 Apr 2020 07:46

Nasir Djamil Apresiasi Pemulangan Tujuh TKA China di Aceh

Nasir Djamil Apresiasi Pemulangan Tujuh TKA China di Aceh

Kamis, 02 Apr 2020 06:55

Corona dan Status Darurat Kesehatan

Corona dan Status Darurat Kesehatan

Kamis, 02 Apr 2020 04:50

Angka Kematian Corona di DKI Tertinggi, DPRD Heran Pemerintah Pusat Tolak Karantina Wilayah

Angka Kematian Corona di DKI Tertinggi, DPRD Heran Pemerintah Pusat Tolak Karantina Wilayah

Kamis, 02 Apr 2020 01:21

Keimanan dan Kemanusiaan

Keimanan dan Kemanusiaan

Rabu, 01 Apr 2020 23:43

Gugur di Medan Juang

Gugur di Medan Juang

Rabu, 01 Apr 2020 22:48

Saudi Akan Bangun Ruang Karantina Raksasa untuk Isolasi Pesien Terinfeksi Corona dalam Sepekan

Saudi Akan Bangun Ruang Karantina Raksasa untuk Isolasi Pesien Terinfeksi Corona dalam Sepekan

Rabu, 01 Apr 2020 22:25

Delegasi Taliban Berada di Kabul untuk Memulai Proses Pertukaran Tahanan dengan Pemerintah

Delegasi Taliban Berada di Kabul untuk Memulai Proses Pertukaran Tahanan dengan Pemerintah

Rabu, 01 Apr 2020 22:06

Menguji Relevansi PSBB dan Darurat Sipil di Tengah Ancaman Corona

Menguji Relevansi PSBB dan Darurat Sipil di Tengah Ancaman Corona

Rabu, 01 Apr 2020 21:56

Tips Cermat Antisipasi Hoaks tentang Virus Corona di Internet

Tips Cermat Antisipasi Hoaks tentang Virus Corona di Internet

Rabu, 01 Apr 2020 20:46

Masyarakat Harus Sabar untuk Tinggal di Rumah Selama Pencegahan Wabah Virus Corona

Masyarakat Harus Sabar untuk Tinggal di Rumah Selama Pencegahan Wabah Virus Corona

Rabu, 01 Apr 2020 20:25


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X