Selasa, 19 Rajab 1447 H / 6 Januari 2026 14:16 wib
1.373 views
Minyak dan Mineral, Bukan Perdagangan Narkoba: Mengapa AS Menargetkan Venezuela
AMERIKA SERIKAT (voa-islam.com) - Pasukan Amerika Serikat menyerang Caracas pada dini hari Sabtu (3/1/2025), membombardir sejumlah target yang menewaskan puluhan warga sipil, pejabat, dan personel militer, serta menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya untuk, menurut klaim AS, menghadapi dakwaan perdagangan narkoba federal di New York.
Presiden Venezuela itu dikawal turun dari sebuah pesawat di Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart, Negara Bagian New York, lalu dibawa ke sebuah penjara di Brooklyn.
Selama berminggu-minggu, Presiden AS Donald Trump dan para pejabatnya menyatakan bahwa serangan terhadap Venezuela bertujuan untuk membendung arus narkotika.
Namun, segera setelah penculikan Maduro dan serangan ke Caracas, Trump mengatakan bahwa kepentingan sejati Washington adalah cadangan minyak Venezuela yang sangat besar—yang terbesar di dunia—diperkirakan sekitar 303 miliar barel, berdasarkan data OPEC.
Dalam sebuah konferensi pers di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Presiden AS mengatakan bahwa Amerika Serikat akan “menjalankan negara tersebut” untuk sementara waktu, membangun kembali infrastruktur minyak, dan “mengambil kekayaan dalam jumlah sangat besar dari dalam tanah” untuk dijual ke pasar global, termasuk kepada rival seperti China dan Rusia.
Apa yang diinginkan AS, menurut Trump dan para pejabatnya, berpusat pada minyak Venezuela—yang mereka sebut sebagai minyak milik Amerika Serikat—dengan merujuk pada nasionalisasi industri minyak Venezuela antara tahun 1970-an hingga 2000-an yang memaksa sebagian besar perusahaan minyak AS hengkang dari negara Amerika Selatan tersebut.
“Kalau Anda ingat, mereka mengambil semua hak energi kami, mereka mengambil semua minyak kami belum lama ini. Dan kami menginginkannya kembali,” kata Trump pada Desember lalu.
Minyak merupakan sektor vital bagi Venezuela, dan AS telah lama memanfaatkan pentingnya sektor ini untuk menekan negara tersebut bahkan sebelum penculikan Maduro.
Sanksi AS yang menargetkan minyak Venezuela telah menjadi elemen inti kebijakan Washington terhadap Caracas sejak 2017, khususnya di bawah arahan era Trump. Perusahaan minyak milik negara, Petróleos de Venezuela SA (PDVSA), masuk daftar hitam, dan Washington juga menerapkan pembatasan pengiriman bahan pengencer yang dibutuhkan untuk memproses minyak berat.
Sejumlah pedagang minyak, perusahaan, dan kapal pengangkut juga dijatuhi sanksi, termasuk pada bulan lalu, ketika Trump memerintahkan blokade terhadap kapal tanker minyak yang terkena sanksi agar tidak masuk atau keluar dari perairan Venezuela. Langkah ini menyebabkan setidaknya dua kapal tanker disita.
Sanksi dan tekanan AS menjadi salah satu alasan utama mengapa ekspor minyak Venezuela tidak sebanding dengan besarnya cadangan minyak yang dimiliki negara tersebut.
Ekspor minyak Venezuela rata-rata hanya sekitar 950.000 barel per hari (bph) pada November, dan “embargo minyak” AS menurunkannya menjadi sekitar 500.000 bph pada bulan lalu, menurut angka sementara berdasarkan pergerakan kapal.
Sebagai perbandingan, eksportir minyak besar seperti Arab Saudi dan Rusia mengekspor jutaan barel per hari.
“Venezuela, bagi perusahaan-perusahaan minyak Amerika, akan menjadi ladang emas,” kata anggota Kongres Partai Republik dari Florida, María Elvira Salazar, dalam wawancara terbaru dengan Fox Business.
“Perusahaan-perusahaan Amerika bisa masuk dan memperbaiki seluruh pipa minyak, rig pengeboran, dan semua hal yang berkaitan dengan… minyak dan turunannya.”
Selain minyak, Venezuela juga memiliki pasokan besar unsur tanah jarang, terutama koltan dan thorium—unsur kimia dengan sifat magnetik dan konduktivitas yang sangat penting bagi teknologi modern, ponsel, kendaraan listrik, persenjataan, dan energi terbarukan. Kekayaan ini berada di wilayah dengan keanekaragaman hayati tinggi, sumber daya air melimpah, serta akses strategis ke Laut Karibia dan Samudra Atlantik.
Pada 2023, pemerintah Venezuela menetapkan kasiterit, nikel, rhodium, titanium, dan mineral tanah jarang lainnya sebagai sumber daya strategis untuk eksplorasi, ekstraksi, dan komersialisasi sebagai bahan baku utama industri teknologi. Pasir hitam—pasar yang saat ini didominasi China—juga muncul sebagai hadiah lain yang ingin direbut Presiden AS dari rival dagangnya melalui tekanan terhadap sumber daya Venezuela, seperti:
-
Emas: Venezuela termasuk salah satu produsen emas utama di Amerika Latin.
-
Koltan: Digunakan dalam baterai dan elektronik, dengan cadangan besar di wilayah Amazon.
-
Litium: Unsur penting bagi kendaraan listrik dan penyimpanan energi.
Kini, setelah Venezuela, siapa berikutnya di Amerika Latin?
Pada Ahad, Trump mengancam akan mengambil alih wilayah Denmark, Greenland, dengan dalih kepentingan strategis, mengisyaratkan tindakan militer terhadap Kolombia, sementara diplomat utamanya menyatakan bahwa pemerintah komunis Kuba “sedang berada dalam masalah besar.” (QNN/Ab)
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!