Membahagiakan Hati Sesama, Ternyata Termasuk Amal Paling MuliaJum'at, 10 Jul 2026 10:04 |

VOA-ISLAM.COM – Lapangan pergaulan remaja hari ini sedang tidak baik-baik saja. Belakangan, masyarakat dihebohkan dengan fenomena anak laki-laki yang berperilaku, berbicara, hingga berpenampilan feminin—atau yang di media sosial kerap dijuluki dengan istilah "boti".
Menyikapi fenomena ini, umat Islam dituntut untuk cerdas. Di satu sisi, kita wajib menjaga syariat agar anak laki-laki tumbuh sesuai fitrahnya sebagai rijal (lelaki sejati). Namun di sisi lain, menghadapi anak yang telanjur terkontaminasi lingkungan memerlukan strategi dakwah dan pola asuh yang tepat, bukan sekadar amarah yang justru menjauhkan mereka dari agama.
Meniru karena Lingkungan, Bukan Melulu Penyimpangan Sejak Lahir
Psikolog sekaligus dosen UIN Palangka Raya, Ari Pamungkas, menegaskan bahwa fenomena laki-laki yang tampak feminin ini tidak bisa langsung dicap sebagai gangguan permanen atau orientasi seksual tertentu. Seringkali, ini adalah masalah pengaruh sosial dan krisis identitas.
Menurut Ari, ada banyak faktor yang membentuk perilaku tersebut, di antaranya:
“Pada masa anak dan remaja, proses meniru perilaku orang lain cukup kuat. Anak bisa meniru gaya bicara, ekspresi tubuh, atau kebiasaan dari orang yang sering dilihat dan dianggap menarik,” ujar Ari.
Dalam psikologi, perilaku ini tidak disebut "menular", melainkan adanya pengaruh sosial yang kuat. Ada anak yang sekadar ikut-ikutan tren, mencari perhatian, atau sedang tersesat dalam mencari jati diri.
Ketegasan yang Manusiawi: Seni Mendidik Sesuai Syariat
Islam melarang keras laki-laki menyerupai wanita (tasyabbuh). Namun, bagaimana cara memutus rantai peniruan ini?
Ari Pamungkas menekankan pentingnya peran orang tua untuk meluruskan kembali fitrah sang anak. Nilai agama, budaya, dan norma sosial harus ditegakkan secara kokoh di dalam rumah. Hanya saja, proses pembinaan tersebut harus dilakukan tanpa hinaan, ejekan, apalagi kekerasan fisik yang destruktif.
“Pendekatan yang lebih tepat adalah berbicara secara pribadi, mendengarkan alasannya, memahami lingkungan pergaulannya, lalu memberi nasihat secara tegas tetapi tetap manusiawi,” jelasnya.
Jika orang tua langsung menghakimi, mencaci, atau mengusir anak, mental mereka akan jatuh. Dampak psikologis seperti rendah diri, kecemasan akut, hingga gangguan kepribadian justru akan membuat anak semakin mencari perlindungan ke komunitas yang salah.
Evaluasi Kamar Anak Kita: Bangun Benteng Emosional
Melarang anak bergaul saja tidak cukup jika rumah tidak menjadi tempat yang nyaman. Orang tua Muslim hari ini harus bersaing ketat dengan algoritma media sosial yang merusak mentalitas generasi muda.
Guna mengantisipasi hal ini, para orang tua disarankan untuk:
Membentuk generasi khairu ummah (umat terbaik) memerlukan kesabaran yang besar. Tegas dalam memegang prinsip hukum Allah, namun harus bijak dan merangkul dalam metode penyampaiannya.
“Perilaku boleh dikoreksi, tetapi harga diri anak tetap harus dijaga. Bimbingan yang baik adalah bimbingan yang tegas dalam nilai, tetapi tidak kasar dalam cara,” pungkas Ari. [PurWD/Prokalteng/voa-islam.com]
+Pasang iklan
FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id
Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com
Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com
Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%.
Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com
Membahagiakan Hati Sesama, Ternyata Termasuk Amal Paling MuliaJum'at, 10 Jul 2026 10:04 |
