Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
3.930 views

Jokowi Mati Gaya, Anies The Real Leader

 

Oleh:

Hersubeno Arief, wartawan senior

 

Agak sulit bagi publik untuk tidak membanding-bandingkan kualitas kepemimpinan Gubernur DKI Anies Baswedan dengan Presiden Jokowi.

Tak bisa ditutup-tutupi lagi. Seperti sebuah panggung drama, tabir pencitraan sudah terbuka lebar. Publik bisa langsung melihat realitas di belakang panggung. Inilah wajah asli dari kualitas seorang Jokowi.

Benar seperti dikatakan oleh Benjamin Bland dari lembaga pemikir ( think tank ) Lowy Institute, Sidney, Australia. Wabah Covid-19 mengungkap celah kualitas Jokowi sebagai seorang pemimpin sebuah pemerintahan.

“Kualitas kepemimpinanya ad hoc (terbatas), dan kurangnya pemikiran yang strategis dalam pemerintahan,” tulis Ben Bland dalam artikel berjudul: Covid-19 Crisis Revealscracks in Jokowi’s Ad hoc Politics.

Analisis Bland membantu kita untuk memahami, mengapa kebijakan yang diambil Jokowi sering membingungkan. Berubah-ubah dan sangat kentara diputuskan secara tidak matang.

Tanggal 16 Maret Jokowi memutuskan, penanganan Corona diserahkan kepada kebijakan masing-masing pemerintah daerah. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan langsung bergerak cepat.

Pada hari itu juga Anies mengambil keputusan membatasi operasional bus Trans Jakarta dan MRT. Tujuannya agar ada efek kejut. Warga mulai membatasi aktivitas ke luar rumah.

Kebijakan itu jelas tidak populer. Penumpang menumpuk di halte. Kecaman kepada Anies berhamburan. Termasuk dari juru bicara presiden.

Tetapi itulah risiko seorang pemimpin. Harus berani mengambil kebijakan yang tidak populer.

Tidak usah terlalu memikirkan kecaman publik, selama dia yakin kebijakannya bermanfaat. Untuk kepentingan umum. Apalagi kondisi sudah sangat darurat!

Pembatasan keluar rumah, kerja dari rumah, dan meniadakan kegiatan yang melibatkan publik secara besar, adalah salah satu cara efektif mencegah penyebaran virus. Anies juga meminta sekolah dan rumah-rumah ibadah ditutup.

Melihat langkah Anies, istana mulai was-was. Tampak jelas sekali cara berpikir istana sangat politis. Mengabaikan situasi darurat. Menganggap langkah Anies sebagai upaya mencuri panggung. Sikap itu tidak terlalu mengherankan.

Sejak wabah merebak di Wuhan, Cina. Pemerintah terkesan menganggap enteng. Sangat yakin Indonesia kebal Covid-19. Ketika ada seorang peneliti dari Harvard University mengingatkan bahwa secara teori virus sudah menyebar di Indonesia, Menkes Terawan malah menantang. Dia minta dibuktikan.

Presiden Jokowi dengan gagah menawarkan bantuan untuk Cina. Dalam rapat kabinet, Jokowi meminta para menterinya memaksimalkan kegiatan konferensi dan pariwisata di Indonesia. Berharap musibah di sejumlah negara itu bisa menjadi berkah bagi Indonesia.

Pemerintah bahkan menganggarkan Rp 72 miliar bagi para influencer. Tugasnya menarik wisatawan yang batal ke Cina, Jepang, dan Korsel berkunjung ke Indonesia.

Tanggal 17 Maret, sehari setelah pembatasan operasional kendaraan umum di Jakarta, Jokowi mengutus Mendagri Tito Karnavian menemui Anies Baswedan. Dalam pertemuan itu Tito mengingatkan Anies, kewenangan melakukan lockdown ada di tangan pemerintahan pusat.

Tampaknya istana melihat ada tanda-tanda, instruksi Jokowi agar Pemda tidak melakukan lockdown tidak dipatuhi. Apapun namanya, berbagai kebijakan yang diambil oleh Anies menuju ke arah lockdown.

Mulai dari sini publik sesungguhnya mulai bisa melihat kualitas kepemimpinan Anies. Publik terutama kalangan pengamat kebijakan publik, praktisi kesehatan, dan kalangan medis menilai lockdown merupakan langkah yang paling tepat mencegah penyebaran Covid-19.

Seruan untuk melakukan lockdown malah dilawan istana dengan mengerahkan buzzer.

Semua wacana tentang perlunya lockdown, langsung mereka hajar. Bahkan termasuk seruan dari sejumlah figur yang selama ini dikenal sebagai pendukung Jokowi.

Istana membuat framing, seruan lockdown membawa agenda terselubung menjatuhkan pemerintahan. Juru bicara istana Fadjroel Rachman menyebut para pengecam pemerintah sebagai para pecundang politik.

Lockdown yang dilakukan sejumlah negara, mulai dari Cina, Inggris, bahkan AS adalah langkah drastis mencegah penyebaran virus. Dampaknya memang sangat besar secara ekonomi, sosial, dan tak tertutup dampak politik. Tapi itu harga yang harus dibayar seorang pemimpin.

Langkah itu, dalam bahasa seorang ahli Clinical Epidemiologi dr Tifauzia Tyassuma seperti menutup benteng. Sehingga musuh tidak bisa masuk.

Langkah Jokowi memutuskan untuk tidak lockdown, membuat musuh masuk ke dalam benteng. Jadilah sekarang perang melawan musuh yang tidak kelihatan itu berlangsung di dalam benteng.

Dengan sifat Covid-19 yang cepat menular, situasinya saat ini seperti kita berperang melawan mutan. Bala tentara kita yang digigit mutan, otomatis berubah menjadi pasukan musuh.

Sialnya musuh itu tidak terlihat membahayakan. Mereka bisa saja tetangga, keluarga, anak, suami, istri, dan orang tua kita sendiri. Semuanya sudah terlambat karena keputusan Jokowi.

Sebagai “panglima perang” melawan corona, seharusnya prioritas Jokowi menyatupadukan semua kekuatan pasukan. Mereka harus bahu membahu melawan musuh. Jangan dipecah belah. Dicurigai. Atau malah dimusuhi.

Menyelamatkan para tenaga medis

Ibarat pepatah, buzzer menggonggong Anies berlalu, dia terus melangkah. Anies meminta perkantoran di Jakarta tutup selama 14 hari.

Praktis walau tidak dinyatakan lockdown, Jakarta sudah tertutup dari berbagai aktivitas publik. Dia sering menyebutnya sebagai limited movement. Membatasi pergerakan manusia.

Sebagai antisipasi berbagai dampak kebijakannya, terutama dampak ekonomi terhadap pekerja informal, Anies menyiapkan bantuan uang tunai untuk 1,1 juta warganya.

Langkah terakhir yang menyedot perhatian publik adalah keputusannya mengubah hotel-hotel milik Pemprof DKI menjadi rumah sementara bagi para pekerja medis.

Semua kebutuhan mereka, mulai dari makan minum, sampai kendaraan ke tempat mereka bekerja, disediakan oleh Pemda secara gratis. Sebelumnya Anies juga memberi insentif Rp 250 ribu/perhari bagi tenaga medis di Jakarta.

Langkah ini mengundang pujian publik dan membuat para pekerja medis haru biru. Mereka adalah pasukan tempur yang berada di garda terdepan, tetapi keselamatannya diabaikan.

Beberapa orang dokter dan tenaga medis telah gugur karena keterbatasan alat pelindung diri (APD), dan kelelahan kerja. Tragisnya alih-alih mendapat support, banyak tenaga medis yang tidak bisa pulang ke rumah.

Mereka ditolak pulang oleh keluarga dan tetangganya. Takut membawa pulang virus Covid-19.

Situasi itu membuat mental drop. Pasukan mengalami demoralisasi.

Tragedi!!!! Aib bagi sebuah bangsa yang tidak bisa menghormati, dan menghargai para pahlawan kemanusiaan.

Mereka berjibaku menyelamatkan dan melindungi nyawa kita semua. Kita enak-enakan santai di rumah. Tapi kita malah menolaknya. Menjauhinya. Dalam situasi darurat akal sehat sering tidak bisa digunakan.

Anies memang beda. Dia menunjukkan diri sebagai komandan yang melindungi, mengayomi anak buahnya di medan pertempuran. Mereka bisa fokus di medan tempur. Akomodasi, logistik, dan keluarga aman.

Dia tidak hanya mengambil langkah konkrit, tapi dia juga mengangkat moral pasukan. Secara tulus menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pahlawan kemanusiaan itu.

Anies menulis surat dalam kop resmi seorang gubernur. Posisi formal sebagai pemimpin rakyat Jakarta. Surat yang diletakkan di meja sebuah kamar di hotel Grand Cempaka, Jakarta itu membuat kaget seorang tenaga medis.

Ketika masuk kamar, dia menemukan surat itu. Dibuka, dibaca, daaannnnn…….. tak mampu membendung air matanya.

Videonya viral. Sukses membuat mewek orang sak-Indonesia.

Jika Jokowi masih terus melihat berbagai kebijakan Anies dari kaca mata politis, dia pasti bakal Mati Gaya.

Sebagai Presiden Jokowi jelas punya semua sumber daya, jauh di atas Anies. Dia bisa berbuat jauh-jauh lebih besar dibandingkan dengan apa yang dilakukan Anies. Tinggal perintah!

Kalau sejak awal perintah Jokowi jelas dan tegas, sesungguhnya dia bisa mengklaim semua kerja yang dilakukan oleh Anies dan para kepala daerah lain.

Kalau sukses tinggal klaim. Kalau berantakan tinggal salahkan. Toh perintahnya sudah jelas. 

Sayangnya publik sejak awal menangkap adanya kesan rivalitas. Publik sekarang sedang menunggu-nunggu. Kapan Jokowi turun ke lapangan, seperti biasa dia lakukan dalam beberapa peristiwa bencana.

Foto-foto ikoniknya di wilayah bencana, sangat membekas di ingatan publik. Menggenakan kemeja putih tangan panjang, dengan lengan digulung, celana hitam dan sepatu kets.

Berjalan sendirian dengan wajah termangu-mangu, sangat ditunggu! End.

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Kisah Pilu Mbah Siti, Sang Ahli Ibadah Hidup di Bilik Reyot Bantaran Sungai. Ayo Bantu.!!

Kisah Pilu Mbah Siti, Sang Ahli Ibadah Hidup di Bilik Reyot Bantaran Sungai. Ayo Bantu.!!

Nenek renta ahli ibadah ini hidup seorang diri di bilik reyot Bengawan Solo. Bila hujan seisi rumah kebocoran air. Di malam hari, ia menggigil kedinginan diserang angin malam karena dindingnya...

Hidup Sebatang Kara, Muallaf  Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

Hidup Sebatang Kara, Muallaf Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

Hijrah menjadi Muslimah, mantan Kristen Pantekosta ini ditimpa banyak ujian mulai dari keluarga hingga kerasnya pekerjaan. Hidup sebatang kara, ia bekerja keras sebagai buruh pembuat batu bata. ...

Kista Membahayakan Kehamilan, Teh Imas Ummu Zahra Harus Harus Dikiret. Ayo Bantu.!!

Kista Membahayakan Kehamilan, Teh Imas Ummu Zahra Harus Harus Dikiret. Ayo Bantu.!!

Teh Imas mengalami gangguan kehamilan karena mengidap kista. Janinnya tak berkembang, yang dalam medis disebut IUGR (intrauterine growth restriction). Ia harus dikiret karena membahayakan nyawa....

Korban Tabrak Lari,  Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Korban Tabrak Lari, Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Saat hendak membantu orang tertimpa musibah, Ummu Qisthi jadi korban tabrak lari mobil pickup. Empat bulan pasca operasi tulang remuk, kondisinya memburuk dan lukanya mengeluarkan nanah...

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Sudah 4 tahun Pesantren Tahfiz Al-Qur’an ini mendidik para yatim dan kaum dhuafa tanpa memungut biaya. Mereka butuh masjid, anggaran dana 160 juta rupiah. Sisihkan harta, dapatkan istana di...

Latest News
MER-C Sesalkan Sikap Wali Kota Bogor Intervensi Perawatan Habib Rizieq

MER-C Sesalkan Sikap Wali Kota Bogor Intervensi Perawatan Habib Rizieq

Ahad, 29 Nov 2020 08:00

Laporan: MBS Berencana Normalisasi Hubungan Saudi Dengan Israel Setelah Joe Biden Menjabat Presiden

Laporan: MBS Berencana Normalisasi Hubungan Saudi Dengan Israel Setelah Joe Biden Menjabat Presiden

Sabtu, 28 Nov 2020 22:25

Arab Saudi Secara Resmi Hentikan Impor Daging, Telur dan Produk Lainnya Dari Turki

Arab Saudi Secara Resmi Hentikan Impor Daging, Telur dan Produk Lainnya Dari Turki

Sabtu, 28 Nov 2020 22:06

Cermati Titik Kritis Kehalalan Obat Herbal

Cermati Titik Kritis Kehalalan Obat Herbal

Sabtu, 28 Nov 2020 21:56

SMP-SMA Luqman al Hakim Boarding School Surabaya Gelar Wisuda Tahfidz

SMP-SMA Luqman al Hakim Boarding School Surabaya Gelar Wisuda Tahfidz

Sabtu, 28 Nov 2020 20:47

Dewan Dakwah dan Baitul Mal Aceh Gelar Pendampingan Syariah Bagi Mualaf

Dewan Dakwah dan Baitul Mal Aceh Gelar Pendampingan Syariah Bagi Mualaf

Sabtu, 28 Nov 2020 19:55

Menyendiri atau Gaul, Mana Lebih Utama?

Menyendiri atau Gaul, Mana Lebih Utama?

Sabtu, 28 Nov 2020 19:17

Hadiri Munas ke V PKS, Anis Tegaskan PKS Siapkan Kontribusi Terbaik untuk Indonesia

Hadiri Munas ke V PKS, Anis Tegaskan PKS Siapkan Kontribusi Terbaik untuk Indonesia

Sabtu, 28 Nov 2020 19:13

Hassan Rouhani Salahkan 'Tentara Bayaran Israel' atas Pembunuhan Ahli Nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh

Hassan Rouhani Salahkan 'Tentara Bayaran Israel' atas Pembunuhan Ahli Nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh

Sabtu, 28 Nov 2020 17:15

Tutup Munas ke-10 MUI, Wapres Sampaikan 3 Pesan Penting

Tutup Munas ke-10 MUI, Wapres Sampaikan 3 Pesan Penting

Sabtu, 28 Nov 2020 13:13

Sampaikan Pidato Perdana, Ketua Umum Baru MUI: Mari Jaga Silaturahim

Sampaikan Pidato Perdana, Ketua Umum Baru MUI: Mari Jaga Silaturahim

Sabtu, 28 Nov 2020 13:10

Gara-gara Benur, Gerindra Babak Belur

Gara-gara Benur, Gerindra Babak Belur

Sabtu, 28 Nov 2020 12:05

Bulu Kucing Najis?

Bulu Kucing Najis?

Sabtu, 28 Nov 2020 11:15

Legislator: Utang Pemerintah Makin Mengkhawatirkan

Legislator: Utang Pemerintah Makin Mengkhawatirkan

Sabtu, 28 Nov 2020 09:27

Bupati dan Gabungan Ormas Islam Halau Pengikut Syiah di Takalar

Bupati dan Gabungan Ormas Islam Halau Pengikut Syiah di Takalar

Sabtu, 28 Nov 2020 08:59

WHO: Orang Dewasa dan Anak Harus Banyak Gerak Saat Pandemi

WHO: Orang Dewasa dan Anak Harus Banyak Gerak Saat Pandemi

Sabtu, 28 Nov 2020 07:53

PKS Harus Tetap Berada di Garda Terdepan Memperjuangkan Keadilan dan Kesejahteraan

PKS Harus Tetap Berada di Garda Terdepan Memperjuangkan Keadilan dan Kesejahteraan

Jum'at, 27 Nov 2020 23:06

Menag Ajak Masyarakat Dukung Pendidikan Tahfizh Melalui Zakat, Infak dan Wakaf

Menag Ajak Masyarakat Dukung Pendidikan Tahfizh Melalui Zakat, Infak dan Wakaf

Jum'at, 27 Nov 2020 22:38

Pemerintah Israel Instruksikan Militernya Bersiap Untuk Kemungkinan Serangan AS Terhadap Iran

Pemerintah Israel Instruksikan Militernya Bersiap Untuk Kemungkinan Serangan AS Terhadap Iran

Jum'at, 27 Nov 2020 21:45

Gus Aam Harap PKS Bisa Wujudkan Nilai-nilai Islam di Pemerintahan dan Masyarakat Luas

Gus Aam Harap PKS Bisa Wujudkan Nilai-nilai Islam di Pemerintahan dan Masyarakat Luas

Jum'at, 27 Nov 2020 21:14


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X