Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
2.990 views

Wabah Corona dan Utang Kita Semua

 

Oleh:

Irawaty Nusa

Peneliti pada program historical memories Indonesia

 

ENERGI makrokosmos pada jagat raya ini selalu bekerja mencari keseimbangan. Tanpa disadari, energi itu sebenarnya sangat berhubungan dengan jagat mikro, yakni kondisi fisik dan psikis manusia yang sedang mengalami sakit maupun sehat. Proses ini tidak terlihat dengan kasatmata, sehingga faktor ketidakpekaan intuisi – karena kurang melatih olah rasa – banyak orang yang cenderung mengabaikannya.

Apabila terjadi kegoncangan atau ketidakteraturan sistem, baik secara mikro maupun makro, tak lepas akibat ulah perbuatan tangan-tangan manusia sendiri. Misalnya di suatu tempat terjadi banjir, longsor, atau bahkan wabah dan pandemik yang memengaruhi struktur sosial-politik dan ekonomi suatu bangsa (bahkan dunia internasional). Semuanya tak terlepas dari faktor utang, berikut pertanggungjawaban moral kita, agar membayarnya kepada alam semesta.

Jadi, pengertian “utang” di sini tak perlu dimaknai secara harfiah, tetapi lebih bermakna kias dan simbolik. Secara filosofis, utang tersebut dapat diartikan sebagai suatu tindakan, bagaimana pola hidup yang kita jalani dalam menjaga keselarasan diri kita dengan dunia makrokosmos.

Karena rendahnya kualitas ingatan kita (inertia), saat ini seluruh dunia sedang ditagih pertanggungjawabannya, hingga menjadi suatu pandemik global. Katakanlah, kita bisa selamat dari musibah ini, tetapi toh tetap kita bukan hidup sendirian. Tagihan itu bisa menyasar ke pihak lain yang ada hubungan dengan kita, baik anak, orang tua, istri, suami, saudara-kerabat, bahkan saudara sebangsa dan setanah air.

Secara ekstrim, banyak orang menyebutnya dengan istilah “karma”, yakni suatu kejadian yang akan menimpa seseorang akibat dari perbuatan buruk yang pernah ia lakukan di masalalu. Sehingga, alam sebagai pihak berpiutang, akan menagih utang energi tersebut dalam bentuk nasib buruk yang dialami pihak pengutang.

Para orang tua (etnis Jawa) seringkali mengeluarkan komentar sederhana bila suatu musibah menimpa seseorang: “Iku mah sing badan dewek, kayane ora elok sedekah.” (Musibah itu muncul karena ulah dirinya, boleh jadi karena tidak pernah sedekah). Pandangan tersebut jangan sampai diartikan, bahwa musibah yang diderita satu pihak, lalu membuat kita masabodoh dan berpangku-tangan, karena hal tersebut akan membuat diri kita berutang juga pada alam semesta.

Saya ingin perluas pengertian utang kepada alam ini dalam arti yang lebih eksplisit dan konkrit. Misalnya, seorang pejabat mengambil barang milik kantor, atau enak-enakan makan baso, sate atau durian bersama anak-istri, sementara pembantu dan sopir dibiarkan belum sarapan sejak pagi. Bisa juga majikan terlambat atau menunda gaji dan honor untuk karyawan dan pembantunya. Secara kasatmata tidak mengambil hak orang lain, tapi mereka sebenarnya telah mengorupsi banyak hal, terutama waktu dan kesempatan.

Pada momen tertentu, seorang koruptor, penipu dan pemakan uang rakyat, sepintas kelihatan sukses dan berprestasi dalam bidang tertentu. Ya, hanya sepintas saja, seakan tidak merasa berdosa cengar-cengir di depan kamera media, baik cetak maupun elektronik. Meskipun, orang yang punya ketajaman intuisi dapat mudah menebak gestur dan karakteristiknya yang rigid dan nelangsa.

Sang koruptor dan penipu tadi – disadari atau tidak – sebenarnya sedang memiliki utang besar kepada alam semesta. Hanya soal waktu saja, pada saatnya nanti energi alam akan mengambil kembali hak miliknya, dalam bentuk terbongkarnya aib dan kesalahan. Boleh jadi ia selamat tidak tertangkap KPK, tetapi alam semesta tak pernah lengah, ia bisa merenggutnya dari sisi lain yang tak terbayangkan, sampai-sampai ia tak pernah menikmati uang hasil korupsinya.

Dalam buku “What’s the Future and Why It’s Up to Us” karya Tim O’Reilly (2017), ditegaskan bahwa utang yang berlebihan kepada alam semesta, dapat menumpulkan daya nalar dan akal sehat manusia, hingga melemahkan kekuatan pikiran (mind power). Dari perspektif lain, ajaran Islam memberikan garis-garis besar agar manusia berusaha melakukan perubahan (tobat) atas kesalahan yang telah diperbuatnya di masalalu, kemudian melangkah ke masadepan dengan jujur dan penuh optimistis.

Apakah wabah dan pandemik Corona yang menyerang umat manusia di tiap-tiap negara sebagai dampak negatif dari kekhilafan manusia (menumpuknya utang), akan mengantarkan mereka kepada kesadaran dan introspeksi-diri hingga menjadi lebih baik? Ataukah justru melemparkan pertanggungjawaban kepada pihak-pihak lain, yang dampaknya akan lebih mencelakakan lagi?

Jawabannya, tentu akan kembali kepada diri kita masing-masing. Sudah sejauhmana keikhlasan dan ketulusan kita sebagai pribadi, sebagai jagat mikro, untuk membayar utang-utang kita sendiri, dengan memulai perubahan dari diri sendiri dan dari hal-hal kecil. Bagaimanapun, kita tak akan lepas dari matarantai yang saling berkaitan, biar kita bersembunyi di balik batu karang sekalipun.

Tetapi, Bu Irawaty, bagaimana kami harus membayar utang-utang itu? Bukankah di era medsos ini marak sekali orang-orang yang angkuh dan arogan, selalu merasa dirinya istimewa, dan selalu memiliki kebutuhan ingin dipuji dan dihargai? Bukankah selama ini mereka sering melebih-lebihkan pencapaian dan bakat diri? Bahkan, merasa yakin sebagai seorang yang superior, memiliki fantasi dan imajinasi mengenai popularitas, kekuasaan, kepandaian, kecantikan atau ketampanan?

Selain itu, Bu Irawaty, banyak juga orang yang merasa dirinya pantas diberi perlakuan spesial, juga pintar memanfaatkan jasa orang lain untuk mengeruk keuntungan buat dirinya. Kadang mereka tidak mampu untuk meraba rasa atau menyadari perasaan dan kebutuhan orang lain.

Begini. Dalam soal membayar utang kepada alam semesta ini, sebaiknya kita memakai term “kita” dan bukan “mereka”. Sebab, kita pun bagian dari mereka, dan mereka pun bagian dari kita juga. Sama halnya ketika kita pernah ikut-ikutan menyebarkan kabar burung atau berita bohong (hoaks), baik skalanya besar maupun kecil. Pernahkah kita berpikir bahwa dengan menyampaikan berita yang tidak valid – sadar atau tidak sadar – akan bermutasi terus-menerus, dari satu individu ke individu lain, bahkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pernahkah kita berpikir bahwa apa-apa yang telah kita sampaikan, baik melalui ucapan, tulisan, maupun teladan perbuatan yang kita pertontonkan kepada masyarakat dan orang-orang di sekitar kita, telah terekam ke dalam lauhul mahfudz, yakni catatan amal perbuatan manusia di alam semesta yang ternyata memiliki super komputer yang maha dahsyat kecanggihan daya memorinya.

Sekarang, baiklah, saya akan menjelaskan solusi yang ditawarkan ajaran agama, agar senantiasa kita beritikad keras supaya tidak menambah utang-utang kepada alam semesta ini. Mulai saat ini, berhentilah berutang kembali, lalu pada saat bersamaan kita harus membayarnya dengan melakukan kebaikan-kebaikan, sebelum alam semesta mengambil dan merenggut apa-apa yang sudah kita miliki.

Tidak ada utang manusia pada alam semesta yang tak terbayar, seperti juga tidak ada dosa besar yang tak terampuni jika manusia bertobat dengan sesungguhnya (taubatan nashuha). Lakukan kebaikan pada sesama dan pada alam semesta. Perbuatan baik terhadap sesama tidak selalu harus berbentuk materi. Banyak sekali bentuk kebaikan yang perlu kita lakukan, misalnya membantu orang yang dalam kesulitan. Bahkan mendoakan orang-orang yang terkena musibah – termasuk wabah Corona ini – agar mereka mendapat perlindungan dan kasih sayang Allah, juga termasuk amal mulia yang dapat menjadi sarana pembayaran utang kita kepada alam semesta.

Pancarkan kebaikan dan kasih sayang kepada setiap orang, tak peduli apakah kebaikan kita akan dibalas ataukah tidak. Justru dengan memberi kebaikan kepada orang yang tak mampu membalas kebaikannya kepada kita, akan memancarkan energi positif, yang suatu saat akan dikembalikan oleh energi makrokosmos dalam bentuk kebaikan yang berlipatganda dari alam semesta.

Pada prinsipnya, jika kita ingin ditolong oleh Allah, sudahkah kita menolong makhluk-makhluk-Nya? Jika kita ingin dihormati orang, sudahkah kita mampu menghormati orang lain dengan tulus? Jika kita ingin dipentingkan oleh orang, sudahkah kita sanggup menahan ego dan kepentingan diri, untuk mendahulukan kepentingan orang lain? Jika kita ingin sukses dan meraih sesuatu yang kita inginkan, sudahkah kita membuka pintu-pintu maaf, serta membantu orang lain agar meraih apa yang mereka inginkan?

Mengapa kebanyakan kita sulit sekali untuk memberi maaf kepada orang yang telah melakukan kesalahan kepada kita? Bukankah kita sendiri menginginkan agar Allah memaafkan kita, serta mengampuni dosa dan kesalahan kita? *

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Tak Punya Biaya, Yatim Piatu Berprestasi ini Putus Sekolah, Ayo Bantu !!!

Tak Punya Biaya, Yatim Piatu Berprestasi ini Putus Sekolah, Ayo Bantu !!!

Kanaya Shersabila, yatim piatu segudang prestasi ini tak bisa sekolah lagi karena tak punya biaya. Sang nenek yang jadi tulang punggung keluarga tak bisa mencari nafkah karena sudah uzur sakit-sakitan....

Bayi Ramadhan ini Butuh Biaya Persalinan, Ayo Bantu..!!!

Bayi Ramadhan ini Butuh Biaya Persalinan, Ayo Bantu..!!!

Maryanti tak bisa khusyuk beribadah Ramadhan karena kondisinya kritis. Persalinan di rumah sakit berjalan lancar, namun tagihan 4,5 juta rupiah tak mampu dibayar oleh keluarga kuli serabutan...

Kisah Haru Ustadz Ismail, Guru Al-Qur’an Disabilitas Butuh Motor Dakwah. Ayo Bantu..!!

Kisah Haru Ustadz Ismail, Guru Al-Qur’an Disabilitas Butuh Motor Dakwah. Ayo Bantu..!!

Terlahir disabilitas tanpa kaki dan tangan yang sempurna, ia tetap tegar berdakwah dan bekerja mencari nafkah sebagai tukang las di bengkel berat. Ia butuh sepeda motor roda tiga untuk berdakwah....

Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Kakek Tuna Netra ini Tinggal di Jembatan, Ayo Bantu..!!!

Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Kakek Tuna Netra ini Tinggal di Jembatan, Ayo Bantu..!!!

Sudah 21 hari Kakek Jaman mengungsi ke jembatan di tengah sawah Karangharja Bekasi. Rumah bambu yang dihuni sejak tahun 1985 itu roboh diterjang banjir akibat jebolnya tanggul Citarum....

Mushalla Al-Mubarok Ambruk Diterjang Hujan, Ayo Bantu..!!!

Mushalla Al-Mubarok Ambruk Diterjang Hujan, Ayo Bantu..!!!

Mushalla ini ambruk tak kuat menahan gempuran hujan deras. Kegiatan ibadah dan syiar mushalla pun terhenti. Ayo bantu renovasi supaya pada bulan Ramadhan warga bisa shalat jamaah, tarawih dan...

Latest News
PP Muhammadiyah Meminta Wacana Pembelajaran Tatap Muka kembali Ditunda

PP Muhammadiyah Meminta Wacana Pembelajaran Tatap Muka kembali Ditunda

Jum'at, 25 Jun 2021 00:10

Fenomena Dakwah Copy-Paste

Fenomena Dakwah Copy-Paste

Kamis, 24 Jun 2021 23:35

UMY dan PBI DIY Selenggarakan Training Kewirausahaan Bekam

UMY dan PBI DIY Selenggarakan Training Kewirausahaan Bekam

Kamis, 24 Jun 2021 22:33

Indonesia Darurat Sampah dan Limbah, Anggota FPKS Sesalkan Pengurangan Anggaran

Indonesia Darurat Sampah dan Limbah, Anggota FPKS Sesalkan Pengurangan Anggaran

Kamis, 24 Jun 2021 21:29

Kasus Covid Melonjak, Senator Ingatkan Stok Darah Harus Tetap Terjaga

Kasus Covid Melonjak, Senator Ingatkan Stok Darah Harus Tetap Terjaga

Kamis, 24 Jun 2021 20:54

Penumpang KRL di Stasiun Cikarang Jalani Swab Tes Antigen

Penumpang KRL di Stasiun Cikarang Jalani Swab Tes Antigen

Kamis, 24 Jun 2021 19:48

MUI:  Di Zona Merah, Tidak Diperkenankan Sholat Idul Adha dan Shalat Jamaah di Luar Rumah

MUI: Di Zona Merah, Tidak Diperkenankan Sholat Idul Adha dan Shalat Jamaah di Luar Rumah

Kamis, 24 Jun 2021 18:26

Jangan Lupakan Piagam Jakarta

Jangan Lupakan Piagam Jakarta

Kamis, 24 Jun 2021 17:46

Pejabat PBB: Taliban Rebut 50 Dari 370 Distrik Di Afghanistan

Pejabat PBB: Taliban Rebut 50 Dari 370 Distrik Di Afghanistan

Kamis, 24 Jun 2021 17:08

Tinjau Pemakaman Khusus Covid-19, Anies: Meski Luas Tolong Jangan Dipenuhi

Tinjau Pemakaman Khusus Covid-19, Anies: Meski Luas Tolong Jangan Dipenuhi

Kamis, 24 Jun 2021 16:17

Covid-19 Meningkat, MUI-BNPB Sarankan Perketat Protokol Kesehatan Saat Berqurban

Covid-19 Meningkat, MUI-BNPB Sarankan Perketat Protokol Kesehatan Saat Berqurban

Kamis, 24 Jun 2021 15:08

Masjid Raya Jakarta Islamic Centre Tutup hingga 5 Juli

Masjid Raya Jakarta Islamic Centre Tutup hingga 5 Juli

Kamis, 24 Jun 2021 14:41

Akhiri Pembelahan Politik, Indonesia Perlu Sumpah Ketiga

Akhiri Pembelahan Politik, Indonesia Perlu Sumpah Ketiga

Kamis, 24 Jun 2021 13:58

Kasus RS Ummi, Habib Rizieq Divonis Empat Tahun Penjara

Kasus RS Ummi, Habib Rizieq Divonis Empat Tahun Penjara

Kamis, 24 Jun 2021 12:20

Solo Madani Indonesia Jaya Sampaikan Resolusi kepada Presiden, MPR dan DPR

Solo Madani Indonesia Jaya Sampaikan Resolusi kepada Presiden, MPR dan DPR

Kamis, 24 Jun 2021 11:51

Kasus Covid-19 Semakin Buruk, Politisi PKS: Opsi PSBB Harus Segera Diambil

Kasus Covid-19 Semakin Buruk, Politisi PKS: Opsi PSBB Harus Segera Diambil

Kamis, 24 Jun 2021 10:49

Bohong dalam Delik Bohong

Bohong dalam Delik Bohong

Kamis, 24 Jun 2021 09:37

Legislator Gerindra: Pemerintah Harus Punya Skenario Kurangi Utang Luar Negeri

Legislator Gerindra: Pemerintah Harus Punya Skenario Kurangi Utang Luar Negeri

Kamis, 24 Jun 2021 08:37

Anis Matta: Sumpah Palapa Bisa Jadi Spirit Akhiri Pembelahan dan Fokus Capai Lima Besar Dunia

Anis Matta: Sumpah Palapa Bisa Jadi Spirit Akhiri Pembelahan dan Fokus Capai Lima Besar Dunia

Kamis, 24 Jun 2021 07:34

Impor Migas Makin Meroket, Legislator: Apa Pemerintah Kalah Hadapi Tekanan Para Mafia?

Impor Migas Makin Meroket, Legislator: Apa Pemerintah Kalah Hadapi Tekanan Para Mafia?

Kamis, 24 Jun 2021 06:26


MUI

Must Read!
X