Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
7.109 views

Kerja Seorang Muslim

 

Oleh:

Faris Ibrahim

Mahasiswa Akidah- Falsafah universitas al- Azhar, Kairo

 

DI BUKUNYA Mīlad Mujtama’, Mālik bin Nabī‒ filsuf peradaban dari Aljazair‒ memandang bahwa masalah yang menimpa kaum muslimin sebagai akibat daripada mundurnya peradaban Islam tersimpul dalam beberapa hal: satu dari sekian permasalahannya adalah keadaan di mana kepribadian (syakhsīah) seorang muslim tercerai antara aspek spiritualnya (rūḥī) dan aspek sosialnya (Ijtimā’ī).

Alih- alih bertukar peran satu sama lain, alhasil‒ setelah sah bercerai‒ kedua aspek itu akhirnya malah saling memunggungi dalam memainkan perannya: aspek spiritual sibuk menggaris batas mengurusi seluk beluk amalan- amalan seorang muslim (sulūk) di masjid saja. Sedangkan aspek sosial, menghapus apa saja yang berbau amalan masjid untuk bisa diterjemahkan dalam kehidupan sosial.

Akhirnya spiritual nihil di luaran. Sebagaimana sukar ditemukan kesadaran sosial lahir di masjid. Seorang paruh baya yang khusyu’ mendengar khutbah menyentuh tentang murāqabatullāh, setelah bersimpuh cukup lama di masjid kompleknya, baru saja beberapa langkah keluar dari sana, kotak infak yang meluap bertabur angka juga warna tak mampu mengurungkan niatnya untuk mengambil beberapa.

Padahal baru saja ruhaninya terpupuk di dalam masjid, namun sedikit saja kesadaran sosial tidak juga bertumbuh saat kakinya melangkah keluar‒ berpijak di pekarangan. Terjemahnya agama hanya ada di masjid. Perhatian Allāh dirasanya hanya saat bersujud di mihrab saja. Namun, saat di pekarangan, sekejap saja rasanya diawasi oleh Allāh (murāqabatullāh) hilang begitu saja. Tidak ada yang lebih ia takutkan selain CCTV kamera ciptaan manusia.    

Spiritual dan sosial, keberceraian antara kedua aspek tersebut, menurut Binabī, membuat kepribadian seorang muslim tenggelam dalam kubang kebingungan yang kontra efektif (allāfa’ālīah) dalam segala hal: salah satunya dalam hal bekerja (‘amal). Ketika seorang muslim bekerja, ia tidak tahu pakem yang mengikat antara kerjaannya dengan tujuannya. Tidak pula ia tahu luhurnya kedudukan pekerjaan di sisi agamanya.

Kebingungan itulah yang menjelaskan lesunya kebanyakan ekonomi negeri Islam sekarang. Tidak pernah memasarkan, negeri- negeri Islam selalu saja jadi pasar. “Tempat yang paling Allāh tidak sukai adalah pasar,umat Islam termakan interpretasi sesat penjajajah yang memelintir sabda itu agar umat berbondong- bondong memaku diri di masjid saja, menjauh dari perniagaannya di pasar, demikian gubahan Prof. Ahmad Mansur Suryanegara di Api Sejarah-nya.

Tak heran, sulit dewasa ini menemukan di barisan kaum muslimin sosok seperti Fujiko F. Fujio yang konon belum sempat mengakhiri Doraemon-nya saking semangatnya berkarya sampai ajalnya tiba. Sama halnya dengan Agatha Christie. Kematiannya yang tak berselang lama dengan Hercule Poirot‒  tokoh utama di cerita detektifnya, begitu mengemukakan kecintaannya terhadap profesi yang digelutinya. Christie ingin sehidup semati dengan karyanya. 

Adakah hari ini pribadi- pribadi muslim yang sangat menaruh dedikasi pada pekerjaannya sepertimana mereka? Adakah hari ini di negeri Islam, sosok seperti Jeon Tae- il‒ seorang buruh di Korea Selatan yang pada tahun 1970 membakar dirinya bersama undang- undang tenaga kerja di depan salah satu pabrik jahitan, mengutuk kondisi tempat kerjanya yang tak manusiawi, bersorak mengeluh: “kita manusia bukan mesin.”

Peradaban- peradaban besar, lahir ke dunia karena penghuninya sadar menaruh perhatian pada pekerjaan. Agatha Christie, Fujiko F. Fujio, dan Jeon Tae- Il, jiwa mereka boleh jadi dibangun di atas puing- puing pandangan alam Barat yang men-angkakan dan memesinkan manusia untuk kepentingan materi. Namun, tidak bisa dipungkiri, bahwa Barat hari ini memang menghegemoni ekonomi dunia dengan pandangannya (yang keliru lagi sementara) itu.

Charlie Chaplin saja menyadari betul kekeliruan pandangan itu sebagaimana dipidatokannya: “Kamu bukanlah mesin. Bukan pula ternak. Kamu adalah manusia.” Jemari buruh- buruh Irlandia di Manchester yang raup digilas mesin para borjuis kelak menjadi bara yang menggelorakan pemberontakan kaum proletarian yang disuarakan oleh Friedrich Engels‒ menentang kesemena- menaan ayahnya‒ meruntuhkan tatanan lama. 

Zaman bergulir semenjak manusia menentang pemesinan dirinya. Namun, bukan malah berubah, anehnya, hari ini mereka yang workholic malah seakan gembira menjadi mesin. Cerminannya adalah tahun ini, saat World Health Organisation (WHO) memasukkan burnout sebagai salah satu jenis gangguan mental yang kerap menjangkiti kalangan milenial berusia 22 hingga 38 tahun di seluruh dunia.

Gejalanya itu terlukis ketika terdapat banyak orang hari ini yang menganggap pekerjaannya sebagai segala- galanya. Rumah adalah Kantor. Kantor adalah rumah. Bermain dengan anak, bersanda gurau dengan isteri, tidak ada lagi. Gangguan mental itu, membuat mereka yang terjangkit gelisah untuk melakukan hal apapun, selain bekerja.  Sebangun tidur, sampai tidur lagi, jemari mereka terasa kaku apabila tidak dipakai mengetik.

Umat Islam hari ini sedang menonton siaran ketimpangan itu: yang satu siaran tentang anak- anak peradaban di Barat sana yang gila kerja layaknya mesin sampai- sampai kering kemanusiannya. Siaran kedua adalah gambaran tentang kondisi anak- anak peradabannya sendiri yang lebih ‘manusiawi’ daripada anak- anak peradaban Barat, namun kering etos kerjanya; karena bercerai aspek spiritual dan sosialnya.

Hilang semangat bekerja seperti mesin, umat tidak pula mampu menciptakan mesin untuk memudahkan pekerjaannya. Menurut Binabī‒ pasca dinasti Muwahhidun (1133- 1269 M), kematian para filsuf besar Islam menanadakan kematian produksi. Perdaban Islam lebih senang mengoleksi (takdīs) produk- produk luaran, ketimbang membangun (binā’) peradabannya lewat produk- produk yang diciptanya sendiri.

Kegamangan yang berbelit antara aspek spiritual dan sosial itu, harus bisa diurai dengan membangun kesadaran tentang ketidakterpisahan antara keduanya. Beragama bukan hanya di masjid, Islam adalah agama yang komprehensif (syāmil) mengatur seluk beluk perkara pemeluknya hatta urusan pasar. Kesadaran itulah yang membuat Abdurrahmān bin Auf percaya diri berseloroh: “tunjukanlah kepadaku arah ke pasar.”

Ketimbang hidup nyaman di bawah ketiak Sa’ad bin ar- Rabī’‒ saudara barunya di Madinah, Abdurrāhman bin Auf lebih senang apabila jerih payahnya sendirilah yang menegakkan tulang sulbinya; karena Abdurrahmān tahu, kedudukan mulia kerja di sisi Islam. Bahkan apabila upah manusia tidak memenuhi harapannya, Abdurrahmān tahu: kecil besarnya pekerjaannya, Allāh pasti memberikan gaji terbaik untuknya.

Bagi seorang muslim yang memahami martabat kerja di sisi agamanya, pasti akan sampai pada kesimpulan bahwa Islam bukan hanya menyerunya untuk sekedar bekerja, dalam Islam pekerjaan itu sendiri maknanya adalah ibadah. Ada nilai spiritual dalam setiap aspek sosial seorang muslim. Masjid bukanlah satu- satunya tempat beribadah, menggerakkan mesin ekonomi umat di pasar juga merupakan ibadah.        

Di buku Adwā’ alā an- Nudzum al- Islamīah, guru- guru kami di al- Azhar mengintisarikan pekerjaan sebagai sebab nyata dari keberadaan manusia sendiri (sabab adz- zāhir lil wujūd al-Insānī dzātuhu). Manusia diciptakan oleh Allāh untuk bekerja sebagai khalifah-nya di muka bumi. Artinya manusia diciptakan untuk bekerja.  Entah apapun itu pekerjaannya, menjadi khalifah yang memakmurkan bumi adalah profesi utama manusia.

Karenanya, kerja keras seorang muslim yang merasa diberi mandat menjadi khalifah berbeda dengan kerja seorang Agatha Christie, Fujiko F. Fujio, dan Jeon Tae- Il yang bekerja hanya sekadar bekerja layaknya mesin. Rasūlullāh ﷺ bersabda: “Mencari rezeki yang halal adalah jihad, dan sungguh Allāh mencintai seorang mukmin yang giat bekerja.” Di dalam pekerjaan seorang muslim ada spiritualitas. Ada perjuangan (jihād). Ada tujuan yang dicita-citakan untuk mendaulat cinta Allāh sebagai upahnya. Allāhu a’lam.*

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Smart Teen lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Tak Punya Biaya, Yatim Piatu Berprestasi ini Putus Sekolah, Ayo Bantu !!!

Tak Punya Biaya, Yatim Piatu Berprestasi ini Putus Sekolah, Ayo Bantu !!!

Kanaya Shersabila, yatim piatu segudang prestasi ini tak bisa sekolah lagi karena tak punya biaya. Sang nenek yang jadi tulang punggung keluarga tak bisa mencari nafkah karena sudah uzur sakit-sakitan....

Bayi Ramadhan ini Butuh Biaya Persalinan, Ayo Bantu..!!!

Bayi Ramadhan ini Butuh Biaya Persalinan, Ayo Bantu..!!!

Maryanti tak bisa khusyuk beribadah Ramadhan karena kondisinya kritis. Persalinan di rumah sakit berjalan lancar, namun tagihan 4,5 juta rupiah tak mampu dibayar oleh keluarga kuli serabutan...

Kisah Haru Ustadz Ismail, Guru Al-Qur’an Disabilitas Butuh Motor Dakwah. Ayo Bantu..!!

Kisah Haru Ustadz Ismail, Guru Al-Qur’an Disabilitas Butuh Motor Dakwah. Ayo Bantu..!!

Terlahir disabilitas tanpa kaki dan tangan yang sempurna, ia tetap tegar berdakwah dan bekerja mencari nafkah sebagai tukang las di bengkel berat. Ia butuh sepeda motor roda tiga untuk berdakwah....

Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Kakek Tuna Netra ini Tinggal di Jembatan, Ayo Bantu..!!!

Rumah Ambruk Diterjang Banjir, Kakek Tuna Netra ini Tinggal di Jembatan, Ayo Bantu..!!!

Sudah 21 hari Kakek Jaman mengungsi ke jembatan di tengah sawah Karangharja Bekasi. Rumah bambu yang dihuni sejak tahun 1985 itu roboh diterjang banjir akibat jebolnya tanggul Citarum....

Mushalla Al-Mubarok Ambruk Diterjang Hujan, Ayo Bantu..!!!

Mushalla Al-Mubarok Ambruk Diterjang Hujan, Ayo Bantu..!!!

Mushalla ini ambruk tak kuat menahan gempuran hujan deras. Kegiatan ibadah dan syiar mushalla pun terhenti. Ayo bantu renovasi supaya pada bulan Ramadhan warga bisa shalat jamaah, tarawih dan...

Latest News
Lampaui Target Vaksinasi 100.000 Orang/Hari, Pemprov DKI Apresiasi Antusiasme Masyarakat

Lampaui Target Vaksinasi 100.000 Orang/Hari, Pemprov DKI Apresiasi Antusiasme Masyarakat

Jum'at, 25 Jun 2021 02:19

Ingatkan Warga, Dinkes Garut: Varian Baru Covid-19 Banyak Menyerang Anak-anak

Ingatkan Warga, Dinkes Garut: Varian Baru Covid-19 Banyak Menyerang Anak-anak

Jum'at, 25 Jun 2021 01:42

PP Muhammadiyah Meminta Wacana Pembelajaran Tatap Muka kembali Ditunda

PP Muhammadiyah Meminta Wacana Pembelajaran Tatap Muka kembali Ditunda

Jum'at, 25 Jun 2021 00:10

Fenomena Dakwah Copy-Paste

Fenomena Dakwah Copy-Paste

Kamis, 24 Jun 2021 23:35

UMY dan PBI DIY Selenggarakan Training Kewirausahaan Bekam

UMY dan PBI DIY Selenggarakan Training Kewirausahaan Bekam

Kamis, 24 Jun 2021 22:33

Indonesia Darurat Sampah dan Limbah, Anggota FPKS Sesalkan Pengurangan Anggaran

Indonesia Darurat Sampah dan Limbah, Anggota FPKS Sesalkan Pengurangan Anggaran

Kamis, 24 Jun 2021 21:29

Kasus Covid Melonjak, Senator Ingatkan Stok Darah Harus Tetap Terjaga

Kasus Covid Melonjak, Senator Ingatkan Stok Darah Harus Tetap Terjaga

Kamis, 24 Jun 2021 20:54

Penumpang KRL di Stasiun Cikarang Jalani Swab Tes Antigen

Penumpang KRL di Stasiun Cikarang Jalani Swab Tes Antigen

Kamis, 24 Jun 2021 19:48

MUI:  Di Zona Merah, Tidak Diperkenankan Sholat Idul Adha dan Shalat Jamaah di Luar Rumah

MUI: Di Zona Merah, Tidak Diperkenankan Sholat Idul Adha dan Shalat Jamaah di Luar Rumah

Kamis, 24 Jun 2021 18:26

Jangan Lupakan Piagam Jakarta

Jangan Lupakan Piagam Jakarta

Kamis, 24 Jun 2021 17:46

Pejabat PBB: Taliban Rebut 50 Dari 370 Distrik Di Afghanistan

Pejabat PBB: Taliban Rebut 50 Dari 370 Distrik Di Afghanistan

Kamis, 24 Jun 2021 17:08

Tinjau Pemakaman Khusus Covid-19, Anies: Meski Luas Tolong Jangan Dipenuhi

Tinjau Pemakaman Khusus Covid-19, Anies: Meski Luas Tolong Jangan Dipenuhi

Kamis, 24 Jun 2021 16:17

Covid-19 Meningkat, MUI-BNPB Sarankan Perketat Protokol Kesehatan Saat Berqurban

Covid-19 Meningkat, MUI-BNPB Sarankan Perketat Protokol Kesehatan Saat Berqurban

Kamis, 24 Jun 2021 15:08

Masjid Raya Jakarta Islamic Centre Tutup hingga 5 Juli

Masjid Raya Jakarta Islamic Centre Tutup hingga 5 Juli

Kamis, 24 Jun 2021 14:41

Akhiri Pembelahan Politik, Indonesia Perlu Sumpah Ketiga

Akhiri Pembelahan Politik, Indonesia Perlu Sumpah Ketiga

Kamis, 24 Jun 2021 13:58

Kasus RS Ummi, Habib Rizieq Divonis Empat Tahun Penjara

Kasus RS Ummi, Habib Rizieq Divonis Empat Tahun Penjara

Kamis, 24 Jun 2021 12:20

Solo Madani Indonesia Jaya Sampaikan Resolusi kepada Presiden, MPR dan DPR

Solo Madani Indonesia Jaya Sampaikan Resolusi kepada Presiden, MPR dan DPR

Kamis, 24 Jun 2021 11:51

Kasus Covid-19 Semakin Buruk, Politisi PKS: Opsi PSBB Harus Segera Diambil

Kasus Covid-19 Semakin Buruk, Politisi PKS: Opsi PSBB Harus Segera Diambil

Kamis, 24 Jun 2021 10:49

Bohong dalam Delik Bohong

Bohong dalam Delik Bohong

Kamis, 24 Jun 2021 09:37

Legislator Gerindra: Pemerintah Harus Punya Skenario Kurangi Utang Luar Negeri

Legislator Gerindra: Pemerintah Harus Punya Skenario Kurangi Utang Luar Negeri

Kamis, 24 Jun 2021 08:37


MUI

Must Read!
X