Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
7.646 views

Radikalisme dan Kegaduhan Negeri Ini

Tony Rosyid

(Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa)

Di era Jokowi, terutama setelah kasus penistaan agama oleh Ahok, situasi sosial dan politik begitu gaduh. Rakyat terbelah. Bahkan hampir merembet ke isu SARA. Padahal, urusannya hanya bagaimana hukum itu ditegakkan. Terkesan berlarut-larut karena menyangkut sosok gubernur yang diback up kekuatan besar. Kasus Ahok akhirnya memancing massa.

Untungnya, bangsa ini sudah sangat berpengalaman dalam menghadapi isu SARA. Bahkan sejak bangsa ini mulai berdiri, isu SARA sudah dapat diatasi. Berkat kematangan para tokoh pendiri bangsa saat itu, rekonsilasi bisa diwujudkan dalam bentuk ideologi bersama yang bernama Pancasila. Pancasila mengakomodir semua paham dan keyakinan anak bangsa di seluruh tanah air.

Pengalaman berharga inilah yang memberi kesadaran ideologis dan kematangan politik bangsa ini untuk menghadapi berbagai persoalan SARA. Kendati ada pihak-pihak yang terus memancing, terutama untuk kepentingan politik dan kekuasaan.

Kegaduhan rakyat memuncak pada pilpres 2019. Dua Paslon yaitu Jokowi dan Prabowo membelah dukungan sedemikian tajam. Jokowi punya semua fasilitas kekuasaan,  Prabowo punya pendukung militan. Perseteruan tidak saja terjadi di media dan medsos, bahkan sebagian dalam bentuk persekusi. Ironis! Lalu, apa akar masalahnya?

Ideologi? Tidak. Semua anak bangsa sepakat bahwa Pancasila adalah ideologi bersama. Perdebatan soal ini sudah diselesaikan oleh founding fathers kita. Karena agama? Juga tidak. Di Indonesia, kerukunan umat beragama tidak diragukan. Semua pemeluk agama hidup damai di negeri tersubur di dunia ini.

Lalu apa faktornya? Pertama, karena narasi politik. Kalimat seperti "aku Pancasila", "aku NKRI", "Islam radikal", "awas ISIS", "terpapar khilafah", adalah narasi provokatif yang terus dibiarkan membelah rakyat. Ada yang curiga bahwa narasi-narasi semacam itu sengaja dirawat dan digaungkan supaya rakyat tidak fokus ke persoalan bangsa yang sesungguhnya, seperti ekonomi dan korupsi. Nah loh. Kecurigaan publik muncul karena sudah bosan dan "muak" mendengar narasi-narasi tak berkelas semacam itu. Wajar jika mereka meresponnya secara negatif, karena memang ada kesan kuat isu itu terus digoreng dan dibesar-besarkan.

Soal terorisme dan Islam radikal itu memang nyata adanya. Tak dipungkiri! Tapi toh tidak besar dan berada selalu dalam pantaun dan pengawasan pihak keamanan. Gak perlu dibawa-bawa ke ruang politik dan terkesan diimajinasikan wow. Apalagi jika stigma itu digunakan untuk menyasar aktifis-tokoh yang kritis terhadap -atau berbeda politik dengan- penguasa. Ini akan semakin menambah kegaduhan.

Sederhana kok. Buat konsep definitif dan pasti siapa radikalis itu. Ciri-cirinya seperti apa. Misal, siapa saja yang menggunakan ayat-ayat agama, ideologi dan pasal-pasal untuk melawan aturan atau undang-undang yang berlaku di negeri ini, maka ia adalah radikalis. Atau barang siapa yang menggunakan ayat-ayat agama, ideologi dan pasal-pasal untuk menyerang secara tidak sah terhadap orang/kelompok yang berbeda keyakinan, pendapat atau dukungan politik, maka ia adalah radikalis. Jadi jelas definisinya. Jelas juga batasan-batasannya. Tuangkan dalam undang-undang.  Bukan digoreng sana-sini dalam opini publik yang gak jelas.

Ngono yo ngono, tapi ojo ngono, kata orang Jawa. Jangan keterlaluan membodohi rakyat. Kalau terlalu banyak, mual juga. Rakyat juga sudah lelah dibuat gaduh oleh sikap sejumlah elit yang sibuk cari muka. Kerja ngapa, dari pada ngoceh kesana kemari yang gak jelas, kata orang Betawi.

Kedua, ketidakadilan. Jika tegaknya hukum berlaku untuk semua pihak, tanpa membedakan mana mitra dan mana lawan, mana pendukung dan mana bukan pendukung, maka rakyat akan merasa nyaman. Kepastian dan keadilan hukum akan menyatukan pihak-pihak yang terbelah. Semua akan merasa aman dan nyaman berada dalam satu atap kepastian dan perlindungan hukum. Jangan seperti belah bambu, satu digencet, satunya lagi diangkat. Ya teriak. Digencet itu sakit pak. Terlalu sering digencet, mereka akan cari momentum yang tepat untuk melakukan perlawanan. Itu hanya soal waktu saja. Dan ini bahaya!

Sebaliknya, potret hukum yang bermata dua, timpang dan berat sebelah, akan melahirkan semakin banyak kekecewaan. Kekecewaan ini lahir akibat kecemburuan terhadap mereka yang mendapatkan perlakuan khusus di mata hukum. Situasi seperti ini akan terus melanggengkan rakyat dalam dua kelompok yang terbelah, yaitu kelompok yang kebal hukum dan kelompok yang merasa dikejar-kejar oleh aparat hukum. Dan nampaknya, ini yang paling besar kontribusinya terhadap keterbelahan dan situasi kegaduhan itu.

Ketiga, soal integritas dan kapasitas pemerintah. Soal revisi UU KPK misalnya. Rakyat menganggap pemerintah telah kehilangan komitmen terkait pemberantasan korupsi. KPK fi sakaratul maut, kata Abdullah Hehamahua, mantan penasehat KPK. Gimana gak mati, kewenangannya diambil alih oleh Dewan Pengawas, termasuk penyadapan. Pegawainya di-PNS-kan dan setiap kasus bisa di-SP3-kan. Kira-kira nanti kasus Bank Century, BLBI, e-KTP, Meikarta dan Buku Merah dapat SP3 gak ya? Tanya temen saya. Ya, kita tunggu sama-sama, jawabku agak gak bergairah. Kok gak bergairah? KPK mati, gimana mau bergairah?

Kinerja pemerintah saat ini menuai banyak kritik. Selain soal infrastruktur yang terlalu banyak melibatkan hutang dan ada temuan BPK, ekonomi juga memburuk. Harga berbagai kebutuhan naik, harga beli rendah, dan semakin sulitnya mencari lapangan kerja. Banyak pabrik tutup. Ini langsung menyentuh kehidupan riil yang dirasakan rakyat. Gak perlu teriak kedaulatan pangan dan janji tak akan impor kalau kemudian rakyat hidup dalam keadaan sengsara.

Di sisi lain rakyat melihat gelombang pekerja Asing masuk ke Indonesia dengan gaji jauh lebih besar. Ini tentu semakin membuat rakyat gelisah dan merasa terpinggirkan. Lebih baik ini yang diprioritaskan dari pada teriak-teriak radikal.

Jika tiga hal di atas, yaitu narasi permusuhan ditinggalkan, hukum ditegakkan (law enforcement) dan kesulitan ekonomi diatasi, maka dengan sendirinya tensi kegaduhan akan turun. Masyarakat juga sudah lelah gaduh terus.

Tugas siapa ini? Ya penguasa! Di tangan penguasa nasib rakyat ditentukan. Damai atau gaduh, akan sangat bergantung tidak saja kepada pidato dan janji presiden, tapi lebih kepada niat, integritas dan kemampuan pemegang kekuasaan mengatasi semua persoalan bangsa. Jangan salahkan siapa-siapa, karena penguasa dipilih dan digaji untuk mengatasi ini semua.[purWD/voa-islam.com]

Jakarta, 30/10/2019

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Liberalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Tiga Masjid dan Tiga Sekolah di Pelosok Garut ini Krisis Air Bersih. Ayo Wakaf Sumur.!!

Tiga Masjid dan Tiga Sekolah di Pelosok Garut ini Krisis Air Bersih. Ayo Wakaf Sumur.!!

Jamaah masjid, siswa sekolah dan warga pelosok Garut ini kesulitan air untuk ibadah, bersuci, wudhu, memasak, minum, mandi, dan mencuci. Ayo Wakaf Sumur, Pahala Mengalir Tak Terbatas Umur.!!!...

Bocah Yatim Anak Ustadz Pejuang Dakwah Ingin Jadi Dokter Penghafal Quran. Ayo Bantu.!!!

Bocah Yatim Anak Ustadz Pejuang Dakwah Ingin Jadi Dokter Penghafal Quran. Ayo Bantu.!!!

Syafani Azzahra, bocah yatim sejak usia tujuh tahun ini bercita-cita ingin menjadi dokter penghafal Al-Qur'an. Setamat SD ia ingin melanjutkan sekolah ke pesantren, tapi terkendala biaya. Ayo...

Mobil Baru Akan Disulap Jadi Ambulans, Butuh Biaya 39 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!

Mobil Baru Akan Disulap Jadi Ambulans, Butuh Biaya 39 Juta Rupiah. Ayo Bantu.!!

Di tengah pandemi Covid-19, permintaan layanan ambulans untuk pasien dan jenazah terus meningkat. Mobil baru IDC akan disulap jadi ambulans, butuh dana 39 juta rupiah untuk biaya modifikasi....

Berburu Keutamaan Jum’at dan Yatim, Mari Berbagi Hidangan dan Santunan kepada Santri Yatim Penghafal Al-Qur'an

Berburu Keutamaan Jum’at dan Yatim, Mari Berbagi Hidangan dan Santunan kepada Santri Yatim Penghafal Al-Qur'an

Menggabung keutamaan Jum’at dan Cinta Yatim, IDC akan berbagi ke Pesantren Tahfizhul Qur’an Darul Hijrah Cikarang. ...

Keluarganya Jadi Korban Pemurtadan, Ustadz Difabel Gigih Berdakwah di Pelosok, Ayo Bantu.!!

Keluarganya Jadi Korban Pemurtadan, Ustadz Difabel Gigih Berdakwah di Pelosok, Ayo Bantu.!!

Terlahir dengan fisik tak sempurna, Ustadz Rohmat diuji istri dan kedua orang tuanya murtad jadi korban kristenisasi. Kini ia gigih berdakwah di pelosok Lembah Ciranca Garut....

Latest News
Pejabat Hamas: Hubungan Dunia Maya Israel-Arab Akan Jadi Bencana Bagi Timur Tengah

Pejabat Hamas: Hubungan Dunia Maya Israel-Arab Akan Jadi Bencana Bagi Timur Tengah

Kamis, 02 Feb 2023 16:14

MUI: Politik Praktis Enggak Jelek, Kita Tak Bisa Hindari

MUI: Politik Praktis Enggak Jelek, Kita Tak Bisa Hindari

Kamis, 02 Feb 2023 14:35

Ukraina Tenggelamkan Lima Kapal Rusia Yang Membawa Tim Pengintai Dan Sabotase

Ukraina Tenggelamkan Lima Kapal Rusia Yang Membawa Tim Pengintai Dan Sabotase

Kamis, 02 Feb 2023 12:37

Israel Lakukan 700 Serangan Terhadap Warga Palestina Pada Bulan Januari

Israel Lakukan 700 Serangan Terhadap Warga Palestina Pada Bulan Januari

Kamis, 02 Feb 2023 11:45

Dokumen Inggris Ungkap Bush Perintahkan CIA Untuk 'Mengganti' Arafat Selama Intifada Ked

Dokumen Inggris Ungkap Bush Perintahkan CIA Untuk 'Mengganti' Arafat Selama Intifada Ked

Kamis, 02 Feb 2023 10:42

Ayo, Berbagi Jum'at Barokah ke Santri Penghafal Qur'an Ulil Albab – Solo

Ayo, Berbagi Jum'at Barokah ke Santri Penghafal Qur'an Ulil Albab – Solo

Rabu, 01 Feb 2023 16:03

Azerbaijan Tangkap 7 Orang 'Jaringan Mata-mata Iran'

Azerbaijan Tangkap 7 Orang 'Jaringan Mata-mata Iran'

Rabu, 01 Feb 2023 13:36

Lebih Dari 1.400 Warga Suriah Terbunuh Oleh Bom Tandan Rusia Dan Rezim Assad

Lebih Dari 1.400 Warga Suriah Terbunuh Oleh Bom Tandan Rusia Dan Rezim Assad

Rabu, 01 Feb 2023 10:25

Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadhan 1444 H Jatuh Hari Kamis 23 Maret 2023, Idul Fitri 21 April 2023

Muhammadiyah Tetapkan Awal Ramadhan 1444 H Jatuh Hari Kamis 23 Maret 2023, Idul Fitri 21 April 2023

Selasa, 31 Jan 2023 18:00

MK Tolak Legalkan Penikahan Beda Agama

MK Tolak Legalkan Penikahan Beda Agama

Selasa, 31 Jan 2023 17:13

Pengadilan Militer SNA Vonis Istri Pemimpin Islamic State Somalia 8 Tahun Penjara

Pengadilan Militer SNA Vonis Istri Pemimpin Islamic State Somalia 8 Tahun Penjara

Selasa, 31 Jan 2023 15:30

Haruskah Basuh Telinga Bagian Dalam Saat Mandi Janabat?

Haruskah Basuh Telinga Bagian Dalam Saat Mandi Janabat?

Selasa, 31 Jan 2023 15:00

Press Release Audiensi Presidium Duta Peradaban dengan Fraksi PKS DPR-RI

Press Release Audiensi Presidium Duta Peradaban dengan Fraksi PKS DPR-RI

Selasa, 31 Jan 2023 14:46

Adab Saat Menguap

Adab Saat Menguap

Selasa, 31 Jan 2023 13:00

Sudan Bebaskan Pria Yang Dinyatakan Bersalah Membunuh Diplomat AS

Sudan Bebaskan Pria Yang Dinyatakan Bersalah Membunuh Diplomat AS

Selasa, 31 Jan 2023 12:55

Hamas Tangkap Drone Mata-mata Israel, Ekstrak 'informasi sensitif' Terkait Pasukan Pendudukan

Hamas Tangkap Drone Mata-mata Israel, Ekstrak 'informasi sensitif' Terkait Pasukan Pendudukan

Selasa, 31 Jan 2023 12:05

59 Orang Tewas Dalam Pemboman Jibaku Di Sebuah Masjid Di Pakistan

59 Orang Tewas Dalam Pemboman Jibaku Di Sebuah Masjid Di Pakistan

Selasa, 31 Jan 2023 11:00

PKS Serahkan Penentuan Cawapres Kepada Anies Baswedan

PKS Serahkan Penentuan Cawapres Kepada Anies Baswedan

Selasa, 31 Jan 2023 10:05

Diusung PKS, Demokrat dan Nasdem, Anies Resmi Genggam Tiket Pilpres 2024

Diusung PKS, Demokrat dan Nasdem, Anies Resmi Genggam Tiket Pilpres 2024

Selasa, 31 Jan 2023 09:13

Qariah Disawer, Bukti Sistem Sekuler Bikin Keblinger

Qariah Disawer, Bukti Sistem Sekuler Bikin Keblinger

Senin, 30 Jan 2023 19:43


MUI

Must Read!
X