Ahad, 27 Jumadil Awwal 1448 H / 8 November 2026 13:56 wib
42 views
Ahmad Rofiqi: Memahami Jahilliyah sebagai Kunci Kesempurnaan Iman
BANDUNG (voa-islam.com) - "Salah satu kunci kesempurnaan iman sahabat Rasul adalah karena mereka pernah merasakan masa jahiliyah, lalu melakukan hijrah. Namun hari ini, ancaman terbesar umat Islam adalah ketika kita sudah masuk Islam tetapi gagal memahami konsep Islam itu sendiri, hingga terjebak dalam sekularisme sebagai bentuk jahiliyah versi modern."
Pesan mendalam tersebut disampaikan oleh Direktur SADAQA sekaligus Pendiri Ponpes Tamaddun, Ahmad Rofiqi, Lc., M.Pd.I., saat membuka kelas Sekolah Pemikiran Islam (SPI) yang berlangsung di Masjid Istiqomah pada Kamis (5/11/2026). Mengutip kalimat emas Imam Ibnul Qayyim Al-Jouziyah, beliau menegaskan bahwa pemahaman akan kebenaran dan kesempurnaan Islam tidak akan pernah utuh tanpa memahami hakikat serta bentuk-bentuk jahiliyah.
Dalam pemaparannya, Ahmad Rofiqi mengurai akar kata jahiliyah yang secara mendasar bermakna ketiadaan ilmu pengetahuan (problem of knowledge) sekaligus ketiadaan kelembutan emosi (psychological problem). Mengutip pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Sayyid Quthb dalam Fi Zhilalil Qur'an, “jahiliyah bukan sekadar periode sejarah masa lalu sebelum Islam. Jahiliyah merupakan kondisi, karakteristik, atau sistem buatan manusia yang menolak wahyu Allah sebagai pedoman hidup, yang bisa terjadi di masa lalu, hari ini, maupun masa depan.”
Merujuk pada Al-Qur'an, Ahmad membagi jahiliyah ke dalam empat bentuk utama, yaitu jahiliyah akidah yang tercermin pada paham materialisme; jahiliyah hukum yang menolak hukum Allah; jahiliyah akhlak yang ditandai dengan gaya hidup merusak moral; serta jahiliyah sosial yang mengagungkan status sosial dan fanatisme kelompok. Meski demikian, beliau menggarisbawahi sesuai petunjuk hadits bahwa tidak semua perbuatan atau sistem jahiliyah serta merta membatalkan keislaman seseorang.
Paparan mendalam mengenai bentuk-bentuk jahiliyah tersebut memantik respons kritis dari peserta. Salah satu murid SPI, Qori, melontarkan pertanyaan yang mewakili realitas kehidupan modern saat ini. "Bagaimana cara kita menjaga diri di lingkungan yang terang-terangan penuh dengan nilai-nilai jahiliyah?" tanya Qori di tengah berlangsungnya diskusi.
Menjawab kegelisahan tersebut, Ahmad Rofiqi mengajak para peserta untuk mentadaburi kisah Nabi Yusuf AS yang diabadikan Al-Qur'an sebagai kisah terindah. Beliau menjelaskan bahwa Nabi Yusuf tetap mampu bekerja, berbaur, bahkan memegang tampuk kekuasaan sebagai perdana menteri di tengah lingkungan istana yang kental dengan nuansa jahiliyah. Bahkan, Nabi Yusuf turut mengajak sang ayah, Nabi Yakub, untuk bergabung ke Mesir tanpa pernah lebur atau terpengaruh oleh sistem jahiliyah di sekitarnya. Melalui teladan tersebut, beliau menegaskan pentingnya memegang teguh prinsip keimanan di tengah peradaban modern tanpa harus mengisolasi diri dari kehidupan sosial. (Nadia Fujri Rahman/Ab)
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!