Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
4.068 views

Ashabul Kafe

SEBAGAIMANA kopi sudah banyak di-filosofi-kan oleh para bijak bestari, waktunya kini kafe juga didekati dengan kredo semacamnya. Karena yang tak kalah penting dari sekadar membidas penghuni tempat adalah membahas nilai yang melingkupi tempat itu sendiri. Kata Malik bin Nabi mensyarah filsafat manusia-nya: manusia bijak adalah mereka yang dapat leluasa “mendayagunakan tanah (turōb).. untuk dapat membangun visi- visi besarnya.”   

Jean Paul Sartre (1905- 1980)‒ seorang eksistensialis kenamaan dari Perancis‒ adalah salah satu yang memahami hakikat itu selagi dini. Setelah tempat cukur yang membuatnya menyadari wujud eksistensial ketampanannya yang dipantulkan kaca, celetukkan Raymond Aron‒ teman ngopinya‒ adalah yang seturutnya membuatnya ber-dahsyat untuk kali kesekiannya. Kata Raymond kepada Sartre sambil menunjuk gelasnya: “Jika Anda fenomenolog, seharusnya Anda bisa mem-filosofi-kan koktail ini.”  

Kalau bukan “lari dari sesuatu” orang- orang yang bersambang ke kafe memang “datang untuk sesuatu.” Sartre adalah yang terakhir. Ia datang ke kafe untuk mendayagunakan tanahnya‒ demi memupuk filosofinya  dalam diskusi- diskusi hangat. Bersama sahabat setianya, Simone de Beauvoir, Sartre bukan hanya bisa menghirup dengan bebas wewangian kopi. Di Kafe, ia bisa dengan bebas menertawakan ke-absurd-an orang- orang dengan pemaknaan sendiri‒ sambil tutup kuping mendengar diktum orang kebanyakan. 

Kafe memang adalah tempat yang pas dihuni oleh ragam orang yang mengusung pikiran. Nuansanya ragam, kafe tidak pernah memihak. Muda- mudi yang mendaras Das Kapital Karl Marx bisa duduk dengan tenang di pojok kanan. Di sebelahnya para Syabab pendamba khilafah sedang mengaji Nudzum Islamiyyah. Begitupun para kader Tarbiyah‒  syahdu mendengar wasiat amal murobbi-nya. Alih- alih saling menggulung, kutub- kutub pemikiran itu dapat bersila dengan nyaman dalam satu ruangan.

Seperti kopi yang tergolek di atas meja- meja kafe, begitupun pikiran yang berada di sana; semuanya ragam cita rasa. Yang suka Arabika tidak bisa menghakimi mereka para penikmat Robusta hanya karena benci kafein berlebih. Begitupun sebaliknya, para penyuka Robusta tak punya kuasa menghujat penikmat Arabika hanya karena benci kadar gula yang bergempita. Pada akhirnya di kafe, orang- orang yang terjangkit diabetes harus bertenggang rasa dengan para insomnia.       

Oleh karena suasana tenggang rasa itulah; menjajakkan pikiran di Kafe bisa jadi kesempatan yang amat menjanjikan. Revolusi kedai kopi adalah corak paling mendasar yang menggambarkan strategi para reformis (islāhi) seperti Malik bin Nabi dan Hasan al- Banna.  Benabi muda adalah sosialita di Ben Yaminah‒ sebuah kafe di jantung kota Tebessa. Lewat diskusi- diskusinya di sana, Benabi jadi bisa mengenal dialektika dua kutub sentral pemikiran yang hingga kini terus bergulat: konservatif dan progresif. 

Hasan al- Banna tidaklah jauh berbeda. Tentang kopi, di risalah-nya, secara metaforik ia mengutip perkataan Bernard Shaw yang mengesimpahkan betapa agungnya kepribadian Muhammad shalallahu alaihi wa sallam di matanya. Kata Bernard: “alangkah butuhnya dunia ini kepada seorang seperti Muhammad, yang dapat memecahkan berbagai persoalan pelik sembari meneguk secangkir kopi.”Tak ayal, al- Banna terlihat begitu yakin memulai dakwahnya dengan meneroka kedai- kedai kopi seantero Kairo.

Di tengah arus budaya pop yang tak berkesudahan, romantisisme tumbuh subur meninabobokan pikiran cemerlang persona di dunia. Muda- mudi yang harusnya digelorakan dengan tradisi ilmu pengetahuan, malah digiring untuk selalu jadi korban perasaan. Jika alur seperti ini terus dipertahankan, jangan heran kalau anak- anak peradaban Islam akan akrab berakhir seperti Werther di novelnya Goethe‒ yang bunuh diri sebatas karena pupus harapan menjejaki hubungan percintaan.  

Persona- persona Islam harus kembali mencari gua- guanya seperti para ashabul kahfi yang pergi untuk menyelamatkan iman. Bukan hanya perasaan, para persona itu juga harus diarahkan untuk menyelamatkan akal budi mereka. Karena kebenaran hari ini adalah yang konsisten masuk di akal. Kenyataan seperti itu tak mungkin digapai kecuali dengan menyatukan pikiran dalam diskusi- diskusi sengit meloloskan dalil. Kafe boleh jadi adalah tempat yang pas menyediakan suasana semacam itu.      

Kafe adalah gua- gua baru tempat para persona menilik ragam permasalahannya. Bukan hanya sekadar ditangisi kemudian dilupakan, permasalahan dunia Islam yang disajikan di meja- meja kafe haruslah mendalam pantang hanya mengawang di permukaan. Kalau para gagak putih itu belum juga ketemu, arahkan mereka paling tidak untuk pantang pulang nir- kesimpulan. Camkan kata Galileo: “ukurlah yang dapat diukur, dan buatlah agar dapat diukur sesuatu yang tidak dapat diukur.”

Kholaf bin Mutsanna pernah bersaksi: “kami telah melihat sepuluh orang berkumpul di Bashrah dalam sebuah majlis yang tidak pernah terjadi di dunia.” Jika majlis itu terlahir kembali, meja jenjang di kafe boleh jadi adalah yang mempersuakan kembali mereka. Sambil menyeruput aneka rasa shisha, seorang syiah beradu syair dengan kerabat sunni di sebelahnya. Pemuda Yahudi asyik bercengkarama dengan sejawatnya yang Nashrani. Saking asyiknya, mereka sampai lupa mempermasalahkan perbedaan curam yang melingkupi mereka.

Di kafe, perbedaan curam memang melarut seperti gula di pusaran secangkir teh. Semua diputuskan dengan sehat lewat dialog. Kafe menggambarkan betul apa yang Muhammad Khatami‒ mantan presiden Iran‒ tuliskan di bukunya The Dialog of Civilizations. Di sana ia berterus terang mengungkapkan kegembiraannya bisa duduk membersamai mahasiswa. “Semua urusan selalu dikembalikan pada aktivitas diskusi, menyimak, dan memahamkan,”begitu dedas Khatami‒ kagum. 

Jika Sartre menemukan ketampanannya yang  eksistensial hanya dengan memaku pandangan di cermin, persona Islam harusnya bisa lebih dalam memahami itu selagi dulu. "Hāsibū anfusakum qabla an tuhāsabū."" Rajin- rajin bercermin untuk memerhati kekurangan diri adalah wasiat Umar bin Khattab untuk persona Islam jauh- jauh hari. Mungkin, masalahnya terletak saat kekurangan- kekurangan itu samar dicarap; karena persona Islam rabun menengarai aibnya yang direfleksikan kaca.

Bercermin di derasnya air yang mengalir memang lebih sulit ketimbang di air yang tenang. Di helaan kebisingan politik ibu kota, para persona memang sudah selayaknya sesekali memancangkan kaki ke sudut- sudut warung kopi. "Saya minum (kopi), maka saya ada", Roger Secruton saja sampai berani menyelewengkan kata Descartes yang satu ini demi meyakinkan pembacanya. Ragam masalah eksistensial diri memang terkadang harus diselesaikan dengan tenang sambil menyilang kaki─ menyeruput secangkir kopi. Allahu a’lam.*

Faris Ibrahim

Mahasiswa jurusan Aqidah- Filsafat Universitas al- Azhar Kairo

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Citizens Jurnalism lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Hidup Sebatang Kara, Nenek Mailah Tinggal di Kandang Domba. Ayo Bantu.!!

Hidup Sebatang Kara, Nenek Mailah Tinggal di Kandang Domba. Ayo Bantu.!!

Di usia 63 tahun saat tubuhnya renta sakit-sakitan, ia hidup sebatang kara. Memasuki musim hujan, rumahnya porak-poranda diterjang puting beliung. Ia terpaksa tinggal di kandang Domba tetangganya....

Terbentur Dana, Santri Hafiz Qur'an Terancam Batal Kuliah ke Luar Negeri. Ayo Bantu.!!

Terbentur Dana, Santri Hafiz Qur'an Terancam Batal Kuliah ke Luar Negeri. Ayo Bantu.!!

Hilmi Priyatama, santri juara penghafal Qur'an 30 juz ini lulus beasiswa di Universitas Internasional Afrika Sudan. Namun ia terancam batal berangkat karena terkendala biaya transport, pemberkasan...

Mushalla Annur Garut Sudah Rampung 60 Persen, Masih Dibutuhkan Dana 20 Juta Lagi, Ayo Bantu.!!

Mushalla Annur Garut Sudah Rampung 60 Persen, Masih Dibutuhkan Dana 20 Juta Lagi, Ayo Bantu.!!

Pembangunan mushalla sudah rampung 60 persen dari pondasi hingga kubah. Masih kekurangan dana 20 juta rupiah untuk finishing agar berfungsi sebagai pusat ibadah, pembinaan aqidah, markas dakwah...

Korsleting Listrik, Pesantren Nurul Hidayah Banten Ludes Terbakar, Ayo Bantu.!!!

Korsleting Listrik, Pesantren Nurul Hidayah Banten Ludes Terbakar, Ayo Bantu.!!!

Musibah kebakaran menghanguskan kamar santri, mushaf Al-Qur'an, kitab kuning, pakaian, alat tulis dsb. Diperlukan dana 25 juta rupiah untuk membangun asrama santri berupa rumah panggung dari...

Mushalla Al-Fatihah Tasikmalaya Selesai Dibangun, Total Biaya 66 Juta Rupiah

Mushalla Al-Fatihah Tasikmalaya Selesai Dibangun, Total Biaya 66 Juta Rupiah

Alhamdulillah mushalla yang hampir roboh dan tidak layak, selesai dibangun permanen. Total dana yang disalurkan sebesar Rp 66.813.500 semoga jadi amal jariyah, pahala terus mengalir tiada akhir...

Latest News
Jika Polisi Tak Proses Hukum, Kasus Sukmawati akan Digaungkan pada Reuni Akbar 212

Jika Polisi Tak Proses Hukum, Kasus Sukmawati akan Digaungkan pada Reuni Akbar 212

Kamis, 21 Nov 2019 22:08

Rindu untuk Gaza

Rindu untuk Gaza

Kamis, 21 Nov 2019 22:07

Saat Presiden Marah Soal Impor Cangkul, Ada Apakah?

Saat Presiden Marah Soal Impor Cangkul, Ada Apakah?

Kamis, 21 Nov 2019 21:50

Ustaz Yusuf Martak: Sukmawati Lakukan Penistaan Islam Tingkat Tinggi

Ustaz Yusuf Martak: Sukmawati Lakukan Penistaan Islam Tingkat Tinggi

Kamis, 21 Nov 2019 21:07

Sukmawati Telah Membuat Kemarahan Umat Islam dan Kegaduhan Bangsa

Sukmawati Telah Membuat Kemarahan Umat Islam dan Kegaduhan Bangsa

Kamis, 21 Nov 2019 21:04

Doa-doa Saat Pergi Shalat Jum’at

Doa-doa Saat Pergi Shalat Jum’at

Kamis, 21 Nov 2019 21:00

Mohammed Ali Umumkan Proyek Baru Untuk Gulingkan Presiden Mesir Abdel Fattah Al-sisi

Mohammed Ali Umumkan Proyek Baru Untuk Gulingkan Presiden Mesir Abdel Fattah Al-sisi

Kamis, 21 Nov 2019 21:00

Yordania Batalkan Konferensi Antar Agama di Amman yang Akan Dihadiri Delegasi Israel

Yordania Batalkan Konferensi Antar Agama di Amman yang Akan Dihadiri Delegasi Israel

Kamis, 21 Nov 2019 20:30

Reuni Akbar Mujahid 212 Bukan untuk Gagah-gagahan

Reuni Akbar Mujahid 212 Bukan untuk Gagah-gagahan

Kamis, 21 Nov 2019 20:00

Ideologi Radikalisme

Ideologi Radikalisme

Kamis, 21 Nov 2019 19:53

Marak Perceraian Diadakan Sertifikasi Perkawinan, Solutifkah?

Marak Perceraian Diadakan Sertifikasi Perkawinan, Solutifkah?

Kamis, 21 Nov 2019 19:38

Reuni 212, Mengukur Kekuatan Oposisi

Reuni 212, Mengukur Kekuatan Oposisi

Kamis, 21 Nov 2019 19:00

PM Israel Benyamin Netanyahu Setujui RUU untuk Mencaplok Lembah Yordan

PM Israel Benyamin Netanyahu Setujui RUU untuk Mencaplok Lembah Yordan

Kamis, 21 Nov 2019 18:57

Rakyat Perlu Kerja Pranikah, Bukan Kursus Pranikah

Rakyat Perlu Kerja Pranikah, Bukan Kursus Pranikah

Kamis, 21 Nov 2019 18:49

Doa Tertolak Tersebab Harta dan Makanan Haram

Doa Tertolak Tersebab Harta dan Makanan Haram

Kamis, 21 Nov 2019 17:36

Mengucapkan Salam dengan Salam Semua Agama itu Tidak Diperintahkan

Mengucapkan Salam dengan Salam Semua Agama itu Tidak Diperintahkan

Kamis, 21 Nov 2019 17:25

Genderuwo Radikalisme

Genderuwo Radikalisme

Kamis, 21 Nov 2019 16:59

ASN Bermental Budak

ASN Bermental Budak

Kamis, 21 Nov 2019 15:54

Penjilat Politik

Penjilat Politik

Kamis, 21 Nov 2019 14:44

Penistaan Agama Makin Marak, Ustaz Fadlan Garamatan Kaitkan dengan Komunisme

Penistaan Agama Makin Marak, Ustaz Fadlan Garamatan Kaitkan dengan Komunisme

Kamis, 21 Nov 2019 14:14


Gamis Syari Cantik Murah Terbaru

Kumpulan Video Aksi Bela Islam
Must Read!
X