Jum'at, 17 Muharram 1448 H / 3 Juli 2026 04:16 wib
112 views
Studium Generale STIQ Ar-Rahman, UBN: Alquran Harus Menjadi 'Operating System' Kehidupan Mahasiswa
BOGOR (Voa-Islam.com)--Pendiri dan Pembina STIQ Ar-Rahman, KH. Dr. (H.C.) Bachtiar Nasir, Lc., M.M. (UBN), menegaskan bahwa krisis terbesar yang dihadapi mahasiswa di era digital bukanlah keterbatasan akses terhadap ilmu pengetahuan, melainkan belum menjadikan Al-Qur'an sebagai operating system kehidupan yang mengarahkan cara berpikir, mengambil keputusan, beramal, hingga membentuk karakter.
Penegasan tersebut disampaikan dalam Studium Generale 1448 Hijriah yang diselenggarakan STIQ Ar-Rahman di Aula KHBN, Kamis (2/7/2026), mengusung tema "Al-Qur'an sebagai Operating System Kehidupan: Dari Tadabbur Menuju Transformasi Karakter Mahasiswa Qur'ani." Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian akademik Semester Genap Tahun Akademik 2025–2026 sekaligus mempertegas komitmen STIQ Ar-Rahman sebagai Kampus Tadabbur Al-Qur'an.
Dalam pemaparannya, UBN menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah menghadirkan kemudahan luar biasa dalam mengakses ilmu pengetahuan dan berbagai kajian keislaman. Namun, kemudahan tersebut belum tentu melahirkan perubahan karakter. Menurutnya, persoalan utama mahasiswa saat ini bukanlah kekurangan informasi, melainkan ilmu yang belum bertransformasi menjadi hidayah yang membimbing kehidupan.
"Mahasiswa hari ini tidak kekurangan informasi. Persoalannya adalah ilmu belum menjadi hidayah yang bekerja dalam kehidupan. Al-Qur'an belum menjadi sistem yang mengarahkan cara berpikir, mengambil keputusan, dan membentuk karakter," tegasnya.
UBN mengidentifikasi lima tantangan utama yang dihadapi mahasiswa di era digital, yaitu banjir informasi tanpa transformasi diri; dekat dengan ilmu, tetapi jauh dari pengamalan; mudah mengakses kajian, tetapi sulit menjaga istiqamah; kuatnya pengaruh algoritma media digital terhadap pola pikir dan gaya hidup; serta belum menjadikan Al-Qur'an sebagai landasan dalam setiap pengambilan keputusan.
Tadabbur sebagai Jalan Transformasi
Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, UBN memperkenalkan konsep Tadabbur dan Hidayah Al-Qur'an sebagai pendekatan pembelajaran dan pembinaan yang berorientasi pada transformasi. Proses ini dimulai dengan menggali hidayah dari setiap ayat, mengoperasionalkannya menjadi sistem kehidupan, menerjemahkannya ke dalam amal nyata, menjaganya melalui muwazabah, hingga membentuk karakter dan peradaban Qur'ani.
Menurutnya, Al-Qur'an tidak diturunkan hanya untuk dibaca atau dihafalkan, tetapi sebagai petunjuk hidup yang harus dipahami, diamalkan, dan dijadikan pedoman dalam seluruh aspek kehidupan. Hidayah bukan sekadar perasaan tersentuh ketika membaca Al-Qur'an atau semangat sesaat setelah mengikuti kajian, melainkan sistem petunjuk Allah yang membimbing manusia mengenali kebenaran, memilih jalan yang benar, mengamalkannya secara istiqamah, serta memahami konsekuensi setiap pilihan hidup berdasarkan sunatullah.
Dalam kuliah umum tersebut, UBN juga memperkenalkan konsep Operating System Predictive Tadabbur (OSPT) sebagai model implementasi hidayah Al-Qur'an dalam kehidupan. Untuk mendukung penerapannya, ia memperkenalkan Engine V1, yaitu kerangka tadabbur yang dirancang secara sistematis untuk membantu menggali hidayah Al-Qur'an secara ilmiah, terukur, dan aplikatif.
UBN menjelaskan bahwa proses transformasi dimulai dari tilawah, fahm (memahami), tadabbur, istikhraj hidayah, kemudian dioperasionalkan melalui OSPT, diterjemahkan ke dalam amal nyata, dibiasakan melalui muwazabah, hingga melahirkan karakter Qur'ani yang menjadi fondasi lahirnya peradaban Qur'ani.
"Al-Qur'an bukan hanya untuk dibaca. Al-Qur'an harus menjadi hidayah yang bekerja. Hidayah menjadi sistem hidup, sistem hidup melahirkan amal, amal dijaga dengan muwazabah, muwazabah membentuk karakter, dan karakter Qur'ani akan melahirkan peradaban Qur'ani," jelasnya.
Menutup Studium Generale, UBN mengajak seluruh mahasiswa STIQ Ar-Rahman menjadi generasi yang tidak dikendalikan oleh arus algoritma media digital, tetapi menjadikan Al-Qur'an sebagai pusat dalam setiap pengambilan keputusan, menjaga amanah ilmu, memanfaatkan teknologi secara bijaksana, serta mempersiapkan diri menjadi ulama, intelektual, dan pemimpin yang mampu memberikan solusi bagi umat.
Melalui Studium Generale ini, STIQ Ar-Rahman kembali menegaskan komitmennya dalam mengembangkan pendidikan tinggi berbasis Tadabbur Al-Qur'an. Kampus tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan lulusan yang menjadikan Al-Qur'an sebagai operating system kehidupan sehingga mampu menghadirkan transformasi karakter dan berkontribusi dalam membangun peradaban Qur'ani.*[Ratna Rose/Voa-Islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!