Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
6.219 views

Meneropong Wacana Eliminasi Tuberkulosis 2030

 
Oleh: Annisa Hana
(Aktivis Dakwah dan Penulis Buku)
 
Kesehatan merupakan hal yang penting bagi keberlangsungan hidup manusia. Apa jadinya jika masyarakat di sebuah negeri justru diancam dengan penyakit yang membahayakan kesehatan? Tentu saja akan tercipta kehidupan yang tidak kondusif karena SDM yang ada tidak mampu menjalankan produktivitas kehidupan secara ideal. Adapun salah satu penyakit menular yang menjadi momok di negeri ini adalah Tuberkulosis (TBC), yakni sebuah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri tersebut dapat masuk ke paru-paru sehingga menyebabkan penderitanya mengalami sesak napas dan batuk kronis.
 
Berdasarkan data yang dirilis oleh WHO Global TB Report, pada tahun 2010 di Indonesia ada 834.000 insiden (kasus baru) yang meningkat menjadi 842.000 di tahun 2019. Kemudian puncaknya mencapai 1.060.000 kasus pada 2022. Dan di tahun 2022 juga dilaporkan angka mortalitas pasien TB tanpa HIV dan TB dengan HIV di Indonesia secara berturut-turut sebanyak 134.000 dan 6.700. Prof Dr dr Erlina Burhan, SpP(K), M.Sc, Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI), menyatakan bahwa total pasien TB yang meninggal selama setahun sebanyak 140.700, yang artinya, terdapat 385 pasien meninggal setiap harinya atau 16 orang meninggal setiap jamnya karena TB. (republika.co.id-17 Februari 2024)
 
Atas fakta demikian, Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Menkes RI), Budi Gunadi Sadikin, menyatakan adanya urgensitas percepatan dalam penyediaan vaksin TBC atau tuberkulosis baru. Oleh karena itu, saat ini Indonesia tengah mengembangkan beberapa kandidat vaksin TBC. Diantaranya adalah:
 
Pertama, vaksin yang dikembangkan Bill & Melinda Gates Foundation (BMGF). Vaksin yang awalnya dikembangkan oleh perusahaan farmasi asal Inggris, GSK, ini memanfaatkan protein rekombinan.
 
Kedua, vaksin TBC yang dikembangkan melalui kerja sama perusahaan farmasi asal Cina, CanSinoBio, dan perusahaan biofarmasi asal Indonesia, Etana. Pengembangan vaksin ini menggunakan vektor virus dan sedang uji klinis fase pertama.
 
 
Ketiga, vaksin yang dikembangkan oleh perusahaan bioteknologi asal Jerman, BioNTech, dan perusahaan farmasi asal Indonesia, Biofarma. Pengembangan vaksin ini menggunakan teknologi mRNA dan saat ini sedang penjajakan untuk lokasi uji klinis fase 2 di Indonesia.
 
Sebagaimana diketahui bahwa Indonesia menempati peringkat ke-3 negara dengan kasus TB terbanyak setelah India dan Cina. Oleh karena itu, Indonesia menjalankan upaya mengeliminasi TB yang sejalan dengan program End TB Strategy yang diinisiasi oleh WHO demi mengakhiri epidemi TB pada 2030 dan menekan kasus TB kurang dari 1 kasus per 1 juta penduduk pada 2050. Namun benarkah berbagai upaya yang dilakukan akan berhasil jika tidak ada perubahan secara sistemis?
 
Korelasi Kemiskinan dan Tuberkulosis
 
Merebaknya tuberkulosis berjalan beriringan dengan tingginya angka kemiskinan di suatu negara. Sebagaimana dituliskan dalam sebuah artikel dalam Jurnal Nature edisi Mei lalu yang dibagikan eks Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Tjandra Yoga Aditama, Senin 27 Juni 2022 bahwa Tuberkulosis di Indonesia memiliki prevalensi sekitar 300 kasus per 100 ribu penduduk dan GDP USD 3.870 (Rp57 juta).
 
Oleh karena itu, Indonesia memiliki PR besar dalam menuntaskan akar masalah TB, yakni kemiskinan. Sebagaimana dirilis oleh katadata.co.id (13-02-2024) bahwa sebanyak 7,94 persen warga Indonesia tinggal di rumah kumuh dengan persentase terbanyak di Papua, kemudian NTT, selanjutnya DKI Jakarta. Miris! Ibu kota pun menempati persentase ke-3 terbanyak dalam soal tempat tinggal kumuh warganya.
 
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin pada Maret 2023 sebesar 25,90 juta orang. Angka tersebut diklaim menurun 0,46 juta orang dari September 2022 dan menurun 0,26 juta orang terhadap Maret 2022. Namun benarkah realita di lapangan demikian? tentu tidak, karena faktanya rakyat Indonesia makin banyak yang terlilit persoalan ekonomi sehingga terjerat dalam kemiskinan. Dan kemiskinan itulah yang memperlemah daya beli masyarakat terhadap makanan bergizi seimbang dan tempat tinggal yang layak serta sanitasi yang baik. Akibatnya wajar jika kasus TB kian meningkat di tengah masyarakat.
 
Ketidakmampuan masyarakat memperoleh kesejahteraan hidup tentu berkorelasi dengan sistem imun dalam tubuh. Akibatnya, mudah terserang penyakit. Belum lagi kondisi tempat tinggal yang kumuh, semakin menambah parah penularan berbagai bakteri dan virus. Oleh karena itulah, persoalan kemiskinan ini harus menjadi perhatian serius dari pemerintah jika memang serius ingin menuntaskan kasus TB di 2030.
 
Eliminasi TB, Evaluasi Sistem Hidup
 
Tingginya angka kemiskinan di negeri ini tak bisa dilepaskan dari penerapan sistem kehidupan yang rusak. Sistem inilah yang pada akhirnya melahirkan berbagai kebijakan negara yang tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat. Sebagaimana kita tahu, bahwa negeri ini mengadopsi sistem ekonomi kapitalisme, yakni menjadikan para kapitalis berkolaborasi dengan para penguasa sehingga melahirkan kepemimpinan korporatokrasi.
 
Akibatnya, berbagai kebijakan negara yang lahir memfasilitasi kepentingan para kapitalis tadi. Berbagai layanan publik pun dikomersialiasasi karena negara menyerahkan pengelolaannya kepada swasta, baik asing maupun asing. Akhirnya rakyat harus membayar mahal biaya kesehatan, pendidikan, bahkan layanan-layanan publik lainnya yang semestinya menjadi hak rakyat.
 
Demikianlah sistem kapitalisme memosisikan negara sebatas regulator, bukan provider. Padahal dalam pandangan Islam, penguasa itu adalah raa’in yakni pemelihara urusan rakyat. Negara haram mengomersialiasi kebutuhan publik demi bisnis. Karena hakikatnya negara bertanggung jawab mengurus rakyatnya dan melayani setiap kebutuhannya.
 
Negara juga haram memprivatiasi sumber daya alam yang depositnya melimpah kepada pihak swasta karena sejatinya itu adalah milik rakyat secara umum. Negara lah yang wajib mengelolanya dan hasilnya dikembalikan untuk kebutuhan rakyat. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad)
 
Jika negara mengelola sesuai dengan syariat Islam sumber daya alam yang melimpah ruah di negeri ini, maka rakyat tentu akan sejahtera. Dengan itulah, kemiskinan akan dapat dituntaskan dan kasus-kasus penularan penyakit pun akan dapat diatasi dengan efektif.
 
Karena di sisi lain, negara dalam perspektif Islam juga akan memberikan akses pelayanan kesehatan kepada seluruh rakyatnya tanpa memandang status sosialnya. Negara tidak akan mengambil untung dari berbagai pelayanan public. Dengan begitulah rakyat akan terjamin kesehatannya. Inilah potret jika negara menjalankan fungsinya secara benar. Wallahu’alam bis shawab. (rf/voa-islam.com)
 
Ilustrasi: Google

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Innalillahi..!! Ustadzah Pesantren Tahfizh Kecelakaan, Kepala Gegar Otak Koma 5 Hari

Innalillahi..!! Ustadzah Pesantren Tahfizh Kecelakaan, Kepala Gegar Otak Koma 5 Hari

Ustadzah Salma Khoirunnisa, salah satu pengajar di Pesantren Tahfizul Quran Darul Arqom Sukoharjo mengalami kecelakaan. Kondisinya masih belum sadar, dan sempat koma selama 5 hari karena diperkirakan...

Tutup Tahun Dengan Bakti Sosial Kesehatan di Pelosok Negeri

Tutup Tahun Dengan Bakti Sosial Kesehatan di Pelosok Negeri

Diawali dengan berniat karena Allah, berperan aktif menebarkan amal sholeh dan turut serta membantu pemerintah memberikan kemudahan kepada umat mendapatkan pelayanan kesehatan, maka Ulurtangan...

Ayah Wafat, Ibu Cacat, Bayu Anak Yatim Ingin Terus Bersekolah

Ayah Wafat, Ibu Cacat, Bayu Anak Yatim Ingin Terus Bersekolah

Rafli Bayu Aryanto (11) anak yatim asal Weru, Sukoharjo ini membutuhkan biaya masuk sekolah tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama). Namun kondisi ibu Wiyati (44) yang cacat kaki tak mampu untuk...

Program Sedekah Barang Ulurtangan Sukses Menyebarkan Kasih dan Berkah Bagi Muallaf di Kampung Pupunjul

Program Sedekah Barang Ulurtangan Sukses Menyebarkan Kasih dan Berkah Bagi Muallaf di Kampung Pupunjul

Alhamdulillah, pada Sabtu, (18/11/2023), Yayasan Ulurtangan.com dengan penuh rasa syukur berhasil melaksanakan program Sedekah Barangku sebagai wujud nyata kepedulian terhadap sesama umat Islam....

Merengek Kesakitan, Bayi Arga Muhammad Tak Kuat Perutnya Terus Membesar. Yuk Bantu..!!

Merengek Kesakitan, Bayi Arga Muhammad Tak Kuat Perutnya Terus Membesar. Yuk Bantu..!!

Sungguh miris kondisi Arga Muhammad Akbar (2) anak kedua pasangan Misran dan Sudarti ini, sudah sebulan ini perutnya terus membesar bagai balon yang mau meletus. Keluarganya butuh biaya berobat...

Latest News

MUI

Sedekah Al Quran

Sedekah Air untuk Pondok Pesantren

Must Read!
X