Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
2.418 views

Mendiskusikan Skenario Makro Ekonomi Indonesia

 
Oleh:
 
Andi Rahmat
 
Pelaku Usaha, Mantan Wakil Ketua Komisi XI DPR RI
 
 
ADA yang unik dan terbilang langka dari paparan lengkap kebijakan yang diambil oleh pemerintah dalam menghadapi pandemi Covid-19, yang disampaikan Kementerian Keuangan dalam konferensi persnya per tanggal 1/04/2020. Garis besar kebijakan itu sendiri sebelumnya sudah  disampaikan langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara.
 
Yang unik dan langka itu adalah keterbukaan pemerintah dalam memaparkan resiko makro ekonomi yang mungkin akan kita alami. Dalam model persandingan skenario, pemerintah memaparkan 3 skenario berbeda. Yaitu, "Skenario Normal" yang sama dengan asumsi yang dianut di dalam APBN 2020, "Skenario Berat" dan "Skenario Sangat Berat."
 
Saya ingin mengapresiasi keterbukaan ini. Setidaknya keterbukaan itu membantu kita membaca alam pikiran pemerintah dalam menghadapi krisis ini. Sekaligus juga membuka jendela prediktif bagi pelaku ekonomi dan para ekonom dalam melihat arah perkembangan ekonomi Indonesia.
 
Skenario Normal tentu sudah tidak relevan lagi. Sisa Skenario Berat dan Sangat Berat. Pada dua skenario ini, kunci yang membedakan secara signifikan itu adalah ekonomi rumah tangga (household economy) dan ekonomi pemerintah. Dalam istilah komponen pembentuk PDB, kedua skenario itu bertumpu pada konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah. 
 
Tapi signifikansinya lebih berat ke arah konsumsi pemerintah. Murni Keynesian. Yang bermakna, inti dari pergeseran skenario ekonomi itu adalah pada kapasitas dan kapabilitas intervensi pemerintah. Dalam Skenario Normal, pemerintah fungsinya sebagai pendorong, alias Tut Wuri Handayani. Dalam skenario Berat dan Sangat Berat, pemerintah adalah lokomotif utama, alias Ing Ngarso Sung Tulodo.
 
Lantas di mana fungsi sektor swasta? Skenario ini menunjukkan ketidakberdayaan sektor swasta dalam menghadapi situasi krisis ini. Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang mengindikasikan dinamika sektor swasta dalam dua skenario tersebut mengalami pemerosotan tajam. Dari 6,0% dalam situasi Normal, merosot jatuh hingga 1,12% dalam situasi Berat dan -4,22% dalam situasi Sangat Berat. Centang perenang. Terpapar signifikan sebagai korban utama dalam krisis ini; secara ekonomi.
 
Demikian juga dengan ekonomi rumah tangga. Dalam dua skenario tersebut, kurvanya memang tidak securam PMTB, tetapi penurunannya pun juga sangat drastis. Dari 5,0% kontribusi terhadap PDB menjadi masing-masing 3,22% dan 1,60%. Keadaan ini bukan lagi menggambarkan keadaan kontraksi. Tapi keadaan ekonomi yang mengalami krisis. 
 
Di dalam skenario ekonomi makro, 'kekacauan' itu tercermin pada proyeksi pertumbuhan PDB yang bergerak pada 2,3% pada Skenario Berat dan -0,4% pada Skenario Sangat Berat. Perekonomian nasional akan kehilangan lebih dari separuh kapasitas normalnya, atau malah kehilangan keseluruhan kapasitasnya. Demikian juga pada pergerakan nilai tukar yang cepat dan drastis. 
 
Setting kesadaran skenik pemerintah ini, sangat signifikan dalam menakar kapasitas dan kapabilitas pemerintah dalam membuat dan menjalankan kebijakannya. 
 
Pada Skenario Berat, terdapat keyakinan bahwa sumber kapasitas pemerintah masih bisa diandalkan. Pada Skenario Normal, konsumsi pemerintah dipatok di angka 4,3%. Pada Skenario Berat, angka itu bergerak ke atas, 6,83%. Ada upaya yang 'extraordinary' dari pemerintah dalam bentuk tambahan 2,5% konsumsinya. Atau dengan kata lain, untuk tahun 2020 ini saja, pemerintah harus mengupayakan produktifitas kapasitasnya tidak kurang dari 130% kapasitas normalnya. 
 
Mungkinkah itu? Kuncinya ada pada efisiensi dan pembiayaan. Konsistensi dalam menerapkan prinsip efisiensi sepanjang proses ini tidak bisa ditawar-tawar. Ekspansi fiskal diarahkan pada program yang betul-betul bisa menahan laju pemerosotan ekonomi dan sekaligus juga memberi ruang bagi pemulihan ekonomi.
 
Demikian pula dengan pembiayaan. Sampai di sini, saya sendiri was-was pada isu 'keberadaan' sumber. Pasar hutang dunia sungguh akan sesak. Saat ini saja, sudah ada tidak kurang dari US$ 7 Trilliun yang masuk ke dalam pasar dari berbagai upaya counter measure banyak negara dalam menghadapi krisis ini.  
 
Yang potensial dan relatif murah itu adalah kapasitas Bank Indonesia. Tanpa mengabaikan potensi lain didalam negeri. BI adalah game changer dalam urusan ini. Senjata kewenangan yang diberikan oleh Perppu yang baru saja dikeluarkan oleh pemerintah memberi ruang “Open Ended Policy” bagi BI. 
 
Catatannya ialah BI mesti kalkulatif sekaligus juga 'ikhlas' dalam menggunakan cadangan devisanya. Asal tidak mengulangi kekeliruan di era BLBI. IMF memang memiliki standar dalam menilai kekuatan ekonomi suatu negara dari segi cadangan devisanya. Cadangan yang ada sekarang, setahu saya masih 20% di atas batas yang dianggap aman oleh IMF. Tetapi batasan ini tidak relevan dalam soal ini. Kita sesungguhnya sudah di tubir krisis ekonomi. 
 
Sampailah kita pada Skenario Sangat Berat. Menjadi sangat berat karena pemerintah juga tergerus kapasitasnya. Pemerintah hanya sanggup menyediakan 3,73% konsumsinya. Hanya 87% dari kapasitas normalnya. Demikian juga nilai tukar yang menyentuh Rp 20.000/ USD.
 
Kapan itu terjadi? Jika krisis pandemi Covid-19 berlarut-larut tanpa kepastian hingga bulan september,(catatan: NHS/ Kementerian Kesehatan Inggris mendeklarasikan kemungkinan seperti ini), dan pemerintah kewalahan dalam menyediakan sumber pembiayaan. 
 
Mengembalikan kehidupan menjadi normal dengan dampak Covid-19 yang sudah bisa terkontrol, dan menjaga sisi pembiayaan negara (karena otoritas fiskal, moneter dan jasa keuangan  semua di dalamnya) adalah tameng yang membatasi perpindahan skenario-skenario itu. 
 
Pada tahap awal, kebijakan Rp 405,1 Triliun dan Perppu yang melandasi serangkaian langkah yang diambil dan akan diambil pemerintah merupakan "bantalan" yang melegakan. Paket ini cukup memberikan ruang bernafas bagi perekonomian rakyat dan UMKM. Sektor riil, khususnya UMKM memang harus menjadi "champion" dalam paket-paket kebijakan ekonomi yang diluncurkan maupun yang akan diluncurkan.
 
Paket ini dianggap bisa membuat perekonomian bisa mendarat darurat (crash landing) tapi selamat. Konsumsi rumah tangga dijaga hingga pada batas minimal. Model transfer payment seperti ini memang jadi tren global. Tujuannya mempertahankan momentum konsumsi rumah tangga. Sebagai suatu langkah kebijakan darurat, efeknya tentu terbatas pada penyediaan "bantalan"  perekonomian. 
 
Kita masih menanti paket lanjutan pemerintah. Tentunya pada pembahasan RAPBN 2021 pada bulan Agustus nanti. Yang tahapnya akan dimulai pada pembicaraan pendahuluan di bulan Mei atau Juni. 
 
Akhirnya, kepada Allah SWT jugalah kita berserah diri dan memohon pertolongan. Semoga Allah SWT membimbing kita semua keluar dari krisis ini. Amin. Wallahu‘alam.*

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Korban Tabrak Lari,  Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Korban Tabrak Lari, Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Saat hendak membantu orang tertimpa musibah, Ummu Qisthi jadi korban tabrak lari mobil pickup. Empat bulan pasca operasi tulang remuk, kondisinya memburuk dan lukanya mengeluarkan nanah...

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Sudah 4 tahun Pesantren Tahfiz Al-Qur’an ini mendidik para yatim dan kaum dhuafa tanpa memungut biaya. Mereka butuh masjid, anggaran dana 160 juta rupiah. Sisihkan harta, dapatkan istana di...

Mantan Napi Mujahidin Ingin Taubat dan Hijrah, Ayo Bantu Modal Usaha.!!

Mantan Napi Mujahidin Ingin Taubat dan Hijrah, Ayo Bantu Modal Usaha.!!

Bebas dari penjara ia taubat dan hijrah, tapi kesulitan pekerjaan. Saat ekonomi terjepit, datang tawaran bisnis haram dari sesama mantan napi. Ia butuh dana 7,5 juta rupiah untuk modal usaha...

Balita Ridho Ramdhani Mati-matian Berjuang Melawan Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Balita Ridho Ramdhani Mati-matian Berjuang Melawan Tumor Ganas. Ayo Bantu.!!

Di usia balita ia harus berjuang mati-matian melawan tumor ganas yang bersarang di bokongnya. Setiap saat merintih tangis di pangkuan ayah bundanya. Ia harus dioperasi tapi terbentur biaya....

Tak Punya Biaya, Remaja Sebatang Kara Terancam Putus Sekolah. Ayo Bantu.!!

Tak Punya Biaya, Remaja Sebatang Kara Terancam Putus Sekolah. Ayo Bantu.!!

Sejak balita Astrid Nuraini sudah hidup sebatang kara tanpa ayah, ibu dan saudara. Diasuh ibu angkat yang sudah lanjut usia, ia tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMA Islam karena terbentur biaya....

Latest News
Persis Kutuk Keras dan Menuntut Usut Tuntas Kasus Penusukan Syekh Ali Jaber

Persis Kutuk Keras dan Menuntut Usut Tuntas Kasus Penusukan Syekh Ali Jaber

Jum'at, 18 Sep 2020 22:15

Ekspor Minyak Saudi Turun 62 Persen Pada Kuartal Kedua 2020

Ekspor Minyak Saudi Turun 62 Persen Pada Kuartal Kedua 2020

Jum'at, 18 Sep 2020 22:00

Gedung Putih Sebut 5 Negara Lagi Secara Serius Pertimbangkan Normalisasi Hubungan Dengan Israel

Gedung Putih Sebut 5 Negara Lagi Secara Serius Pertimbangkan Normalisasi Hubungan Dengan Israel

Jum'at, 18 Sep 2020 21:45

Fraksi PKS Sosialisasikan RUU Perlindungan Tokoh Agama ke Sejumlah Ormas Islam

Fraksi PKS Sosialisasikan RUU Perlindungan Tokoh Agama ke Sejumlah Ormas Islam

Jum'at, 18 Sep 2020 20:13

Bullying, Duri dalam Pendidikan Indonesia

Bullying, Duri dalam Pendidikan Indonesia

Jum'at, 18 Sep 2020 19:52

Israel Akan Bujuk UEA Untuk Promosikan Pembangunan Jalur Pipa Antara Saudi dan Israel

Israel Akan Bujuk UEA Untuk Promosikan Pembangunan Jalur Pipa Antara Saudi dan Israel

Jum'at, 18 Sep 2020 19:46

Pengungsi Suriah di Turki Kembangkan Game Seluler Yang Telah Diunduh 45 Juta Pengguna

Pengungsi Suriah di Turki Kembangkan Game Seluler Yang Telah Diunduh 45 Juta Pengguna

Jum'at, 18 Sep 2020 18:59

PM Pakistan Imran Khan: Normalisasi Hubungan Dengan Israel 'Tidak Ada Gunanya'

PM Pakistan Imran Khan: Normalisasi Hubungan Dengan Israel 'Tidak Ada Gunanya'

Jum'at, 18 Sep 2020 17:50

Kekacauan Negara di Era Jokowi

Kekacauan Negara di Era Jokowi

Jum'at, 18 Sep 2020 14:13

Penanganan Kasus Penusukan Syekh Ali Jaber Dipertaruhkan di Mata Dunia

Penanganan Kasus Penusukan Syekh Ali Jaber Dipertaruhkan di Mata Dunia

Jum'at, 18 Sep 2020 13:20

Operasi Intelijen 'Orang Gila'

Operasi Intelijen 'Orang Gila'

Jum'at, 18 Sep 2020 09:03

Pakaian Taqwa adalah sebaik-baiknya Bekal Kehidupan

Pakaian Taqwa adalah sebaik-baiknya Bekal Kehidupan

Jum'at, 18 Sep 2020 08:58

Korban Tabrak Lari,  Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Korban Tabrak Lari, Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Jum'at, 18 Sep 2020 08:37

Mereka Ingin Sekali Anies Baswedan Jatuh Lewat Kekacauan Covid-19

Mereka Ingin Sekali Anies Baswedan Jatuh Lewat Kekacauan Covid-19

Jum'at, 18 Sep 2020 06:41

Menelisik Kata Tusuk yang Dapat Berbeda Narasi

Menelisik Kata Tusuk yang Dapat Berbeda Narasi

Jum'at, 18 Sep 2020 06:01

Pengunduh Terbanyak Aplikasi TikTok Berasal dari Indonesia

Pengunduh Terbanyak Aplikasi TikTok Berasal dari Indonesia

Kamis, 17 Sep 2020 23:30

Mendakwahkan Islam Haruskah Menghapus Kebudayaan?

Mendakwahkan Islam Haruskah Menghapus Kebudayaan?

Kamis, 17 Sep 2020 23:20

Balada Negeri Pura-Pura Tapi Nyata

Balada Negeri Pura-Pura Tapi Nyata

Kamis, 17 Sep 2020 23:15

Turki Tolak Permintaan Rusia Untuk Mundur Dari Pos-pos Pengamatan di Idlib Suriah

Turki Tolak Permintaan Rusia Untuk Mundur Dari Pos-pos Pengamatan di Idlib Suriah

Kamis, 17 Sep 2020 21:45

Taliban Serang 3 Pos Polisi Afghanistan di Nangarhar

Taliban Serang 3 Pos Polisi Afghanistan di Nangarhar

Kamis, 17 Sep 2020 21:30


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X