Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
1.618 views

Saat Presiden Marah Soal Impor Cangkul, Ada Apakah?

 

Oleh: Tri Silvia 

 

"Apakah tidak bisa didesain industri UKM kita? Kamu buat pacul. Tahun depan saya beli ini puluhan ribu, ratusan ribu cangkul yang dibutuhkan masih impor. Apakah negara kita yang sebesar ini industrinya yang sudah berkembang benar, pacul cangkul (saja) harus impor?" tegas Jokowi dengan nada tinggi. Itulah sepenggal pernyataan bapak Presiden saat membuka Rapat Koordinasi Nasional Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Tahun 2019 di Gedung Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta. (m.kumparan.com, 6/11).

Dengan kebutuhan pasar yang relatif besar, seharusnya urusan cangkul bisa diprioritaskan untuk dipenuhi sendiri dengan bantuan UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang telah ada. Bapak Jokowi menjelaskan bahwa impor memiliki banyak efek negatif disamping kepraktisan dan harga yang murah. Salah satu efek negatif tersebut adalah meningkatnya defisit neraca perdagangan, yang katanya telah mencapai USD 160 juta pada September 2019 lalu. Oleh karena itu, Presiden berpesan agar produk-produk dalam negeri harus terus digenjot, guna mengurangi impor, yang kemudian akan menekan defisit neraca perdagangan dan membuka lapangan pekerjaan baru.

Apa yang disampaikan oleh bapak Presiden di atas adalah hal yang benar dan harus dilakukan. Tapi, tidak hanya pada produk cangkul itu saja seharusnya. Banyak produk-produk lain yang Indonesia ternyata masih harus impor dari negara luar. Tak jauh-jauh ke urusan teknologi atau penerapannya, lihat saja pada isi dapur. Ternyata banyak juga barang di sana yang masih saja impor. Daging, garam bahkan beras pun masih impor. Kenapa? Apakah Indonesia kekurangan lahan pertanian untuk menanam beras? Ataukah Indonesia kekurangan supply pantai untuk menghasilkan garam yang berkualitas? Atau apakah para petani ternak masih kurang jumlahnya untuk menghasilkan daging untuk konsumsi rakyat?

Jika kita tilik dari data yang diberikan, ternyata impor cangkul ini tak main-main jumlahnya, berdasarkan data yang dilansir detikcom (8/11) dari BPS (Badan Pusat Statistik) bahwa impor cangkul sepanjang Januari-September 2019 adalah senilai US$ 101,69 ribu dengan total berat 268,2 ton. Jumlah yang sangat banyak, karena begitu banyaknya sampai-sampai ada yang mengkonversikan cangkul-cangkul tersebut jika dijajarkan ternyata bisa menutupi 1,5 kali luas lapangan GBK (Gelora Bung Karno) sebagaimana dilansir oleh cnbcndonesia.com (11/11).

Wajarlah jika Presiden merasa kesal dengan impor komoditas tersebut. Tapi ternyata impor barang-barang yang lain pun tidak kalah jumlahnya dengan impor cangkul. Semisal garam, Kementerian Perdagangan mencatat realisasi impor garam sampai dengan akhir Oktober 2019 mencapai 2,2 juta ton. Angka realisasi ini lebih rendah dari total yang ditargetkan sepanjang tahun 2019, yakni sebesar 2,7 juta ton (tempo.co, 5/11).

Adapun impor beras pada akhir tahun 2018 adalah sejumlah 2,14 juta ton (cnbcndonesia.com, 31/1/2019). Jumlah impor komoditas-komoditas ini ternyata berada jauh di atas jumlah impor cangkul yang sedang dipermasalahkan. Lalu, kenapa hanya impor cangkul saja yang diungkap dan dipermasalahkan ke khalayak umum? Kenapa semua produk yang selama ini menjadi komoditas impor yang sebenarnya masih bisa diusahakan untuk diproduksi secara mandiri tidak diangkat ke permukaan?

Terkait masalah impor (jual beli), Islam telah memiliki aturan, yang aturan tersebut telah diaplikasikan oleh Kekhilafahan setelah masa Rasulullah saw dan para sahabat. Jual beli hakikatnya adalah boleh sebagaimana yang disampaikan dalam Alqur'an yang artinya, "... Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..." (QS. Al-Baqarah : 275)

Hukum jual beli sendiri adalah mubah atau boleh. Namun ketika telah berhubungan dengan luar negeri, maka Islam memiliki aturan yang lebih detail tentangnya. Sebab permasalahannya bukan hanya perihal jenis komoditas yang diperjualbelikan, melainkan juga terkait dengan pemilik komoditas ataupun negara asal jual beli ini. Negara kafir mu'ahid dalam hal ini boleh mengekspor barang dagangannya ke dalam Daulah Islam sesuai dengan klausul perjanjian yang telah dibuat sebelumnya. Hal ini berbeda dengan negara kafir yang memiliki niat untuk memerangi kaum muslimin. Selain itu, masalah ekspor-impor juga mencakup berbagai masalah lain yang berhubungan dengan ketersediaan komoditas dalam negeri serta kemampuan Daulah dalam mengolah sumber daya alam yang ada guna mencukupi komoditas yang diperlukan.

Berbagai permasalahan ekspor-impor yang harus diperhatikan di atas merupakan sebuah usaha proteksi yang dilakukan Khalifah untuk melindungi rakyatnya. Bukan hanya untuk melindungi stabilitas ekonomi, namun juga untuk mewujudkan stabilitas politik dan tugas mengemban risalah Islam ke seluruh dunia. Islam akan mewujudkan swasembada pada berbagai komoditas yang memang bisa diproduksi secara mandiri.

Pembatasan impor pada komoditas yang memang benar-benar mendesak untuk diadakan yang bahannya tidak tersedia di dalam negeri. Pengenaan tarif yang setara dengan besaran cukai yang diterapkan negara luar pada Daulah. Dan yang terakhir adalah penerapan sistem mata uang berbasis emas dan perak. Dengan penerapan mata uang berbasis emas dan perak maka kurs valuta akan bersifat tetap, dengan nilai inflasi nol maka defisit neraca perdagangan pun dapat dihindari. Dengan langkah-langkah tersebut di atas, maka semua masalah yang dikhawatirkan akan dapat diselesaikan dengan mudah.

Itulah Islam, aturannya mampu menyelesaikan masalah langsung ke akar-akarnya. Alhasil pemecahan masalah pun tidak bersifat sementara dan parsial, juga tidak akan berbuah masalah yang berpotensi menimbulkan masalah lain yang lebih rumit dari masalah awalnya. Pemerintah hakikatnya harus bersikap tegas dalam menghadapi persoalan impor ini. Tidak hanya komoditas cangkul saja yang dikedepankan, melainkan juga komoditas-komoditas lainnya. Terutama yang berhubungan erat dengan kebutuhan pokok masyarakat. Swasembada harusnya sudah bisa tercapai melihat sumber daya alam negeri yang melimpah ruah. Namun sayang, itu hampir mustahil diwujudkan di alam Kapitalis semacam ini, saat semuanya diukur dengan uang dan pengaturan bisnis. Wallahu A'lam bis Shawab. (rf/voa-islam.com)

*Penulis adalah Pengamat Ekonomi Keumatan.

Ilustrasi: Google

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Masya Allah... Mushalla Al-Hidayah Mojosari Lapuk Terancam Ambruk. Ayo Bantu..!!

Mushalla berumur 80 tahun ini didirikan Kyai Asmuri pada zaman penjajahan Belanda sebagai markas ibadah dan perjuangan pemuda kampung Mojosari Sragen. Kini kondisinya lapuk, reyot, dan keropos...

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Hijrah Memeluk Islam, Muallaf Calon Dokter Diterpa Banyak Ujian. Ayo Bantu Biaya Kuliah.!!

Sejak hijrah dari Kristen, Maria terbuang dari keluarga besar dengan berbagai tuduhan dan fitnah keji. Tanpa dukungan keluarga, mahasiswi kedokteran Universitas Brawijaya ini butuh biaya kuliah...

Hidup Sebatang Kara, Rumah Nenek Halimah Ludes Kebakaran. Ayo Bantu..!!

Hidup Sebatang Kara, Rumah Nenek Halimah Ludes Kebakaran. Ayo Bantu..!!

Di usia uzurnya Nenek Halimah makin rajin beribadah dan banyak ujian iman. Rumah gubuknya ludes terbakar. Dibutuhkan dana Rp 13 juta, untuk membangun rumah sederhana agar bisa istirahat dan khusyuk...

Keluarga ini Terancam Pemurtadan dan Rentenir, Ayo Bantu Modal Usaha..!!

Keluarga ini Terancam Pemurtadan dan Rentenir, Ayo Bantu Modal Usaha..!!

Berbagai ikhtiar dilakukan pasangan Eddy Saputra dan istrinya untuk mengatasi beratnya himpitan ekonomi, tapi selalu menemui jalan buntu. Bantuan justru datang dari orang yang membahayakan akidah:...

Perut Membesar Sakit Usus dan Sulit BAB, Ulwan Ghazi Harus Dioperasi. Ayo Bantu.!!

Perut Membesar Sakit Usus dan Sulit BAB, Ulwan Ghazi Harus Dioperasi. Ayo Bantu.!!

Terlahir dengan kelainan usus, Ulwan harus menghabiskan masa kanak-kanak dengan rintih tangis hingga 4 tahun. Butuh biaya operasi, sang ibu hanya penjual kerupuk....

Latest News
Jepang Lebih Islami daripada Muslim Sendiri, Benarkah?

Jepang Lebih Islami daripada Muslim Sendiri, Benarkah?

Sabtu, 18 Jan 2020 23:34

Saat Suami Lemah Urusan Nafkah, Haruskah Istri Bersabar?

Saat Suami Lemah Urusan Nafkah, Haruskah Istri Bersabar?

Sabtu, 18 Jan 2020 23:04

Sri Lanka Cabut Larangan Penggunaan Drone yang Diberlakukan Setelah Serangan Bom Paskah

Sri Lanka Cabut Larangan Penggunaan Drone yang Diberlakukan Setelah Serangan Bom Paskah

Sabtu, 18 Jan 2020 20:30

Trump Peringatkan Pemimpin Tertinggi Syi'ah Iran Ali Kamenei untuk 'Hati-hati' Berbicara

Trump Peringatkan Pemimpin Tertinggi Syi'ah Iran Ali Kamenei untuk 'Hati-hati' Berbicara

Sabtu, 18 Jan 2020 19:43

Angkat Tema Pendidikan, FGD Pra KUII ke-7 Soroti Dikotomi Ilmu Agama dan Non-Agama

Angkat Tema Pendidikan, FGD Pra KUII ke-7 Soroti Dikotomi Ilmu Agama dan Non-Agama

Sabtu, 18 Jan 2020 19:11

Predator Seksual Buah Akidah Sekuler-Liberal

Predator Seksual Buah Akidah Sekuler-Liberal

Sabtu, 18 Jan 2020 18:57

Erdogan: Eropa Akan Hadapi Ancaman Teror Jika Pemerintah Tripoli Jatuh

Erdogan: Eropa Akan Hadapi Ancaman Teror Jika Pemerintah Tripoli Jatuh

Sabtu, 18 Jan 2020 18:53

Pluralitas dan Pluralisme Menurut Islam

Pluralitas dan Pluralisme Menurut Islam

Sabtu, 18 Jan 2020 18:49

Liberalisasi Pariwisata

Liberalisasi Pariwisata

Sabtu, 18 Jan 2020 18:35

Wakil Ketua DSN MUI Pusat kunjungi DQA

Wakil Ketua DSN MUI Pusat kunjungi DQA

Sabtu, 18 Jan 2020 18:32

Menyikapi Potensi Spritual Manusia

Menyikapi Potensi Spritual Manusia

Sabtu, 18 Jan 2020 18:23

Manfaat Menghindari Riba

Manfaat Menghindari Riba

Sabtu, 18 Jan 2020 18:19

Toxic Friendship, Persahabatan Berkedok Hijrah

Toxic Friendship, Persahabatan Berkedok Hijrah

Sabtu, 18 Jan 2020 18:10

Taliban Berencana Akan Tandatangani Kesepakatan Damai dengan AS Akhir Januari

Taliban Berencana Akan Tandatangani Kesepakatan Damai dengan AS Akhir Januari

Sabtu, 18 Jan 2020 18:08

WIZ Bantu Perbaikan Mesin Pompa Air Bagi Korban Banjir Bekasi

WIZ Bantu Perbaikan Mesin Pompa Air Bagi Korban Banjir Bekasi

Sabtu, 18 Jan 2020 18:00

Warga Curug Mekar Minta Pemkot Bogor Segera Relokasi GKI Yasmin

Warga Curug Mekar Minta Pemkot Bogor Segera Relokasi GKI Yasmin

Sabtu, 18 Jan 2020 08:02

PKS: Kebijakan Menaikan Harga Gas 3 Kg Berpotensi Melanggar Undang-Undang

PKS: Kebijakan Menaikan Harga Gas 3 Kg Berpotensi Melanggar Undang-Undang

Sabtu, 18 Jan 2020 07:18

Kasus GKI Yasmin Bukan Intoleransi, Tapi Pelanggaran Hukum

Kasus GKI Yasmin Bukan Intoleransi, Tapi Pelanggaran Hukum

Sabtu, 18 Jan 2020 06:57

Pesantren eLKISI Mojokerto Sinergi Program Bantu Korban Banjir Bekasi

Pesantren eLKISI Mojokerto Sinergi Program Bantu Korban Banjir Bekasi

Sabtu, 18 Jan 2020 06:47

Innalillahi, Syaikh Yusuf Deedat Akhirnya Meninggal Akibat Luka Tembak di Kepala

Innalillahi, Syaikh Yusuf Deedat Akhirnya Meninggal Akibat Luka Tembak di Kepala

Sabtu, 18 Jan 2020 05:56


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X

Kamis, 16/01/2020 23:27

Mampukah Jokowi Menjinakkan Banteng?