Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
2.775 views

Rektor Baru ITB, Isu Radikalisme dan Matinya Otonomi Kampus

 

Oleh:

Dr. Syahganda Nainggolan*

 

BERBAGAI media menuliskan kampus tertua di Indonesia, Technische Hogeschool Bandoeng, alias ITB, yang tahun depan akan berumur seabad, luar biasa karena akhirnya mempunyai rektor perempuan pertama. Apakah "the presence is an essence?" Apakah keluarga besar ITB, termasuk alumninya bahagia?

Pemilihan Rektor ITB kali ini adalah pemilihan pertama di mana faktor akademik atau sudut pandang akademik tidak menjadi acuan utama. Hal ini puluhan tahun dilawan ITB ketika rezim Suharto di masa lalu ingin memaksakan semua kampus di Indonesia rektornya ditunjuk Suharto. Agar kampus-kampus dapat digunakan untuk kepentingan penguasa. Namun, Rektor-rektor ITB dan Senat Guru Besar kala itu berhasil berargumentasi dengan Suharto agar kebebasan kampus diberikan pada ITB. Dan memang ITB adalah satu satunya kampus yang di masa itu mempunyai otonomi kampus.

Apa itu sudut pandang akademik? Sudut pandang akademik adalah cara memandang dengan pendekatan kebebasan ilmiah. Kebebasan ilmiah adalah menyerahkan kebenaran pada objektivitas ilmiah. Objektivitas ilmiah adalah berpikir dan bertindak berdasarkan kaidah-kaidah ilmu pengetahuan, yang kekuatan logik dan observasi-terverifikasi jadi acuan mutlak.

Sudut pandang akademik dan kebebasan ilmiah telah menjadi acuan seabad civitas akademika ITB mengemban tugas untuk membesarkan ITB menjadi kampus teknologi utama dan pertama di Indonesia, dan beberapa jurusannya menjadi salah satu bidang yang masuk kelas dunia, seperti jurusan Informatika.

Kebanggaan atas kebebasan ilmiah di ITB selama ini mampu mensubordinasikan berbagai fenomena dan gejala berpikir dogmatisme dan dianggap non "mainstream". Berpikir dogmatism meski berkembang di kalangan mahasiswa maupun dosen ITB, namun ketika kembali dalam ranah kampus/universitas, semua mereka sepakat pada "mainstreaming" objektivitas ilmiah.

Pemilihan Rektor ITB kali ini, suasana kebebasan ilmiah bergeser kacau-balau ketika ada indikasi beberapa unsur yang berpengaruh dalam pemilihan rektor, memainkan isu politik kotor untuk pemilihan rektor, yakni radikalisme. Kelompok-kelompok ini sejak setahun lalu sudah mengembar-gemborkan ITB sebagai sarang radikalisme.

Untuk itu, digaung-gaungkan pemilihan Rektor ITB harus melibatkan badan intelijen negara (BIN) dan badan nasional penanggulangan terorisme (BNPT). Islamophobia didorong untuk menjadi isu sentral ketimbang isu kebebasan ilmiah dan kancah prestasi ITB dalam riset dan kemajuan industri.

Resonansi yang diharapkan kelompok-kelompok ini adalah agar kekuasaan rezim Jokowi, yang mempunyai veto 35% suara pada pemilihan rektor, digunakan untuk memenangkan calon rektor yang sejalan dengan "kode" antiradikalisme tersebut.

Untuk menjaga ITB sebagai institusi ilmiah, sejak dahulu, keabsahan berpikir ilmiah itu digariskan oleh senat guru besar ITB. Senat guru besar ITB masa itu adalah kebanggan dan keagungan sebuah perguruan tinggi. Saat ini, fungsi senat guru besar itu digantikan senat akademik, sebanyak 59 orang, yang mana senat guru besar tetap menjadi bagian didalamnya.

Dalam pemilihan Rektor ITB, senat akademik dipercaya untuk menentukan kelayakan calon rektor. Dari 100-an calon rektor ITB baru ini, senat akademik secara hati hati menyeleksi calon rektor. Pada tahap pertama, calon rektor diseleksi dari 100-an calon menjadi 30 calon. Lalu, dari 30 calon menjadi 10 calon. Lalu, dari 10 calon menjadi 6 calon dan lalu seleksi lagi, akhirnya ditetapkan menjadi 3 calon.

Proses seleksi dari institusi senat akademik atau dari orang-orang yang memiliki klaim sebagai masyarakat ilmiah, atau dari simbol logik dan kebenaran ilmu pengetahuan, keluarlah 3 nama, yakni Professor Kadarsyah Suryadi, Professor Jaka Sembiring dan Professor Reini Wirahadikusumah. Posisi voting ilmiah yang obyektif ini diberikan kepada Kadarsyah sebanyak 28, kepada Jaka Sembiring 10 dan Reini 10 suara. Sisanya terbagi pada calon terbawah.

Setelah 3 calon, pemilihan berikutnya diserahkan ke Majelis Wali Amanah (MWA), sebuah institusi yang tidak ilmiah lagi, di mana Mendikbud dan Gubernur, sebagai anggota, dan beberapa lainnya mewakili masyarakat, di luar anggota senat akademik.

 

Mengapa Otonomi Kampus ITB Dimatikan?

Ketika Kadarsyah dipilih senat akademik sebagai calon rektor terbaik, namun tidak dijadikan rektor oleh kekuatan MWA dan negara, maka kita mengetahui bahwa upaya anggota senat akademik (59 orang) itu, terbentur kekuasan Jokowi, yang melihat isu radikalisme lebih penting bagi penentuan rektor ITB.

Pada saat uji kelayakan publik akademik ITB, oleh MWA, di kampus ITB, Kadarsyah memperlihatkan keunggulan mutlak, dengan mengantongi voting 358 suara, Jaka Sembiring 150 suara dan Reini hanya di papan bawah, 81 suara. Meski suara ini bersifat setengah sakral, karena itu suara diluar senat akademik, namun pada saat Senat Akademik memilih calon menjadi 3 suara, Kadarsyah tetap yang tertinggi.

Pada pemilihan secara politik di kantor Menteri Pendidikan, (8/11/2019), Reini menang dalam pemilihan. Inilah sebuah ironi, di mana Kadarsyah dengan modal 48,28% kalah dari Reini yang bermodalkan 17,24% saja.

Apa penjelasan yang ingin diketahui terkait ini? Dari sisi akademik kita sudah selesai, Kadarsyah terbaik, sedangkan Jaka Sembiring dan Reini jauh di bawahnya. Jadi kemenangan Reini adalah kemenangan nonpendekatan akademik. Apakah karena dia wanita?

Di ITB isu gender bukanlah isu objektif. Objektivitas ilmiah tidak membatasi kebebasan perempuan seperti dalam ajaran dogmatis, misalnya. Lalu, apakah yang menarik untuk dipahami? Tentu saja isu radikalisme tadi.

Isu radikalisme kampus, dalam "hearing" 3 calon rektor itu, pada 2 November, ketika ditanyakan soal radikalisme, kandidat rektor Kadarsyah dan Jaka Sembiring mengangkat bendera merah, sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Sedangkan Reini bendera hijau. Bendera merah artinya mereka menganggap isu radikalisme tidak mainstream di ITB, sebaliknya bendera hijau menunjukkan, sedikitnya, ada. Nah kode merah versus hijau ini adalah kunci bagi pemerintah Jokowi untuk mengetahui siapa yang pro pada isu anti radikalisme di kampus dan siapa yang tidak.

 

Penutup

ITB adalah sebuah kampus yang sudah ada di Indonesia sebelum negara Indonesia ada. ITB juga yang mencetak Ir. Sukarno menjadi pemimpin radikal di Indonesia dan sekaligus negara-negara Asia-Afrika. Sehingga isu radikalisme di ITB sesungguhnya isu murahan. Isu murahan ini dicoba mainkan oleh kelompok-kelompok tertentu yang ingin mengaitkan kampus pada radikalisme.

Pada tataran masyarakat ilmiah, atau senat akademik, ITB masih waras, terbukti dengan menihilkan isu itu sebagai pertimbangan memilih calon rektor. Senat akademik lebih melihat visi kebangkitan kampus sebagai "entrepreneurial University", disamping sebagai tulang punggung riset dan teknologi.

Sayangnya, kampus ITB bukan lagi institusi otonom, yang bebas dari intervensi kekuasaan. Kampus saat ini harus tunduk pada keinginan rezim dalam menjalankan isu anti radikalisme. Situasi ini akan berdampak buruk buat ITB, setelah 100 tahun berdiri, di mana kebebasan ilmiah dan objektivitas terpinggirkan.

Tepuk tangan kita tentang kehadiran perempuan yang pertama kali sebagai Rektor ITB, dari uraian di atas, harus direnungkan kembali, apakah hanya sekadar "presence" (kehadiran),  bukan sebagai "essence" (esensi)?*

**Penulis adalah Alumni Teknik Geodesi & Geomatika ITB dan Magister Studi Pembangunan ITB

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Dede Bayi Calon Mujahidah Islam Lahir dengan Operasi Cessar. Ayo Bantu.!!

Ayo bantu dede bayi ini, kekurangan biaya persalinan cessar di Rumah Sakit Banjar sebesar 5 juta rupiah. Sang ayah adalah aktivis Islam, dikenal pendekar bela diri yang sedang terkendala ekonomi....

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Masuk Islam Satu Keluarga, Rudy Chow Liung Kehilangan Pekerjaan. Ayo Bantu Khitan dan Modal Usaha.!!

Hijrah memeluk Islam, Rudy Chow tinggalkan bisnis peralatan sembahyang Vihara. Ia jadi pengangguran dan ekonominya ambruk....

IDC Tunaikan Beasiswa Muallaf Maria di Universitas Brawijaya Malang

IDC Tunaikan Beasiswa Muallaf Maria di Universitas Brawijaya Malang

Alhamdulillah, kini Maria muallaf mahasiswi Universitas Brawijaya bisa bernafas lega. Yayasan IDC menyalurkan amanah dari para donatur, sebesar Rp 66.648.300 untuk membantu beasiswa pendidikan...

Wakaf Speaker Mushalla Gunung Sri Tasikmalaya, Dapatkan Pahala yang Terus Mengalir

Wakaf Speaker Mushalla Gunung Sri Tasikmalaya, Dapatkan Pahala yang Terus Mengalir

Sudah 13 tahun mushalla ini menjadi sentral dakwah di kampung Gunung Sri, Tasikmalaya. Namun mushalla ini belum memiliki alat pengeras suara. Diperlukan dana 5 juta rupiah. Ayo Bantu....

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Ayo Bantu Yatim Piatu Anna Puspita, Peluang Masuk Surga Bersama Nabi Sedekat Dua Jari

Sejak balita ia ditinggal wafat sang ayah, menyusul sang ibunda wafat dua tahun silam. Segala kesulitan, kesedihan dan keruwetan hidup, kini harus dipikul sendiri. ...

Latest News
Lockdown: Simalakama antara Penyakit dan Kelaparan

Lockdown: Simalakama antara Penyakit dan Kelaparan

Ahad, 29 Mar 2020 02:51

Ulama Syi'ah Irak Muqtada Al-Sadr Salahkan Pernikahan Sejenis Sebagai Penyebab Pandemi Corona

Ulama Syi'ah Irak Muqtada Al-Sadr Salahkan Pernikahan Sejenis Sebagai Penyebab Pandemi Corona

Sabtu, 28 Mar 2020 22:00

Turki Evakuasi 5.800 Pencari Suaka dari Perbatasan Yunani

Turki Evakuasi 5.800 Pencari Suaka dari Perbatasan Yunani

Sabtu, 28 Mar 2020 21:50

Corona dan Problematika Mudik

Corona dan Problematika Mudik

Sabtu, 28 Mar 2020 21:09

Fraksi PKS Tagih Janji Jokowi Tangguhkan Cicilan Rakyat Kecil

Fraksi PKS Tagih Janji Jokowi Tangguhkan Cicilan Rakyat Kecil

Sabtu, 28 Mar 2020 20:51

Pertempuran Kembali Berkobar di Libya Meski Ancaman Virus Mematikan Cina

Pertempuran Kembali Berkobar di Libya Meski Ancaman Virus Mematikan Cina

Sabtu, 28 Mar 2020 19:45

Turki Karantina Selusin Wilayah Dalam Rangka Memerangi Virus Corona

Turki Karantina Selusin Wilayah Dalam Rangka Memerangi Virus Corona

Sabtu, 28 Mar 2020 19:25

Pasukan Tempur Mulai Melawan Jokowi

Pasukan Tempur Mulai Melawan Jokowi

Sabtu, 28 Mar 2020 18:43

Ombudsman: Pejabat Negara yang Undang Liputan Media Saat Darurat Corona Maladministrasi

Ombudsman: Pejabat Negara yang Undang Liputan Media Saat Darurat Corona Maladministrasi

Sabtu, 28 Mar 2020 17:50

Update 28 Maret 2020 Infografik Covid-19: 1155 Positif, 59 Sembuh, 102 Meninggal

Update 28 Maret 2020 Infografik Covid-19: 1155 Positif, 59 Sembuh, 102 Meninggal

Sabtu, 28 Mar 2020 16:48

Kematian Corona di Indonesia Tertinggi di Dunia, Komisi XI: Awalnya Ada yang Jumawa dan Remehkan

Kematian Corona di Indonesia Tertinggi di Dunia, Komisi XI: Awalnya Ada yang Jumawa dan Remehkan

Sabtu, 28 Mar 2020 15:42

PKS Minta PLN Siaga Selama Darurat Corona

PKS Minta PLN Siaga Selama Darurat Corona

Sabtu, 28 Mar 2020 14:50

Lebih 375 Masjid dan Fasilitas Shalat di Inggris Ditutup Menyusul Penyebaran Wabah Virus Corona

Lebih 375 Masjid dan Fasilitas Shalat di Inggris Ditutup Menyusul Penyebaran Wabah Virus Corona

Sabtu, 28 Mar 2020 13:30

Presiden Lempar Handuk?

Presiden Lempar Handuk?

Sabtu, 28 Mar 2020 13:19

Kebijakan Ekonomi di Tengah Pandemi Covid-19

Kebijakan Ekonomi di Tengah Pandemi Covid-19

Sabtu, 28 Mar 2020 12:40

Tuhan itu Peduli dan Tidak Tidur

Tuhan itu Peduli dan Tidak Tidur

Sabtu, 28 Mar 2020 11:41

Pemerintah Buka Rekening Donasi untuk Corona, Legislator: Lucu, Jadi Terbalik-balik

Pemerintah Buka Rekening Donasi untuk Corona, Legislator: Lucu, Jadi Terbalik-balik

Sabtu, 28 Mar 2020 10:21

Fatwa Lengkap MUI Tentang Pengurusan Jenazah Muslim yang Terinfeksi Corona

Fatwa Lengkap MUI Tentang Pengurusan Jenazah Muslim yang Terinfeksi Corona

Sabtu, 28 Mar 2020 09:59

Corona Kembalikan Perempuan pada Fitrahnya sebagai Ibu

Corona Kembalikan Perempuan pada Fitrahnya sebagai Ibu

Sabtu, 28 Mar 2020 08:42

Ikuti Jejak Anies, Pengusaha Pemuda Muhammadiyah Banyumas Hibahkan Hotel untuk Tenaga Kesehatan

Ikuti Jejak Anies, Pengusaha Pemuda Muhammadiyah Banyumas Hibahkan Hotel untuk Tenaga Kesehatan

Sabtu, 28 Mar 2020 07:27


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X