Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
2.539 views

Suvei oh Survei: Antara Denny JA dan Litbang Kompas

 
Oleh:
Dr Syahganda Nainggolan, Lembaga Kajian Publik Sabang-Merauke Circle (SMC)
 
 
"Den, lu ngerti arti Margin of Error nggak"? demikian balasan japri saya ke Denny JA yang memposting saya tulisan dia berjudul "Apakah Survei Litbang Kompas Berpolitik?".
 
Tanggapan saya ke Denny terkait pernyataannya yang menyatakan Kompas kurang terbuka informasi  dalam metodologi dan salah penarikan kesimpulan.
 
Soal metodologi terkait 1) survei menggunakan simulasi kertas suara atau tidak? 2) tidak ada keterangan response rate, 3) tidak jelas soal kontrol kualitas. Khususnya men check jawaban responden. Terkait ini Denny mengajari Litbang Kompas, " Tanpa cek dan recheck secara cukup dan random, peneliti yang berpengalaman bisa saja hanya mendatangi responden sebagian. Sisa responden, ia isi sendiri di bawah pohon atau di bawah warung." Sebuah kecurigaan tendensius.
 
Soal salah menarik kesimpulan, 1) kompas salah menyatakan adanya trend Jokowi turun karena hanya menampilkan dua survei, harusnya lebih.  2) Salah Litbang Kompas dalam menarik kesimpulan dari turunnya elektabilitas Jokowi dari 52,6,% ke 49,2%. Dengan MoE 2,2% maka rentang margin adalah 4,4%. Turunnya Jokowi, kata Denny, masih dalam rentang MoE, yakni 3,4%. Itu bukan suatu penurunan.
3) Kesimpulan Kompas salah degan menyatakan Prabowo cukup dengan menambah elektabilitas 6% bisa jadi pemenang.
 
Selain soal metodologi dan kesimpulan yang kacau, Litbang Kompas juga menurut Denny terpengaruh kedekatan pemrednya Ninuk Pambudi dengan Prabowo. Selain itu Denny menuduh juga Kompas sedang "Repositioning". Meski menuduh, Denny mengatakan ini hanya bumbu saja.
 
Kritik Denny terhadap Kompas sebenarnya menarik. Namun, ketika dia menggunakan Margin of Error (MoE) untuk menganalisa tidak ada penurunan elektabilitas Jokowi, saya jadi ragu kemampuan Denny soal survei kuantitatif ini. Sebelumnya, juga saya suka melihat Denny rancu antara pengetahuan dia soal Quick Count vs. Survei Opini. Kalau ada pihak yang mempertanyakan kesalahan prediksi dia dalam survei di Jakarta (dukung AHY), yang gagal, lalu salah prediksi dengan selisih besar di Jabar dan Jateng, Denny malah membanggakan keberhasilan dia dalam Quick Count. Padahal survei opini itu bukan hal eksakt seperti quick count.
 
Penggunaan MoE jangan disalah artikan.  MoE itu adalah tingkat kesalahan yang terjadi dalam rentang tertentu pada tingkat keyakinan (confidential level) tertentu. Artinya lebih lanjut, misalnya, jika kita tentukan MoE 2,2% pada Confidential Level 95% artinya, dari 100 kali kita mensurvei maka kita meyakini 95 kalinya, benar hasil survei berada pada rentang: hasil (+/-) 2,2%.
 
Karena kita bukan men sensus maka "sampling error" sebuah  keniscayaan. Keniscayaan itu dibatasi dalam MoE. Dan MoE itu terlait dengan "confidential level". Bagaimana menentukan MoE, jumlah sample dan Confidential Level? Semua itu ada teori yang baku dan dapat diakses di internet, misalnya calculator sample di www. raosoft.com
 
Menggunakan rentang MoE seperti Denny jika dilakukan, maka range yang ada juga bukan 4,4%. Denny tidak mengalikan dengan Confidential Level. Seharusnya, 4,4%x 0,95 = 0,418.  Perubahan elektabilitas Jokowi sendiri 3,4 % ada pada dua survei. Bukan antara survei dengan faktual.
 
Jika pada survei yang berbeda, posisi angka elektabilitas Jokowi di survei sebelumnya dapat saja lebih besar jika di tambah MoE x Confidential Level. Sehingga sulit membandingkan dengan faktor MoE sebagaimana dilakukan Denny.
 
Kembali pada penggunaan MoE, seperti yang dilakukan Denny, tidak dilakukan pada evaluasi lembaga survei di Amerika.
 
Dalam evaluasi atas kegagalan prediksi pilpres Amerika, padahal selisih kemenangan hilary pada popular vote 1%, antara 3% vs. fakta 2%, Pew Research dalam  "An Evaluation of 2016 Election Polls in the U.S." tidak mengatakan bahwa angka 1% itu masih dalam rentang MoE. Melainkan mereka menyatakan ada selisih dan mencari sebab2 selisih itu.
 
Keraguan saya terhadap kemampuan Denny JA dalam metodologi survei kuantitatif, bukan berarti kritik Denny terhadap Kompas tidak perlu dilakukan. (catatan: Saya juga bingung kenapa Kompas memunculkan prediksi ekstrapolatif via Arithmatics Mean?. Kurang lazim jika Kompas sudah yakin tentang surveinya)
 
Namun, apakah kritik Denny terhadap Kompas seperti sebuah refleksi diri bagi Denny? Mengapa?
 
1) Kecurigaan Denny bahwa survei dapat diisi sendiri di bawah pohon oleh pensurvei, bagaimana membuktikannya? Apakah semua peneliti lembaga survei perlu diwajibkan menggunakan GPS untuk mengetahui kordinat mereka dan responden? 2) Apakah perlu membuktikan autentik keberlangsungan survei?
 
Jika Denny JA meragukan Litbang Kompas, bagaimana masyarakat mempercayai lembaga2 survei lainnya?
 
3) Berhakkah Denny menghakimi Litbang Kompas karena tidak menggunakan alat peraga dalam survei? Bagaimana kalau survei dengan mode tanpa tatap muka seperti di Amerika? (via phone, internet, dlsb)
 
4) Berhakkah Denny menghakimi Kompas yang terlihat Denny ke tengah atau repositioning? Sehingga Kompas sudah tidak netral?
 
Dari pertanyaan di atas terlihat bahwa persoalan survei, hasil survei dan lembaga2 survei ini menjadi sumber ketidakpastian bagi masyarakat dalam melihat situasi yang nyata. Sehingga, Komisi Pemilihan Umum (KPU) maupun kalangan akademis perlu ikut berembug bagaimana menselaraskan kehadiran lembaga2 survei ini bagi kepentingan demokrasi, bukan sekedar alat propagandis.
 
Penutup
 
Situasi ketidak pastian yang diciptakan lembaga survei selama ini tampak nyata. Semakin kacau karena "Bapak" lembaga survei Denny JA malah menyerang Litbang Kompas, sesama lembaga survei. Padahal Litbang Kompas selama ini mempunyai kredibilitas yang cukup disegani.
 
Semoga serangan Denny ke Kompas dapat menghasilkan sebuah kesepakatan baru bagaimana lembaga survei berperan di masyarakat.**

 

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Analysis lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Kisah Pilu Mbah Siti, Sang Ahli Ibadah Hidup di Bilik Reyot Bantaran Sungai. Ayo Bantu.!!

Kisah Pilu Mbah Siti, Sang Ahli Ibadah Hidup di Bilik Reyot Bantaran Sungai. Ayo Bantu.!!

Nenek renta ahli ibadah ini hidup seorang diri di bilik reyot Bengawan Solo. Bila hujan seisi rumah kebocoran air. Di malam hari, ia menggigil kedinginan diserang angin malam karena dindingnya...

Hidup Sebatang Kara, Muallaf  Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

Hidup Sebatang Kara, Muallaf Suliatin Diterpa Berbagai Ujian Hidup, Ayo Bantu.!!

Hijrah menjadi Muslimah, mantan Kristen Pantekosta ini ditimpa banyak ujian mulai dari keluarga hingga kerasnya pekerjaan. Hidup sebatang kara, ia bekerja keras sebagai buruh pembuat batu bata. ...

Kista Membahayakan Kehamilan, Teh Imas Ummu Zahra Harus Harus Dikiret. Ayo Bantu.!!

Kista Membahayakan Kehamilan, Teh Imas Ummu Zahra Harus Harus Dikiret. Ayo Bantu.!!

Teh Imas mengalami gangguan kehamilan karena mengidap kista. Janinnya tak berkembang, yang dalam medis disebut IUGR (intrauterine growth restriction). Ia harus dikiret karena membahayakan nyawa....

Korban Tabrak Lari,  Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Korban Tabrak Lari, Istri Aktivis Dakwah Tergolek Remuk Tulang, Ayo Bantu!!!

Saat hendak membantu orang tertimpa musibah, Ummu Qisthi jadi korban tabrak lari mobil pickup. Empat bulan pasca operasi tulang remuk, kondisinya memburuk dan lukanya mengeluarkan nanah...

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Pesantren Tahfizh Al-Qur'an Gunungsari Butuh Masjid. Ayo Bantu Amal Jariyah.!!!

Sudah 4 tahun Pesantren Tahfiz Al-Qur’an ini mendidik para yatim dan kaum dhuafa tanpa memungut biaya. Mereka butuh masjid, anggaran dana 160 juta rupiah. Sisihkan harta, dapatkan istana di...

Latest News
Sekolah Boleh Buka Januari 2021, Kepala Daerah Diminta Cermat

Sekolah Boleh Buka Januari 2021, Kepala Daerah Diminta Cermat

Rabu, 25 Nov 2020 06:10

Ikuti Langkah Saudi, Dewan Fatwa UEA Juga Cap Ikhwanul Muslimin Sebagai Organisasi Teroris

Ikuti Langkah Saudi, Dewan Fatwa UEA Juga Cap Ikhwanul Muslimin Sebagai Organisasi Teroris

Selasa, 24 Nov 2020 22:35

Menhan Benny Gantz: Israel Siap Untuk Lakukan Pembicaraan Dengan Hamas

Menhan Benny Gantz: Israel Siap Untuk Lakukan Pembicaraan Dengan Hamas

Selasa, 24 Nov 2020 22:08

Umat Islam di Perancis Makin Ditekan!

Umat Islam di Perancis Makin Ditekan!

Selasa, 24 Nov 2020 21:41

Izinkan Sekolah Tatap Muka, Netty: Pemerintah Pusat Jangan Lepas Tangan

Izinkan Sekolah Tatap Muka, Netty: Pemerintah Pusat Jangan Lepas Tangan

Selasa, 24 Nov 2020 21:20

Organisasi Islam Malaysia Kecam Keputusan Dewan Ulama Senior Saudi Yang Menyebut IM Kelompok Teroris

Organisasi Islam Malaysia Kecam Keputusan Dewan Ulama Senior Saudi Yang Menyebut IM Kelompok Teroris

Selasa, 24 Nov 2020 20:45

Irak Tangkap Kepala Administrasi Islamic State di Bandara Baghdad

Irak Tangkap Kepala Administrasi Islamic State di Bandara Baghdad

Selasa, 24 Nov 2020 20:25

Ambang Batas Rasa Sakit dan Power of Illusion

Ambang Batas Rasa Sakit dan Power of Illusion

Selasa, 24 Nov 2020 20:20

PKS Tolak Penghapusan Premium

PKS Tolak Penghapusan Premium

Selasa, 24 Nov 2020 18:39

Legislator Dukung Realisasi Rencana Pertemuan Wapres dengan Habib Rizieq

Legislator Dukung Realisasi Rencana Pertemuan Wapres dengan Habib Rizieq

Selasa, 24 Nov 2020 10:09

UMK 2021 Depok Tertinggi ke-4 di Jawa Barat

UMK 2021 Depok Tertinggi ke-4 di Jawa Barat

Selasa, 24 Nov 2020 09:03

MUI Berhasil Pertahankan ISO 9001:2015 untuk Ketiga Kalinya

MUI Berhasil Pertahankan ISO 9001:2015 untuk Ketiga Kalinya

Selasa, 24 Nov 2020 08:06

Tahun Depan, Imam Besar dan Imam Masjid Besar di Kabupaten Garut Dapat Insentif

Tahun Depan, Imam Besar dan Imam Masjid Besar di Kabupaten Garut Dapat Insentif

Senin, 23 Nov 2020 22:31

Munas X MUI Momentum Pergantian Kepemimpinan di Level Pusat

Munas X MUI Momentum Pergantian Kepemimpinan di Level Pusat

Senin, 23 Nov 2020 21:12

Hadiri Maulid Nabi, Anis Ajak Perkokoh Silaturrahim dan Sinergi

Hadiri Maulid Nabi, Anis Ajak Perkokoh Silaturrahim dan Sinergi

Senin, 23 Nov 2020 20:29

Penulis Arab Boikot Penghargaan Buku Bergengsi UEA Sebagai Protes Normalisasi dengan Israel

Penulis Arab Boikot Penghargaan Buku Bergengsi UEA Sebagai Protes Normalisasi dengan Israel

Senin, 23 Nov 2020 20:01

Plt Bupati Kudus: Muhammadiyah Konsisten Beri Solusi

Plt Bupati Kudus: Muhammadiyah Konsisten Beri Solusi

Senin, 23 Nov 2020 19:05

518 Peserta Ikuti MTQ Ke-52 Tingkat Kabupaten Bekasi

518 Peserta Ikuti MTQ Ke-52 Tingkat Kabupaten Bekasi

Senin, 23 Nov 2020 18:56

Andalkan Utang Luar Negeri, Mustahil Menjadi Negara Mandiri

Andalkan Utang Luar Negeri, Mustahil Menjadi Negara Mandiri

Senin, 23 Nov 2020 17:57

Peserta Luring Munas X MUI Jalani Tes Swab

Peserta Luring Munas X MUI Jalani Tes Swab

Senin, 23 Nov 2020 17:42


Hijab Syari Terbaru 2020

Must Read!
X