Selasa, 12 Safar 1448 H / 28 Juli 2026 19:00 wib
89 views
Tidak Menambah ''Ar-Rahman Ar-Rahim'' Saat Membaca Basmalah Ketika Makan?
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam atas Rasulillah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam- dan keluarganya.
Di tengah semangat kaum Muslimin untuk mengamalkan sunnah, terkadang muncul kebiasaan yang dianggap baik, namun perlu ditinjau kembali apakah benar-benar memiliki landasan dari Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Salah satu kaidah penting dalam menjaga kemurnian ajaran Islam adalah tidak menisbatkan kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam sesuatu yang tidak beliau ucapkan.
Sebuah hadits menyampaikan pesan yang sangat mendasar:
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا حَدَّثْتُكُمْ حَدِيثًا فَلَا تَزِيدُنَّ عَلَيَّ
"Apabila aku menyampaikan kepada kalian suatu hadits, maka janganlah kalian menambahkan sesuatu atas namaku." (HR. Ahmad dan al-Nasai. Syaikh Al-Albani menyebutkannya dalam As-Silsilah Ash-Shahihah, hadis no. 3461)
Hadits ini mengajarkan adab yang agung dalam meriwayatkan sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Ketika sebuah hadits sudah memiliki lafaz tertentu, maka seorang Muslim hendaknya menyampaikannya sebagaimana adanya, tanpa mengurangi ataupun menambah isi perkataan beliau.
Menjaga Keaslian Sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam
Islam adalah agama yang sangat menjaga keaslian sumber ajarannya. Oleh karena itu, para ulama sejak masa sahabat hingga sekarang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits. Bahkan perbedaan satu kata saja dapat menjadi bahan kajian panjang dalam ilmu hadits.
Pesan utama hadits di atas bukan sekadar tentang hafalan, melainkan tentang amanah ilmiah. Sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bukanlah kalimat biasa yang boleh diubah sesuai selera, melainkan wahyu yang menjadi pedoman umat.
Allah berfirman:
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا۟
"Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah." (QS. Al-Hasyr: 7)
Ayat ini mengajarkan bahwa seorang Muslim menerima ajaran Rasul sebagaimana datangnya, bukan sesuai dengan keinginan atau selera pribadinya.
Pendapat Imam Al-Albani tentang Basmalah Sebelum Makan
Berdasarkan hadits tersebut, Syaikh Al-Albani rahimahullah berpendapat:
لا يجوز زيادة "الرحمن الرحيم" في التسمية على الطعام لأنه زيادة على النص
"Tidak diperbolehkan menambahkan lafaz 'Ar-Rahmān Ar-Rahīm' pada basmalah ketika hendak makan, karena itu merupakan tambahan terhadap teks (lafaz) yang ada."
Menurut beliau, sunnah yang diriwayatkan dalam hadits-hadits tentang makan adalah mengucapkan:
بِسْمِ اللَّهِ
Bismillāh (Dengan -menyebut- nama Allah). Karena itu, beliau berpendapat bahwa menambahkan lafaz "Ar-Rahmān Ar-Rahīm" pada bacaan tersebut berarti menambah lafaz yang tidak disebutkan dalam riwayat khusus tentang adab makan.
Umar bin Abi Salamah radhiyallahu ‘anhu berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda kepadanya:
يَا غُلَامُ سَمِّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ
"Wahai anakku, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang berada di dekatmu." (HR. al-Bukhari no. 4957 dan Muslim no. 3767 dari Maktabah Syamilah)
Dan juga hadits Aisyah radliyallah 'anha, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ
"Apabila seorang kalian ingin makan, hendaknya dia membaca "bismillah". Dan jika ia lupa membaca di awalnya, hendaknya ia membaca "bismillah fii awwalihi wa aakhirihi." (HR. al Tirmidzi dan Ahmad. Dishahihkan oleh Syaikh al Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi no. 1513)
Memahami Bahwa Ini Adalah Ijtihad Ulama
Hadits di atas adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalla. Adapun pernyataan mengenai larangan menambahkan "Ar-Rahmān Ar-Rahīm" ketika makan merupakan kesimpulan atau ijtihad Syaikh Al-Albani berdasarkan pemahaman beliau terhadap dalil.
Dalam masalah ini terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama memandang bahwa membaca "Bismillāhir-Raḥmānir-Raḥīm" tetap termasuk basmalah dan tidak mengapa dilakukan, karena lafaz tersebut terdapat dalam Al-Qur'an dan merupakan bentuk basmalah yang sempurna. Sementara sebagian ulama lainnya lebih memilih membatasi diri pada lafaz yang secara khusus disebutkan dalam hadits tentang makan, yaitu "Bismillāh."
Perbedaan seperti ini termasuk dalam ranah ijtihad fikih yang telah lama dikenal dalam tradisi keilmuan Islam.
Pelajaran yang Dapat Diambil
Terlepas dari adanya perbedaan pendapat, ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita petik.
- Menjaga keaslian sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasalla adalah bagian dari amanah ilmiah.
- Membedakan antara teks hadits dan penjelasan ulama akan membantu kita memahami agama secara lebih objektif.
- Menghormati perbedaan ijtihad ulama merupakan bagian dari adab dalam menuntut ilmu.
- Mengamalkan sunnah sesuai dengan dalil yang diyakini adalah bentuk kecintaan kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalla.
Penutup
Semangat mengikuti sunnah hendaknya selalu dibarengi dengan ketelitian dalam memahami dalil. Jangan sampai kita mencampuradukkan antara sabda Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasalla dengan penjelasan para ulama, karena keduanya memiliki kedudukan yang berbeda.
Ulama adalah pewaris para nabi yang berjasa menjelaskan ajaran Islam kepada umat. Namun, pendapat mereka tetap merupakan hasil ijtihad yang dapat dikaji dan didiskusikan dengan adab dan ilmu. Adapun sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasalla tetap menjadi rujukan utama yang wajib dihormati dan dijaga sebagaimana beliau menyampaikannya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai sunnah, mengamalkannya dengan ilmu, serta menghormati para ulama tanpa berlebihan maupun meremehkan mereka. Aamiin. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!