Home | Redaksi | Advertisement | Kirim Naskah | Pedoman Pemberitaan Media Siber
Facebook RSS
101 views

Lima Kebiasaan ini Ternyata Merusak Hati

Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam.  Shalawat dan salam atas Rasulillah, keluarga dan para sahabatnya.

Hati merupakan pusat kehidupan seorang mukmin. Jika hati baik, baik pula perilaku dan amalnya. Namun, ada kebiasaan sehari-hari yang tanpa disadari dapat mengeruhkan hati, melemahkan iman, dan menjauhkan seseorang dari Allah.

Dalam kehidupan seorang mukmin, hati memiliki kedudukan yang sangat penting. Dari hatilah lahir keimanan, keikhlasan, kecintaan kepada Allah, ketundukan, dan semangat menjalankan ketaatan.

Karena itu, menjaga hati merupakan perkara yang tidak boleh diabaikan. Hati yang sehat akan mendorong pemiliknya mencintai kebenaran, mudah menerima nasihat, bersemangat melakukan kebaikan, dan menjauhi kemaksiatan. Sebaliknya, hati yang rusak akan membuat seseorang berat menjalankan ketaatan, mudah mengikuti hawa nafsu, dan lalai terhadap kehidupan akhirat.

Persoalannya, kerusakan hati tidak selalu datang melalui dosa-dosa besar. Ada pula kebiasaan yang tampak biasa dalam kehidupan sehari-hari, tetapi jika dilakukan secara berlebihan dapat melemahkan hati dan menghalangi perjalanan seorang hamba menuju Allah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Madarijus Salikin menjelaskan lima perkara yang termasuk perusak terbesar hati. Kelimanya adalah terlalu banyak bergaul, larut dalam angan-angan, bergantung kepada selain Allah, berlebihan dalam makan, dan terlalu banyak tidur.

Menurut Ibnul Qayyim, kelima perkara tersebut dapat memadamkan cahaya hati, melemahkan kekuatannya, mengendurkan tekad, serta menghambat perjalanan seorang hamba menuju Allah dan negeri akhirat.

Apa saja kelimat penyakit hati itu dan apa pula dampaknya?

1. Terlalu Banyak Bergaul, Hati Kehilangan Kejernihannya

Manusia memang makhluk sosial. Ia membutuhkan orang lain dalam kehidupan, baik untuk urusan keluarga, pekerjaan, pendidikan, maupun kepentingan masyarakat. Islam pun menganjurkan pergaulan dalam kebaikan, seperti shalat berjamaah, menghadiri majelis ilmu, menjalin silaturahmi, dan saling menasihati.

Namun, pergaulan yang berlebihan, terlebih dengan lingkungan yang buruk, dapat membawa dampak serius bagi hati.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa terlalu banyak bergaul dapat memenuhi hati dengan asap dari napas manusia hingga menghitamkannya. Hati menjadi tercerai-berai, dipenuhi kegelisahan, kesedihan, dan kelemahan.

Seseorang bisa kehilangan banyak waktu dan perhatian karena terlalu sibuk dengan urusan orang lain. Pikirannya tersita untuk memenuhi keinginan teman-temannya, mengikuti berbagai pembicaraan, dan mengurusi persoalan yang sebenarnya tidak berkaitan dengan kemaslahatan dirinya. Akibatnya, kepentingan yang lebih penting, terutama urusan akhirat, justru terabaikan.

Lebih berbahaya lagi jika pergaulan dibangun di atas kemaksiatan dan kepentingan duniawi. Hubungan yang tampak akrab selama masih memiliki kepentingan bersama dapat berubah menjadi permusuhan ketika kepentingan itu berakhir.

Allah Ta'ala menggambarkan penyesalan orang-orang yang salah memilih teman:

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَالَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا * يَاوَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا * لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

"Dan (ingatlah) pada hari ketika orang-orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, 'Aduhai, kiranya (dahulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Celakalah aku! Sekiranya dahulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrabku. Sungguh, dia telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur'an) ketika peringatan itu telah datang kepadaku.'" (QS. Al-Furqan: 27–29).

Allah Ta’ala berfirman,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67).

Karena itu, bukan berarti seorang muslim harus mengasingkan diri dari masyarakat. Ibnul Qayyim justru memberikan pedoman agar seseorang bergaul dalam perkara-perkara kebaikan, seperti shalat berjamaah, shalat Jumat, hari raya, haji, mengajarkan ilmu, berjihad, dan memberikan nasihat.

Adapun dalam keburukan dan perkara mubah yang berlebihan serta tidak bermanfaat, hendaknya ia menjaga jarak.

Intinya, pergaulan harus menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, bukan justru menyibukkan hati hingga lalai dari-Nya.

2. Angan-Angan Kosong, Amal Nyata Terabaikan

Ibnul Qayyim menggambarkan angan-angan kosong seperti mengarungi lautan yang tidak memiliki tepian. Lautan ini menjadi tempat orang-orang yang bangkrut, karena mereka menghabiskan waktu dengan membayangkan sesuatu yang belum tentu terwujud, tanpa melakukan usaha nyata untuk mencapainya.

Ada orang yang berangan-angan memiliki kekayaan, jabatan, kekuasaan, atau berbagai kenikmatan dunia. Dalam pikirannya, ia seolah-olah telah berhasil memperoleh semuanya. Ia merasa bahagia dengan keberhasilan yang sebenarnya hanya hidup dalam khayalan.Namun, ketika tersadar, tidak ada satu pun yang benar-benar ia miliki.

Angan-angan semacam ini berbahaya karena membuat seseorang merasa telah memperoleh sesuatu, padahal ia belum melakukan apa-apa. Waktu habis untuk berkhayal, sementara kesempatan beramal dan berusaha terabaikan.

Namun, tidak semua angan-angan tercela. Islam justru memberikan nilai kepada niat dan cita-cita baik.

Orang yang memiliki cita-cita tinggi akan mengarahkan angan-angannya kepada ilmu, iman, dan amal saleh yang mendekatkannya kepada Allah.

Rasulullah ﷺ  pernah menyebutkan tentang dua orang yang salah satunya diberi harta lalu menggunakannya untuk kebaikan, sedangkan yang lain tidak memiliki harta tetapi berharap dapat melakukan kebaikan yang sama.Beliau menjelaskan bahwa keduanya sama dalam pahala. (HR. Al-Tirmidzi).

Inilah perbedaan antara angan-angan yang menipu dan cita-cita yang menggerakkan amal. Angan-angan kosong membuat seseorang terlena dengan sesuatu yang belum dimiliki. Adapun cita-cita yang baik mendorongnya memperbaiki diri dan berusaha mewujudkan kebaikan.

Seorang mukmin tidak cukup hanya berharap menjadi orang saleh. Ia harus membuktikannya dengan amal nyata.

3. Bergantung kepada Selain Allah, Merusak Fondasi Tauhid

Ketergantungan hati kepada selain Allah dapat menghalangi seorang hamba dari kemaslahatan dan kebahagiaannya. Ketika seseorang menggantungkan harapan sepenuhnya kepada makhluk, harta, jabatan, atau kekuatan duniawi, ia berisiko melupakan Allah sebagai tempat bergantung yang sebenarnya. Dan menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, inilah perusak hati yang paling berbahaya.

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa orang yang menggantungkan hatinya kepada selain Allah akan diserahkan kepada sesuatu yang menjadi tempat ketergantungannya. Ia kehilangan kesempatan memperoleh kebaikan dari Allah karena terlalu berharap kepada selain-Nya. Namun, apa yang diharapkannya dari pihak yang menjadi tempat bergantung itu pun belum tentu diperoleh.

Makhluk memiliki keterbatasan. Harta dapat habis, jabatan dapat hilang, kekuasaan dapat runtuh, dan manusia yang selama ini diharapkan dapat pergi atau mengecewakan.

Allah Ta'ala berfirman:

لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا

"Janganlah engkau menjadikan tuhan yang lain di samping Allah, sehingga engkau menjadi tercela dan terhina." (QS. Al-Isra': 22).

Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ketergantungan kepada selain Allah merupakan fondasi kesyirikan. Karena itu, seorang mukmin harus membersihkan hatinya dari ketergantungan yang menjadikan makhluk sebagai sandaran utama.

Tentu saja, hal ini bukan berarti seorang muslim dilarang meminta bantuan orang lain, bekerja, mencari nafkah, atau memanfaatkan sebab-sebab duniawi. Semua itu dibolehkan. Namun, hati harus tetap bergantung kepada Allah. Makhluk hanyalah perantara, sedangkan Allah adalah satu-satunya tempat bersandar dan memohon pertolongan.

Jangan sampai kesibukan mencari sebab membuat seseorang melupakan Sang Pencpta sebab.

4. Berlebihan dalam Makan, Melemahkan Semangat Ibadah

Makanan merupakan kebutuhan manusia. Islam bahkan memerintahkan umatnya mengonsumsi makanan yang halal dan baik. Namun, makanan dapat menjadi perusak hati apabila diperoleh dari jalan yang haram atau dikonsumsi secara berlebihan.

Ibnul Qayyim membagi makanan yang merusak hati menjadi dua jenis.

Pertama, makanan yang haram karena zatnya atau karena hak orang lain. Contohnya bangkai, darah, daging babi, hewan buas yang bertaring, serta harta hasil pencurian, perampasan, dan pengambilan tanpa kerelaan pemiliknya.

Kedua, makanan halal yang dikonsumsi secara berlebihan hingga melampaui batas.

Makan terlalu banyak dapat memberatkan tubuh dan membuat seseorang malas menjalankan ketaatan. Setelah makan, ia disibukkan dengan urusan pencernaan, rasa berat pada tubuh, dan berbagai ketidaknyamanan akibat kekenyangan.

Lebih jauh, Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa kekenyangan memperkuat dorongan syahwat dan memperlebar jalan yang dilalui setan dalam diri manusia.

Rasulullah ﷺ  memberikan tuntunan agar seorang muslim tidak menjadikan perut sebagai wadah yang dipenuhi makanan tanpa kendali.

Beliau bersabda:

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ فَاعِلًا، فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ، وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ، وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

"Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Jika memang harus makan lebih banyak, hendaklah sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk napasnya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hadits ini mengajarkan keseimbangan dalam memenuhi kebutuhan jasmani. Makan bukan sekadar untuk memuaskan selera, melainkan untuk menjaga kekuatan tubuh agar dapat menjalankan kewajiban dan beramal saleh.

Karena itu, seorang mukmin hendaknya membiasakan diri makan secukupnya. Jangan sampai kenikmatan makanan justru mengurangi semangat beribadah.

5. Terlalu Banyak Tidur, Menyia-nyiakan Kesempatan Beramal

Tidur merupakan kebutuhan tubuh. Islam tidak mengajarkan manusia mengabaikan hak tubuhnya. Namun, tidur yang berlebihan dapat membawa dampak buruk: mematikan hati, memberatkan badan, menyia-nyiakan waktu, serta menumbuhkan kelalaian dan kemalasan.

Orang yang terlalu banyak tidur akan kehilangan banyak kesempatan untuk melakukan kebaikan. Waktu yang seharusnya dapat digunakan untuk membaca Al-Qur'an, berzikir, menuntut ilmu, bekerja, dan membantu sesama justru habis untuk tidur.

Ibnul Qayyim juga memberikan perhatian khusus terhadap kebiasaan tidur setelah shalat Subuh hingga matahari terbit. Menurutnya, waktu tersebut merupakan kesempatan yang sangat berharga bagi orang-orang yang menempuh perjalanan menuju Allah.

Ia menyebut waktu pagi sebagai permulaan siang sekaligus kuncinya. Waktu itu memiliki keistimewaan dalam hal keberkahan dan perolehan rezeki.

Selain itu, ia juga menyebut tidur pada awal malam setelah matahari terbenam sebagai tidur yang tidak bermanfaat dan tidak disukai Rasulullah ﷺ.

Meski demikian, kebutuhan tidur setiap orang perlu diperhatikan. Ibnul Qayyim juga mengingatkan bahwa memaksakan diri mengurangi tidur secara berlebihan dapat menimbulkan gangguan dan penyakit. Tubuh memiliki hak yang harus dipenuhi.

Karena itu, yang dituntut bukanlah meninggalkan tidur, melainkan mengaturnya secara seimbang. Tidur secukupnya agar tubuh kembali bugar, tanpa menjadikannya alasan untuk bermalas-malasan dan menyia-nyiakan waktu.

Menjaga Hati, Menjaga Perjalanan Menuju Allah

Lima perusak hati yang dijelaskan Ibnul Qayyim memberikan pelajaran penting bahwa menjaga hati tidak cukup hanya dengan menjauhi kemaksiatan yang tampak. Seorang muslim juga perlu memperhatikan kebiasaan hidup, lingkungan pergaulan, angan-angan, ketergantungan, pola makan, dan waktu tidurnya.

Kelima perkara tersebut dapat menggerogoti kekuatan hati secara perlahan. Seseorang mungkin tidak menyadari bahwa terlalu banyak bergaul telah menyita waktunya, angan-angan telah melalaikannya dari amal, ketergantungan kepada makhluk telah melemahkan tawakalnya, kekenyangan telah memberatkan ibadahnya, dan tidur berlebihan telah menyia-nyiakan umurnya.

Padahal, tujuan utama kehidupan seorang mukmin bukan sekadar menikmati kehidupan dunia, melainkan mengenal Allah, mencintai-Nya, mengingat-Nya, dan mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan-Nya.

Ibnul Qayyim mengutip perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah:

إِنَّ فِي الدُّنْيَا جَنَّةً، مَنْ لَمْ يَدْخُلْهَا لَمْ يَدْخُلْ جَنَّةَ الْآخِرَةِ

"Sesungguhnya di dunia ini terdapat surga. Barang siapa tidak memasukinya, niscaya ia tidak akan memasuki surga di akhirat."

Surga dunia yang dimaksud adalah manisnya iman, kecintaan kepada Allah, ketenteraman dengan zikir, dan kebahagiaan dalam ketaatan kepada-Nya.

Karena itu, jangan biarkan lima kebiasaan tersebut merampas kenikmatan iman dari hati kita. Jagalah hati dengan memperbaiki pergaulan, mengarahkan cita-cita kepada kebaikan, memurnikan ketergantungan hanya kepada Allah, mengendalikan makan, dan mengatur waktu tidur.

Sebab, hati yang sehat akan mengantarkan pemiliknya kepada kehidupan yang baik di dunia dan kebahagiaan abadi di akhirat. Wallahu a'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!

Aqidah lainnya:

+Pasang iklan

Gamis Syari Murah Terbaru Original

FREE ONGKIR. Belanja Gamis syari dan jilbab terbaru via online tanpa khawatir ongkos kirim. Siap kirim seluruh Indonesia. Model kekinian, warna beragam. Adem dan nyaman dipakai.
http://beautysyari.id

Cari Obat Herbal Murah & Berkualitas?

Di sini tempatnya-kiosherbalku.com. Melayani grosir & eceran herbal dari berbagai produsen dengan >1.500 jenis produk yang kami distribusikan dengan diskon sd 60% Hub: 0857-1024-0471
http://www.kiosherbalku.com

Dicari, Reseller & Dropshipper Tas Online

Mau penghasilan tambahan? Yuk jadi reseller tas TBMR. Tanpa modal, bisa dikerjakan siapa saja dari rumah atau di waktu senggang. Daftar sekarang dan dapatkan diskon khusus reseller
http://www.tasbrandedmurahriri.com

NABAWI HERBA

Suplier dan Distributor Aneka Obat Herbal & Pengobatan Islami. Melayani Eceran & Grosir Minimal 350,000 dengan diskon s.d 60%. Pembelian bisa campur produk >1.300 jenis produk.
http://www.anekaobatherbal.com

Lima Tahun Mangkrak, Masjid di Pelosok ini Mengenaskan. Ayo Bantu.!!

Lima Tahun Mangkrak, Masjid di Pelosok ini Mengenaskan. Ayo Bantu.!!

Nasib masjid di Kampung Cilumbu ini sungguh mengenaskan. Lima tahun mangkrak, kini nyaris tak berbentuk masjid, dipenuhi rumput liar, berlumut, dan menghitam terpapar panas dan hujan....

Palestina Masih Berduka, Ayo Ulurkan Tangan Bantu Mereka

Palestina Masih Berduka, Ayo Ulurkan Tangan Bantu Mereka

Sahabat, Ulurtangan mari kirimkan dukungan terbaikmu untuk warga Palestina di Gaza demi menguatkan mereka menghadapi situasi mencekam ini. Mari dukung mereka dengan berdonasi dengan cara:...

Open Donasi Wakaf Pembangunan Rumah Qur'an & TK Islam Terpadu An Najjah di Jonggol

Open Donasi Wakaf Pembangunan Rumah Qur'an & TK Islam Terpadu An Najjah di Jonggol

Saat ini, Ulurtangan bersama Yayasan An Najjahtul Islam Jonggol sedang merintis pembangunan Rumah Qur’an dan Taman Kanak-kanak Islam Terpadu (TKIT) An Najjah dan Gedung Majelis Taklim di Jonggol,...

Ulurtangan Bersama PDUI Kota Bekasi Safari Wakaf Qur'an dan Tebar Sembako ke Pelosok Negeri

Ulurtangan Bersama PDUI Kota Bekasi Safari Wakaf Qur'an dan Tebar Sembako ke Pelosok Negeri

Mari bergabung dalam memperkuat jaringan kebaikan di pelosok negeri dengan Wakaf Al-Qur'an. Jangan ragu untuk menjadi bagian dari kebaikan ini. Abadikan harta dengan wakaf Al-Qur'an dan saksikan...

Bantu Naura, Balita Hebat Sembuh Dari Tumor Pembuluh Darah

Bantu Naura, Balita Hebat Sembuh Dari Tumor Pembuluh Darah

Hidup Naura Salsabila dipenuhi dengan rintangan yang sangat berat. Meskipun baru berusia sepuluh bulan, bayi yang imut ini harus menghadapi penyakit yang dahsyat, yaitu tumor pembuluh darah berukuran...

Latest News

MUI

Sedekah Al Quran

Sedekah Air untuk Pondok Pesantren

Must Read!
X