Senin, 13 Muharram 1448 H / 29 Juni 2026 13:45 wib
129 views
Mencintai Kebaikan untuk Sesama, Bukti Kesempurnaan Iman
Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam tercurah kepada Rasulillah -Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan sahabatnya.
Di antara hadits yang menjadi landasan utama dalam membangun ukhuwah Islamiyah adalah sabda Rasulullah ﷺ:
لا يُؤْمِنُ أحدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini bukan sekadar mengajarkan akhlak yang baik, tetapi juga menunjukkan salah satu ukuran kesempurnaan iman seorang muslim.
Para ulama menjelaskan bahwa ungkapan "tidak beriman" dalam hadits tersebut bukan berarti seseorang keluar dari Islam atau kehilangan pokok keimanannya. Maksudnya adalah ia belum mencapai iman yang sempurna. Kesempurnaan iman baru akan terwujud apabila seorang muslim memiliki rasa cinta yang tulus kepada saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
Kecintaan itu mencakup seluruh bentuk kebaikan, baik dalam urusan agama maupun dunia. Ia menginginkan saudaranya memperoleh hidayah, ilmu yang bermanfaat, kesempatan beribadah, akhlak yang mulia, rezeki yang halal, kesehatan, keamanan, dan berbagai nikmat lainnya sebagaimana ia menginginkannya bagi dirinya sendiri.
Sebaliknya, ia juga membenci apabila saudaranya tertimpa keburukan sebagaimana ia membenci keburukan itu menimpa dirinya. Walaupun hal ini tidak disebutkan secara eksplisit dalam lafadz hadits, para ulama menjelaskan bahwa makna tersebut telah tercakup di dalamnya.
Imam al-Kirmani rahimahullah -seperti yang dikutip Al-Hafidz Ibn Hajar al-'Asqalani dalam Fath al-Bari-,berkata,
وَمِنَ الْإِيمَانِ أَيْضًا أَنْ يُبْغِضَ لِأَخِيهِ مَا يُبْغِضُ لِنَفْسِهِ مِنَ الشَّرِّ، وَلَمْ يَذْكُرْهُ؛ لِأَنَّ حُبَّ الشَّيْءِ مُسْتَلْزِمٌ لِبُغْضِ نَقِيضِهِ، فَتَرَكَ التَّنْصِيصَ عَلَيْهِ اكْتِفَاءً
"Termasuk konsekuensi iman pula adalah seseorang membenci bagi saudaranya apa yang ia benci bagi dirinya sendiri berupa keburukan. Hal itu tidak disebutkan secara eksplisit dalam hadis, karena mencintai sesuatu sudah mengandung konsekuensi membenci lawannya. Oleh sebab itu, penyebutan secara tegas ditinggalkan karena makna tersebut telah tercakup."
Karena itu, apabila seorang muslim melihat saudaranya memiliki kekurangan dalam urusan agama, ia tidak membiarkannya. Ia berusaha memperbaikinya dengan nasihat, bimbingan, dan cara yang bijaksana. Sebaliknya, jika melihat saudaranya berada di atas kebaikan, ia akan menguatkannya, membantu agar tetap istiqamah, serta memberikan nasihat yang bermanfaat, baik dalam urusan agama maupun urusan dunianya.
Wajib Mencintai Kewajiban Bagi Sesama Muslim
Hadits ini juga menunjukkan bahwa mencintai kebaikan bagi sesama muslim merupakan suatu kewajiban. Hal itu dipahami dari sabda Nabi ﷺ yang menafikan kesempurnaan iman bagi orang yang tidak memiliki sifat tersebut. Dengan kata lain, seorang mukmin tidak cukup hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap kebahagiaan dan kebaikan saudara-saudaranya.
Sebaliknya, segala bentuk perbuatan yang bertentangan dengan rasa cinta itu diharamkan, seperti menipu, berkhianat, menggunjing (ghibah), dengki (hasad), menyakiti jiwa seorang muslim, merampas hartanya, ataupun mencemarkan kehormatannya. Semua itu merusak ukhuwah dan bertentangan dengan kesempurnaan iman.
Bahaya Penyakit Hasad
Di antara penyakit hati yang paling berbahaya adalah hasad. Orang yang hasad merasa tidak senang apabila orang lain memperoleh nikmat atau bahkan menyamainya dalam suatu keutamaan. Ia ingin menjadi satu-satunya yang memiliki kelebihan sehingga merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Padahal iman mengajarkan sikap yang sebaliknya. Seorang mukmin yang benar akan merasa senang apabila saudaranya memperoleh karunia dari Allah. Ia berharap seluruh kaum muslimin mendapatkan berbagai kebaikan sebagaimana Allah telah memberikannya kepadanya. Hati seperti ini hanya akan dimiliki oleh orang yang bersih dari kedengkian, kebencian, dan tipu daya terhadap sesama muslim.
Oleh sebab itu, hadits yang agung ini mengajarkan bahwa kesempurnaan iman tidak hanya tampak pada banyaknya ibadah yang dilakukan, tetapi juga tercermin dari kebersihan hati dan ketulusan dalam mencintai kebaikan bagi sesama. Semakin bersih hati seseorang dari iri dan dengki, semakin sempurna pula imannya, dan semakin kokoh pula persaudaraan di tengah kaum muslimin. Wallahu a’lam. [PurWD/voa-islam.com]
Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!